Kupinang Kau Untuk Suamiku 3
Aku merasa seperti dua kapal yang berlayar di lautan luas, aku dan Nizam dipisahkan oleh arus waktu yang terus mengalir deras. Meski kami berusaha bertahan di tengah badai kesibukan dan jarak yang membentang, gelombang kehidupan tetap memisahkan kami. Komunikasi kami menjadi semakin jarang, seperti angin yang hanya sesekali berhembus di tengah samudera kesibukan.
Seiring berjalannya waktu, percakapan kami semakin memudar. Kami belum pernah membicarakan komitmen, dan kesibukan kami masing-masing menyita waktu. Aku fokus dengan studiku di Kairo, sementara Nizam yang sudah lebih dulu lulus S1, kini melanjutkan S2 di Jakarta. Nizam sudah menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta, dan juga seorang pengusaha yang sukses di bidang jasa notaris bersama teman-teman seperjuangannya.
Empat tahun sudah berlalu, aku akhirnya menuntaskan kuliahku di Kairo. Kembali ke tanah air dengan membawa senyuman dan masa depan yang cerah, aku langsung diminta untuk mengajar sebagai dosen Bahasa Arab di Universitas Islam Indonesia (UII), yang tidak jauh dari rumah orang tuaku di Sleman. Meski aku sudah menjadi dosen di UII, hatiku tetap terpaut pada Pondok Pesantren Al-Malik milik keluargaku. Setiap Sabtu dan Minggu, aku tetap mengajar di sana.
Kesibukan mengajar membuatku lupa pada seseorang yang selama ini begitu kurindukan. Bertahun-tahun tanpa komunikasi dengan Nizam, perasaan yang pernah ada seperti terabaikan. Namun, kehadiran Mahardhika di rumah kami di Ponpes Al-Malik, Jawa Tengah, menjadi kejutan yang tidak kuduga. Ketika aku membawakan minuman untuk tamu yang datang, hatiku terperanjat melihat Mahardhika duduk di antara orang tuaku dan orang tuanya. Wajahnya yang begitu kukenal kembali mengisi pikiranku dengan kenangan masa lalu kami di Kairo.
“Al…apa kabar?” suara Mahardhika memecah lamunanku, mengembalikanku dari kenangan masa lalu.
“Mas Dhika… kok bisa ada di sini?” tanyaku tersenyum penuh tanya, tak menyangka sahabatku ini bisa tahu alamat rumahku.
Mahardhika adalah kakak tingkatku di Kairo. Ia tampan, dengan mata bulat tajam seperti elang, tubuh tinggi kekar, rambut ikal, dan hidung mancung khas keturunan Arab. Ternyata, ia adalah putra Pak Yai Habibi Albantani, sahabat dekat abiku yang juga memiliki pondok pesantren di Jakarta.
Kedatangan keluarga Mahardhika ke Ponpes Al-Malik bukan sekadar silaturahmi. Mereka datang dengan niat memperkenalkan putra satu-satunya dengan aku. Pak Yai Akbar, abiku, merasa tersanjung dan senang akan kedatangan sahabat lamanya. Apalagi, niat mereka adalah menjodohkan aku dengan Mahardhika. Abiku tahu aku belum punya calon pendamping. Harapannya pada Nizam tak pernah terwujud, apalagi sejak komunikasi kami menghilang begitu saja.
Kabar itu langsung sampai ke telingaku. Seketika, bayangan Nizam muncul di pelupuk mata. Hatiku menangis, bingung harus berbuat apa. Bertahun-tahun aku menjaga hatiku hanya untuk Nizam, namun kenyataan mengharuskan aku menerima kenyataan. Aku memilih diam, mendengarkan keputusan orang tuaku. Dalam ketaatanku pada mereka, aku rela mengabaikan perasaanku. Aku menerima perjodohan ini, meski hatiku masih berat melepaskan Nizam yang sejak dulu aku kagumi.
Berbeda dengan Mahardhika, ia menyetujui perjodohan ini dengan sepenuh hati. Sejak di Kairo, ia sudah mengagumi aku, dan kami memang sudah saling mengenal. Bagi kami, tidak ada alasan untuk menolak perjodohan ini, karena kami sama-sama belum memiliki calon pendamping.
Persiapan pernikahan kami berlangsung cepat. Dalam satu bulan, semuanya sudah siap. Pernikahan kami dilaksanakan dengan khidmat di gedung pertemuan Ponpes Al-Malik, disaksikan lebih dari lima ratus tamu undangan, termasuk para ustadz, kiyai, tokoh masyarakat, dan santri dari lingkungan Ponpes Al-Malik.
Saat itu, Nizam dan orang tuanya juga hadir. Pandangan mata Nizam tak lepas dariku saat aku dan Mahardhika resmi menjadi suami istri. Ketika Nizam menghampiri untuk memberikan selamat, air mata tak kuasa kutahan, namun segera kuseka dengan tisu. Aku tak ingin suamiku curiga. Nizam pun tampak berusaha keras menahan air matanya.
Syukurlah, Mahardhika tak menyadari perubahan di diriku, juga tak tahu bahwa Nizam adalah pria yang pernah mengisi hatiku. Ia sibuk bersalaman dengan para tamu dengan senyum bahagia.
Aku tak mampu berkata-kata. Hanya mataku yang bicara. Nizam pun tak ingin merusak kebahagiaanku, ia hanya tersenyum dan mengucapkan doa tulus untukku. Ketika Umi Nizam menyalami dan memelukku, aku berbisik, “Umi, maafkan Alifa belum bisa menjadi menantu Umi.”
Umi Nizam membalas bisikanku dengan lembut, “Tidak apa-apa, sayang. Kamu tetap anak Umi. Semoga bahagia dan sakinah bersama suami.”
Setelah acara resepsi, Nizam termenung di ruang tengah dekat kamarnya. Ibunya menghampiri dan memeluknya erat. Nizam sangat terpukul, tak menyangka akan sesakit ini melihat aku, wanita yang dicintainya, menikah dengan orang lain.
“Yang sabar, Nak. Alifa bukan jodohmu. Ikhlaskan, ya...” suara lembut Umi menenangkan hatinya.
“Iya, Umi. Ini salahku. Aku terlalu lama tak menghubunginya karena sibuk dengan usaha dan kuliah S2.”
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ikhlaskan saja, mungkin ini yang terbaik untukmu dan Alifa.”
Nizam menatap hampa, air mata menggenang di matanya. “Aku tak bisa melupakan tatapan mata Alifa dan air matanya tadi, Umi. Seolah dia menamparku. Aku menyesal, Umi, sudah mengecewakannya hingga dia mau dijodohkan.”
Umi menepuk punggung Nizam, “Sabar ya, Nak. Semua ini kehendak Allah.”
Di kamarku, aku duduk sendiri, menangis dalam diam. Mahardhika masih bersama para tamu dari Jakarta. Pertemuan dengan Nizam tadi benar-benar mengguncang hatiku. Impian untuk bersanding dengan Nizam sirna. Aku hanya bisa pasrah, menerima takdir yang digariskan untukku.
Di tengah kesedihanku, aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini adalah yang terbaik. Mungkin, Tuhan punya rencana lain yang lebih indah dari yang bisa kupikirkan. Dan meski hati ini terasa sakit, aku percaya bahwa kebahagiaan akan datang pada waktunya.
Aku berdiri di tengah gemerlap pesta resepsi pernikahan yang telah diatur orang tua. Bagi mereka, pernikahan ini adalah tarian takdir di atas panggung cinta. Seperti untaian sutra yang dirajut oleh masa lalu, pernikahan ini adalah simfoni antara tradisi dan keinginan. Aku merasa seperti bunga yang mekar di taman kehidupan, menjadi bagian dari perpaduan dua jiwa yang dipersatukan oleh benang merah keluarga. Meskipun awalnya pernikahan ini terpahat oleh tangan-tangan yang berbeda, saat kami mengucap janji suci di depan penghulu, kami membentuk ukiran baru dalam sejarah keluarga, menciptakan mahakarya cinta yang abadi.
Resepsi pernikahan kami sudah usai, para tamu undangan sudah pergi, dan suasana pondok pesantren kembali sepi. Mahardhika, suamiku, baru saja selesai berbincang dengan ayahku dan kini menuju kamar pengantin yang telah disiapkan. Aku sudah berbaring di atas kasur, hijab masih melekat di kepala, seolah menjadi tameng untuk hatiku yang bergolak. Aku tahu Mahardhika memandangiku. Aku bisa merasakan tatapan lembutnya. Entah kenapa, kehadirannya memberi rasa nyaman meskipun hatiku masih terguncang oleh kenangan masa lalu.
Aku ingat saat kuliah di Kairo. Mahardhika sudah ada di sana, hadir dalam setiap langkahku. Aku tahu dia mengagumiku, tapi aku selalu menghindar setiap kali dia menyinggung masalah hati. Aku tidak pernah membuka cerita tentang siapa pun yang pernah mengisi hatiku, termasuk Nizam. Ketika akhirnya Mahardhika datang melamarku, aku terkejut. Ayahku dan ayahnya adalah sahabat, dan ternyata, mereka sudah lama merencanakan pernikahan ini. Saat namaku disebut, Mahardhika tidak ragu. Ia langsung setuju untuk melamarku. Mungkin ini yang disebut jodoh, impian Mahardhika untuk menjadikanku bidadari di hatinya kini menjadi nyata.
Malam ini, seharusnya aku menjadi milik Mahardhika sepenuhnya, tapi hatiku masih terbelenggu oleh bayang-bayang Nizam. “Astaghfirullah,” gumamku, “Ya Allah, maafkan aku. Di malam pengantinku, aku malah mengecewakan suamiku. Apa yang harus aku lakukan sementara hatiku masih dikuasai oleh Nizam?” Air mataku tak bisa kubendung. Aku memohon dalam hati, “Ya Allah, bantu aku untuk membuka hati ini sepenuhnya untuk suamiku. Jauhkan Nizam dari pikiranku. Aku ingin menjadi istri yang shalehah, yang sepenuhnya mencintai suaminya.”
Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan lembut bibir Mahardhika di keningku. Aku terbangun dan menatapnya. Dia memandangiku dengan cinta yang tulus, dan aku merasa bersalah. Mahardhika, pria yang sudah lama mencintaiku, kini menjadi suamiku. Aku melihat wajahnya yang penuh harap dan rasa sayang. “Maaf Mas, sudah mengganggu tidurmu. Al, kamu kenapa? Kok matamu sembab?” tanyanya lembut. Aku hanya bisa menatapnya diam. Aku tidak ingin dia tahu betapa hancurnya hatiku. Mungkin dia paham. Mahardhika kembali berbaring tanpa banyak bicara, memberiku ruang untuk menenangkan diri.
Kami berbaring dengan punggung saling beradu. Di dalam hatiku berkecamuk, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa mencintai suamiku sepenuhnya ketika masih ada Nizam di hatiku? “Ya Allah, bantu aku,” bisikku dalam hati, “Hilangkan rasa ini, aku ingin mencintai Mahardhika, suamiku, yang kini menjadi bagian dari hidupku.” Aku berharap doa-doa ini bisa meredakan hatiku yang sedang bimbang.
Mahardhika mungkin merasa bahwa aku masih belum sepenuhnya hadir dalam hubungan ini. Aku bisa merasakannya dari tatapan matanya yang seakan bertanya-tanya. Tapi dia tidak mendesakku. Dia sabar, dan mungkin itulah yang membuatku merasa tenang. Aku tahu pernikahan ini adalah awal dari perjalanan panjang. Kami harus saling mengenal lebih dalam, saling membuka hati, dan menumbuhkan cinta yang sesungguhnya.
Pagi itu, suara jam beker berdering membangunkan kami untuk salat tahajud. Seketika mataku terbelalak dan merasakan ada sesuatu yang membuatku tak bisa bernafas. Ternyata Mahardhika memelukku erat, seolah takut kehilangan. “Mas... aku mau siap-siap sholat,” kataku pelan. Dia tersenyum dan melepaskanku, membiarkanku pergi. Dia pun mengikutiku untuk berwudu. Setelah sholat, kami duduk bersama. Aku masih mencoba mengatasi kegundahan hatiku. Mahardhika memandangiku dengan tatapan penuh cinta. “Al, kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku,” ucapnya. Aku hanya bisa tersenyum, mencoba meyakinkan diriku bahwa pernikahan ini adalah yang terbaik. Aku akan berusaha mencintai Mahardhika sepenuh hati, belajar dari waktu ke waktu untuk menjadi istri yang baik.
Dengan doa dan harapan, aku ingin cinta kami tumbuh seperti bunga di taman, indah dan penuh warna. Aku percaya, dengan kesabaran dan ketulusan hati, cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri. Sebab, cinta adalah tentang menerima dan memberi, tentang memahami dan mempercayai, dan aku ingin belajar untuk mencintai suamiku seperti dia mencintaiku, tanpa syarat dan tanpa batas.
Suara azan Subuh menggema lembut, membangunkan hatiku yang terlelap dalam kegundahan. Mahardhika sudah lebih dahulu bergegas menuju masjid, yang hanya sepelemparan batu dari rumah kami. Setelah salat, ia mengikuti kajian subuh bersama para santri, disampaikan langsung oleh Yai Akbar, Abiku. Sementara itu, aku dan Umi sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Namun, tanganku bergerak otomatis memotong-motong sayuran, sementara pikiranku melayang entah ke mana.
Pandangan mataku yang kosong tak luput dari perhatian Umi. “Ndo… masih mikirin Nizam ya?” tanyanya lembut, namun menusuk tepat di pusat hatiku.
“Gak, Umi,” jawabku tegas, berusaha mengelabui perasaanku sendiri. Tapi mata ini, tak bisa berbohong.
Umi menghela napas, seakan merasakan badai kecil yang berkecamuk dalam dadaku. “Umi tahu, Ndo. Apa yang Ndo rasakan saat ini. Lupakan Nak Nizam... Bahagiamu sekarang bersama Nak Dhika, bukan Nizam. Fokuslah mengurus suamimu, jadilah istri yang solehah. Ikhlaskan semuanya ya, Ndo...” Suara Umi bergetar pelan, seperti menyampaikan harapan yang tulus dari lubuk hatinya.
“Insya Allah, Umi,” jawabku dengan senyum yang dipaksakan. “Alifa akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar mencintai Mas Dhika.” Aku menatap wajah Umi, mencari kekuatan dalam tatapannya.
“Umi doakan yang terbaik untuk kalian,” ucap Umi sambil memelukku erat.
“Aamiin,” sahutku, meski hatiku masih terasa terombang-ambing.
Suara Mahardhika terdengar dari dapur, sedang berbicara dengan orang tuanya melalui telepon. “Iya, Mah. Insya Allah, sore ini kami berangkat,” katanya. Rencananya, aku dan Mahardhika akan berangkat ke Lombok sore ini, bulan madu sebelum kami menetap di Jakarta. Dua koper besar sudah disiapkan di sudut kamar, menunggu untuk dijemput oleh travel kami.
Sepanjang jalan menuju Lombok Aku berusaha bersikap seperti biasa pada Mahardhika, seperti ketika kami masih sahabat di masa kuliah. Senyumannya yang tulus selalu membuatku merasa diterima. Mahardhika tampak bahagia, melihatku kembali tersenyum dan ceria seperti biasanya.
Cahaya malam yang diwarnai lampu-lampu gemerlapan menghiasi kota Lombok, membuatku kagum berdecak, ini pertama kalinya aku singgah di Pulau Seribu Masjid yang merupakan julukan Pulau Lombok di mana banyak masjid yang berdiri di pulau ini. Namun, kebanyakan orang mengenal pulau ini adalah pulau eksotis di Indonesia, yang tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang mempesona, tetapi juga dengan kekayaan budaya adat yang memikat.
Kami memilih tempat honeymoon di The Oberoi Beach Resort sebuah lokasi yang menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang romantis. dengan interior tradisional yang sangat berkesan. Resort ini terletak di tepi pantai yang tenang dengan pasir putih yang lembut, dikelilingi oleh pepohonan kelapa yang melambai-lambai, dan air laut yang berwarna biru jernih yang menenangkan.
Setibanya di sana, dan waktu pun sudah malam kami rehat sejenak, merebahkan tubuh kami untuk melepaskan lelah. Namun, lelah ini menyatu dengan kegundahan rasa yang tak menentu. Tak berasa mata ini terbuai dalam mimpi, Mahardhika pun ikut terlena di atas bantal, kami berdua tertidur pulas hingga waktu salat tahajud pun tiba, dan tubuh ini terbangun seketika, acapkali jam beker itu berdering tanda pengingatku untuk melakukan me time bersama kekasih hatiku Rabb-ku. Kulangkahkan kaki ini menuju toilet untuk berwudu sejenak dan menyiapkan alat perlengkapan ibadahku. Lalu, aku bentangkan sajadahku menghadap kiblat, untuk memenuhi panggilan-Mu Rabb, melangitkan doa dan mencurahkan isi hatiku.
Dengan khusuk kusebut nama-Mu ya Rabb, kulantunkan lafad istighfar 1000 kali meminta ampunanmu, dan kubasahi bibir ini dengan Solawat Nabi. Lalu, di atas sajadah itu, aku duduk, membaca Al-Quran, mencari ketenangan dalam ayat-ayat-Nya. Tanpa kusadari, Mahardhika memandangku dengan senyum penuh kebanggaan, matanya berbinar melihatku nampak di dalam pikiannya aku istri yang sholehah, yang tak pernah jauh dari pedoman hidupnya. Dia duduk di atas kasur, menungguku selesai mengaji. Setelah aku tahu suamiku menungguku, aku segera menutup Al-Quran, aku membuka mukena dan membiarkan rambutku terurai. Aku berdiri di hadapannya, berusaha menampilkan senyum terbaikku.
“Masya Allah, istriku cantik dan sholehah. Orang tuaku memang tidak salah pilih. Alhamdulillah, Mas beruntung memilikimu, Alifa,” katanya sambil meraih tanganku, mengajakku duduk di sampingnya. Dia membelai rambutku dengan lembut, sementara aku menunduk, takut matanya akan menangkap jejak sembab di mataku, bekas tangisan panjang semalam.
“Hai, mana Alifa yang Mas kenal? Biasanya kalau ketemu Mas, selalu tersenyum. Ada apa dengan istriku, kok matanya sembab?” tanyanya lembut, penuh perhatian.
“Gak papa, Mas,” jawabku dengan suara bergetar. “Aku menangis bukan karena sedih, tapi terharu. Jodohku ternyata sahabatku waktu kuliah di Kairo. Masya Allah, gak nyangka ya, Mas...” Aku mencoba tersenyum, menyembunyikan kesedihan yang masih menggantung.
“Yakin nih cuma karena itu?” tanyanya ragu, jemarinya menggeser rambut yang menutupi wajahku, menatap mataku dalam-dalam.
“Yakin, dong, Mas. Mas gak percaya ya?” Aku memaksakan senyum, berusaha mencairkan suasana.
Mahardhika tersenyum, lalu menggenggam kedua tanganku dengan lembut. “Insya Allah, Mas percaya dengan istri Mas yang sholehah. Mas hanya nggak mau istri Mas bersedih. Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita ya. Sekarang, Mas bukan hanya sahabatmu, tapi juga suamimu, teman hidupmu.”
“Iya, Mas,” sahutku dengan senyum yang masih terasa dipaksakan.
“Nah, gitu dong, tersenyum. Sejujurnya, Mas bahagia bisa menikah denganmu. Sudah lama Mas memendam rasa, Mas mengagumimu sejak pertama kali kita bertemu.”
“Masa sih, Mas? Kok aku gak tahu ya? Perasaan Mas biasa aja,” godaku sambil tersenyum tipis.
“Hmm... ya gimana Mas mau terus terang, kamu menghindar terus kalau diajak berduaan.”
“Kan bukan muhrim, Mas, hehe...” jawabku, sedikit berkelakar.
“Itulah yang Mas tambah kagum,” katanya sambil menghela napas ringan.
“Hmmm…Sudah jam 2. Aku mau tidur lagi, ya Mas,” ucapku sambil tersenyum.
“Yakin, mau tidur?” godanya sambil tertawa kecil.
Aku menutup mulut dengan tanganku, tertawa malu, lalu bergeser ke ujung dipan, memeluk bantal. Mahardhika mendekat, merengkuhku dalam pelukan hangat, aku hanya terdiam kaku, tapi jantungku berdetak sangat kencang, rasa ketakutan menghantuiku. Aku berusaha menahan diri tidak membalasnya, aku takut dia memaksaku malam ini juga, dan aku belum siap sepenuhnya melayaninya layaknya sebagai istrinya. Untungnya, Mahardhika sangat memahamiku, dia hanya memelukku dari belakang dan mencium keningku, lalu kami tertidur sampai adzan subuh tiba.
~~~ ~~~ ~~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Baru lihat judulnya, aku sangat tertarik untuk membaca nya. Bagus cerpen nya Bu Zakiyah
Makasih Pak...
Makasih Pak...