Yunita Kwartarani M.Pd

Saya adalah guru biasa yang menyukai dunia tulis menulis. Bagi saya menulis adalah menghidupkan hati. Menulis mampu meninggalkan kenangan untuk anak saya maupun...

Selengkapnya
Navigasi Web
Siswa Berkarya di Tengah Pandemi
Siswa Berkarya di Tengah Pandemi

Siswa Berkarya di Tengah Pandemi

Siswa Berkarya di Tengah Pandemi

Oleh : Yunita Kwartarani

Masa pandemi datang, memaksa saya dan semua orang untuk tetap di rumah aja. Melakukan pekerjaan dari rumah. Bosan atau suntuk, sudah tak boleh ada dalam pikiran kita. Nikamati dan enjoy aja gaesss.

Bulan September, saya dapat panggilan dari Direktorat SD Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan untuk megikuti pembuatan naskah video pembelajaran SD kelas tinggi. Satu kesempatan yang luar biasa. Kegiatan ini berlanjut terus setiap bulannya, sampai pada finalisasi naskah. Setelah selesai finalisasi naskah, masuk ke tahap pembuatan video yang dikerjakan oleh tim dari Pusdatin Kemendikbud. Untuk penulis lain bisa rehat dulu sampai pada review video hasil tulisannya di pertengahan november.

What about me? Saya tetap bekerja, Alhamdulillah saya dimintai bantuan oleh dua sutradara dari Pusdatin untuk mencari pemain dari beberapa naskah yang mereka pegang. Saya sangat antusias menyambut keinginan sutradara, yang terbayang dalam pikiran saya adalah saya akan mencari anak-anak yang mau berkarya di masa pandemi.

Ibu Tuti sebagai sutradara meminta saya mencari dua siswa yang bisa menggambar dan seorang pelukis. Pencarian di mulai....dengan menggunakan kaca pembesar, saya merambah ke google classroom. Mencari hasil karya siswa siswi saya. Akhirnya saya lihat gambar milik Alilla dan saya hubungi orang tua Alila siswi kelas 4C. Untuk pemain laki-laki, saya minta bantuan sahabat saya, Ibu Uun. Beliau memberikan nama Aziyad, dan orang tua setuju. Selanjutnya pencarian pelukisnya, dan taraaaa sayapun menemukan pelukisnya, Mas Irfan namanya.

18 Oktober, shooting pertama dimulai, Saya membawa Alilla , Aziyad, dan Mas Irfan ke kantor Pusdatin. Shooting di lakukan di pendopo kantor Pusdatin dan atas izin Allah SWT shooting berjalan lancar. Hujanpun turun setelah shooting selesai. Alilla dan Aziyad bisa memerankan dengan baik. Shooting tahap pertama selesai. Sutradara memainkan perannya dengan sangat baik, mengarahkan dan mengayomi pemain cilik sehingga mereka bisa berakting tanpa takut dan canggung, terima kasih teh Tuti.

Mas Fikri, sutradara kedua, meminta saya menyiapkan dua belas pemain sesuai empat naskah yang ia pegang. Girang luar biasa hati saya. Ini kesempatan saya terus memunculkan bakat siswa. Pencarian dimulai dengan meminta bantuan beberapa guru kelas 6 (Bu Mindri, Bu Selvi, Bu Marni, dan Bu Novi) untuk mengirimkan video siswa-siswinya untuk mengikuti casting. Akhirnya sutradara memilih 12 anak. Penjadwalan shooting oleh sutradara saya infokan ke semua orang tua. Shooting dilaksanakan tetap mengikuti protokol kesehatan, semua crew di swab sebelum memulai shooting, selalu menggunakan masker, semua anak-anak yang terlibat juga di rapid, bahkan ada juga siswa yang di swab. Tante Cindy sebagai perias wajah pemain, meminta orang tua membawa bedak untuk anak-anaknya, agar tak bercampur-campur antar pemain, begitu hati-hati pelaksanaan shootng ini. Shooting bertambah meriah dengan kelucuan dari Tante Cindy sebagai perias wajah pemain, thanks ya tante sun.....

Senin, 26 Oktober 2020, bertepatan dengan pelaksanaan Penilaian Harian kedua di sekolah kami, dua murid melaksanakan shooting setelah ulangan. Walau esok harinya masih ulangan, mereka tetap belajar untuk persiapan ulangan selanjutnya. Gastan dan Naurah, siswa siswi kelas 4 melaksanaka shooting di Ciseeng, Jawa Barat. Kami ke lokasi shooting seperti berlibur, karena letak lokasinya yang tak terbaca google map Hahaha. Gastan dan Naurah enjoy dan happy mengikuti shooting, padahal dari siang, dan selesai pukul 20.30. Lega rasanya melihat mereka tidak mengeluh.

Selasa, 27 Oktober 2020. Setelah ulangan, saya kembali mengawal shooting di hari kedua dengan pemain yang berbeda. Ini adalah gerombolan siberat, alias sebagian besar pemerannya adalah anak-anak kelas enam. Aila (kelas 4), Keira, Yesa, Danish, Febby, Hazel, Rafif, Rasjad, Ribi, dan Raffa mereka siswa siswi kelas enam. Anak-anak sangat antusias mengikuti instruksi dari sutradara. Di tangan sutradara, anak-anak mampu berakting dengan baik, terima kasih Mas Fikri. Mas Fikri tanpa lelah mengarahkan anak-anak, sesedikit saya pun ikut serta mengarahkan anak-anak, karena sedikit banyak saya sudah ada ikatan batin dengan mereka walau anak-anak dan saya saat lahir tidak satu ari-ari. Sutradara sempat bertanya, apakah di sekolah kami ada pelajaran akting? karena siswa siswimya pandai berakting😀

Well, Shooting dimulai. Keira dan Aila beraksi di perpustakaan Pusdatin. Dua anak manis ini berperan dengan baik. Shootingpun tidak terlalu lama dilaksanakan. Lalu di jam berikutnya datanglah delapan anak laki-laki. Shooting berasa seperti reuni tipis-tipis, karena anak-anak belum pernah bertemu selama masa pandemi, akhirnya dipertemukan di lokasi shooting. Peran sebagai Bung Karno atas arahan sutradara mampu dilakukan oleh Yesa. Begitu juga peran lainnya yang dilakukan oleh anak-anak. Ada kejadian lucu, saat Yesa dengan serius membacakan naskah proklamasi. Di tengah-tengah pembacaan, Yesa tiba-tiba berterteriak jika di kertas naskah ada semutnya, kami sontak tertawa, yaa namanya bocah, shootingpun dihentikan untuk mengusir semut.Setelah selesai semua kegiatan, anak-anak mendapatkan uang lelah, gembira semua. Terima kasih kepada semua crew yang baik hati dan sangat ramah, kepada kedua sutradara Teh Tuti dan Mas Fikri, untuk Tante Cindy yang juga crew kostum dan make up yang selalu ceria, Mbak Nur yang selalu menjaga tas nya dari segala macam bahaya, karena banyak amplop di tasnya hahahah. Dan special thanks to, Ibu Syifa Faridah Kepala Sekolah SD Islam Al Ikhlas atas izinnya, Ibu Ana Mardiana Wakasek Kesisiwaan, Anak-anak yang ibu banggakan yang waktu istirahatnya bersedia ibu ambil, juga orang tua murid sebagai tim hore yang sangat kompak. Semoga hubungan kita dengan Pusdatin terus panjang agar anak-anak punya panggung untuk beraksi, aamiin. (loh kok kayak sambutan saat pidato huahahaha). Dan tak lupa untuk Media Guru, yang menjadi wadah pertama saya dalam menulis.

Semoga kita sehat selalu, tetap berkarya di tengah pandemi, dan untuk saya, semoga tetap bisa menulis, karena bagi saya” Menulis Itu Keren”. Menulis yuuuuk...

Jakarta,28 Oktober 2020

Saat long weekend, dengan semangat sumpah pemuda, saya tetap menuliskan laporan ini, sedaaaap

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen, kereeen, kereeen inovasinya, Bunda. Salam literasi

28 Oct
Balas

Terima kasih pak

28 Oct

Hebat seperti ilustrasi di stas

28 Oct
Balas

Terima kasih bunda

28 Oct

Bukan main guru hebat ini, tdk pernah berhenti menghasilkan jejak positive. Mengisi kejemuan dengan karya itu luar biasa, thumbs up untuk bu yun

28 Oct
Balas

Terima kasih bunda, agar ada jejak setelah saya tak ada

28 Oct



search

New Post