Gangguan Hot Flashes
4Remidi #6 (harusnya #199)
Beberapa hari lalu mukaku terasa panas. Setiap hari terasa tanpa jeda. Rasa panas terutama di sekitar tulang pipi, atas cuping hidung, dan bibir atas. Aku tidak tahu, kenapa bisa begini ya. Lalu pencarian tahu segera dimulai. Di jaman dimana segala informasi digantungkan pada Mister gugel ini, tentu saja itu yang kuikuti. Meskipun aku tahu, si mister tidak punya ketrampilan memilah atau menolak info yang bakhil dari yang haq. Tentu saja, kan dia tidak beriman.
Lalu akupun mulai sercing, brosing, gugling, guling-guling dan seterusnya untuk bisa riding sebanyak mungkin. Akhirnya setelah menghabiskan kuota paketan aku menemukan definisi dan uraiannya. Ternyata, muka yang terasa panas ini namanya hot flashes. Ya, iyalah, masak hotpants? Ada juga yang menyebut flushing. Gejalanya berupa sesnsai hangat disertai kemerahan pada kulit. Banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pria. Sampai disini aku mengaca. Ada nggak ya merah-merahnya? Aku dekatkan wajah hampir menempel kaca. Hmm, tidak ada!
Lanjut membaca. Bisa jadi karena konsumsi salah satu kandungan vit B3 yaitu nicotinic acid yang bisa melebarkan pembuluh darah. Ah, kayaknya ndak, deh. Aku tidak pernah minum obat-obat semacam itu. Terutama terjadi pada masa menjelang menopause yaitu masa climacterium, dan disebut hot flush.Biasanya terjadi pada usia 50-70 tahun. Bisa jadi! Ya, umurku menjelang menop. Tapi kok aneh. Coba cari sumber lain. Oh ini ada gejala yang lebih komplet. Rasa hangat mendadak menyebar ke bagian tubuh atas dan wajah, tampilan merona dengan kulit berwarna merah dan bercak, detak jantung berdebar kencang, berkeringat, terutama pada bagian tubuh atas, dan menggigil begitu hot flashes mereda. Wuaduhhh….! Medeni! Enggak gitu juga kale…
Baiklah, cari sumber lain lagi. Oh, ini ada! Penyebabnya antara lain menggosok pipi terlalu keras. Hmm… Tidak pernah kulakukan. Kedua, terbakar sinar matahari. Ini juga bukan. Ruang kerjaku ber-AC. Ketiga, infeksi. Bukan juga. Aku tidak merasa tubuhku deman atau tanda infeksi lainnya. Muka saja yang terasa panas sangat tidak nyaman. Keempat, perubahan hormonal. Ya… bisa jadi. Kan wanita selalu mengalami perubahan hormonal. Pengetahuan ini penting untuk membuat excuse ketika marah-marah, sensi, atau bete, gitu. Lanjut! Penyebab berikutnya karena penggunaan kosmetik yang salah. Eureka! Ini dia! Memang sudah beberapa waktu aku berhenti memakai krim malam. Terus ini mulai lagi. Mungkin kulitku sudah tidak bisa menerima krim yang dulu biasa aku pakai. Padahal itu krim harganya mahal banget untuk kantongku. Bikinan dokter, bukan kosmetik pabrikan, gitu lhoooh!
Tiga hari kemudian, aku hentikan semua pemakaian krim. Baik krim pagi, tirai, krim malam, krim mata, dan krimbath. Oh, yang terakhir itu untuk rambut, ya. Kenyataannya, rasa hot flashes tidak berkurang. Lalu, apa ini, ya? Apa harus periksa ke dokter kulit? Barangkali memang harus terapi hormonal juga.
Sedang aku sercing-sercing lagi mencari informasi lain yang bisa aku ikuti, sulungku yang sudah hampir selesai kuliah, itu masuk kamar.
“Mama punya minyak kayu putih?” tanyanya.
“Apa kakak masuk angin?” aku balik tanya.
“Mau ke Superindo. Makanannya si mpus habis.” katanya sambil mengambil plosa merah yang ada diatas mejaku. Lalu segera pergi. Konon, eucalyptus yang ada di minyak kayu putih bisa mencegah corona. Plosa ada kandungan eucaliptusnya ada yang hijau dan merah. Sebetulnya kalau untuk pemakaian harian pakai yang hijau tidak terlalu panas. Tapi kemarin di Indo yang hijau habis, ya akhirnya beli yang merah. Dioleskan sedikit di masker begitu caranya.
Beberapa waktu kemudian, sulungku pulang dari belanja.
“Aduh, Mah, ndak kuat aku sama plosa merah ini. Panas banget! Sampai pipiku, nih di bawah mata sama hidungku juga kepanasan. Nih, bibir atasku rasanya kayak kebakar. Padahal aku tadi cuma ngoles dikit di masker lho. Aku pakai kayu putih yang biasa saja! Ndak mau yang ini!” katanya sambil melempar plosa merah itu ke kasur. Abrakadara!! Oh… ini dia jawabannya! Padahal tiap hari aku mengoles si plosa banyak-banyak di maskerku. Nah, lho…!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Terima kasih tulisannya bagus ada komunikasi mama dan anak gadisnya masalah kecantikan. salam literasi.
Terimakasih sudah mampir. Salam literasi...
hem... dioles di masker ya... aku kok di tetes di mulut to.. hehe