yuniakbar

Ternyata menulis itu menyehatkan jiwa. Ia menjadi jejak bahwa kita pernah ada. Karena kita akan tiada. Tulisan dari hari akan bertemu hati pembaca. Alumni S2 A...

Selengkapnya
Navigasi Web
Hari Minggu yang Biasa
sumber : kompasiana.com

Hari Minggu yang Biasa

4Remidi #3 (harusnya #196)

Hari ini hari Minggu jam setengah enam pagi. Setelah ngolat-ngolet sejenak diatas dipan empuk aku memutuskan untuk segera belanja. Belanja masakan matang maksudnya, soalnya rasa malas sedang menggejala. Malas masak. Tempat belanjaku tidak jauh dari rumah. Di KM 0.3 dari titik 0 di depan rumah ada mak-mak penjual sayur yang menggelar dagangannya di trotoar halaman rumah orang. Aku tidak pernah beli di sini sebabnya karena dagangannya cuma sedikit, aku tidak bisa memilih walaupun nanti kalau selesai belanja, yang aku beli ya sama seperti yang dijual si mak tadi. Wanita kan aneh. I feel great about it. Berikutnya di KM 0.5 ada lagi mak-mak yang menggelar dagangannya di sebelah kiri Indomaret. Aku tidak pernah mampir di sini dengan alasan yang sama seperti tadi ditambah rasa tidak enak kalau parkir motor di depan toko tapi belinya ditempat lain.

Di KM 0.7 ada Pak Hafidz penjual segala ikan yang ramah dan bersuara keras. Setelah tiga tahun berjualan ikan, telapak tangannya memutih. Tanpa pakai whitening lotion macam-macam! Putih dan berkerut! Menurut sebuah penelitian, tangan yang berkerut karena terkena air itu meningkatkan daya cengkeram saat berada di air. Lhooo… tidak percaya? Tom Smulder, ahli biologi evolusi dari Newcastle University, Inggris mengatakan, "Kami telah menunjukkan bahwa jari-jari yang keriput memberikan cengkeraman lebih baik dalam kondisi basah. Ini berfungsi seperti pola ban mobil yang bersentuhan dengan jalan dan tetap memberi cengkeram yang baik," Jadi kalau kita melihat penjual ikan bisa dengan mudah mencengkeram leher lele ..eh… kepala ding, mana lele punya leher? Itu karena proses biologis tubuh. Begitu juga kalau mereka memotong belut, bisa gampang begitu tampaknya. Ternyata rahasianya ada dikerutan. Sekarang aku tahu kenapa Pak Hafidz the fish-cleaner bisa dengan mudah membetheti ikan tanpa melihat sementara kepalanya miring kanan kiri disambi ngobrol. Sejarah Pak Hafidz banting setir jadi penjual ikan, sebelumnya tukang mebel, sudah aku ceritakan di tulisan yang lalu. Aku senang beli ikan di sini terutama kalau sudah mulai siang sekitar jam 9. Soalnyal ikan-ikannya tinggal golongan yang terpinggirkan dan tidak mendapat perhatian. Kecil, terluka dan tampilannya pucat tanpa nyawa. Ya, iyalah… Nah, yang seperti ini harganya turun meskipun tidak drastis. Aku pembeli yang menaruh perhatian pada ikan-ikan dari kaum terpinggirkan ini. Toh, kalau sudah jadi masakan rasanya ya sama. Rasa ikan. Kisahnya Pak Hafidz ada di sini:

https://yuniakbar.gurusiana.id/article/2020/04/berkah-dicurangi-4884550

Di sebelah lapak Pak Hafidz ada suami istri penjual ayam potong yang juga menjual brambang, bawang, paketan sayur, krupuk, karak sampai kripik pisang. Entahlah apa yang menjadi gagasan utama penjual ayam ini sehingga barangnya meliputi segala hal yang tidak terlalu nyambung. Apakah mereka termasuk golongan oportunis yang ingin memanfaatkan keadaan dengan mencoba-coba menyediakan beragam barang? Ataukah kaum moderat yang berprinsip pragmatis, pokoknya jualan? Atau kaum konservatif yang berusaha menjaga perniagaan tetap berlangsung? Entahlah. Aku pernah beli brambang 1 kg disitu harganya 26 ribu, sedang tidak jauh dari situ ada pedagang sayur lain yang memasang harga 20 ribu. Nyesal? Tidak! Aku tidak suka merasa keblondrok soalnya aku punya uang. Merasa keblondrok itu golongan mereka yang pas-pasan. Ha…ha…ha…! Peagang ayam ini masih tetap bertahan. Artinya, banyak orang beli tanpa terlalu hitung-hitungan harga. Sampai disini, rejeki memang tidak kemana. Kalau memang sudah jatahnya, ya dapat saja.

Masih ada lagi yang lain, kan aku baru bercerita penjualnya, aku belum mulai belanja. Dilanjutkan besok ya. Ngantuk!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

ternyata makin lezat. tulisannya renyah. salam kenal Bundaaa

16 Nov
Balas

Thank you, Ms. Chusniyah... You make my day. Salam kenal balik bunda cantik....

17 Nov



search

New Post