Yulma Refianti S.pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TAKDIR CINTA KINARA Bagian 7

TAKDIR CINTA KINARA Bagian 7

BAB 4

RAHASIA KELUARGA MILLER

Bagian 7

Kinara dan Jones tiba di rumah sakit tak jauh dari puncak. Tuan miller sudah mendapatkan pertolongam medis. Saat ini tertidur pengaruh obat. Kinara memeluk ibunya yang masih terlihat cemas dan juga ketakutan. “Mami tenang ya di sini ada Kinara.” Memeluk Jasmine ibunya.

Jones kembali memeriksa kondisi tuan miller. Kondisinya mulai membaik dan detak jantungnya terlihat mulai normal. Kinara tak mau menanyai ibunya saat ini. Karena itu tak bagus. Makanya dia memilih menengkan ibunya.

Dokter Jones menemui mang Ucup di luar kamar inap pasien. Duduk dan mengajak mang Ucup ngobrol. Mang ucup terlihat canggung meski sudah beberapa kali bertemu dr Jones saat ke rumah majikannya. namun duduk berdekatan seperti ini membuatnya gugup.

“Mamang sudah makan?” tanya Jones.

“Sudah pagi tadi tuan muda. Trus lagi asyik asyik bersihin mobil, tiba-tiba 4 orang tak dikenal datang menerobos masuk. Saya tak bisa mencegahnya tuan muda, saya hanya supir. Harusnya saya waktu berangkat ngajak security, jadi tuan besar tak mengalami semua ini. Saya merasa bersalah tuan,” ujarnya penuh penyesalan.

Jones mengusap pundak sopir pribadi keluarga Kinara itu. “Mamang gak salah kok. Apapun yang terjadi itu kehendak Allah,” ujarnya menenangkan mang Ucup. Kemudian Jones mengajak mang Ucup untuk keluar membeli makanan. Dan mengirim chat untuk Kinara kalau dia keluar mencari makanan.

Saat menunggu pesanan untuk Kinara dan ibunya, Jones dan mang Ucup memesan white coffee. Saat menikmati minuman itu Jones memperhatikan raut wajah mang Ucup.

“Mang, mamang lagi mikiran apa bengong seperti itu? coba ceritakan ke saya. Jangan ragu, saya sahabat baik Kinara,” ucap Jones. Mang Ucup menghela nafas berat. Tetap tidak mau bicara.

“Saat ini Kinara juga sedang gundah akan sesuatu hal dalam keluarganya,” tambah Jones menatap mang Ucup.

“Anu, den dokter, mamang melihat ada yang aneh saja beberapa tahun belakangan ini dalam keluarga non Kinara. Tapi mamang takut salah ngomong,” ucapnya gugup. Jones makin penasaran. “Mungkin keterangan mamang bisa membantu saya dan Kinara menemukan suatu rahasia mang,” ucapnya. Terlihat mang Ucup mulai agak tenang.

“Itu Den dokter, saat perampok itu mau pergi dari vila tuan, setelah melihat tuan pingsan, saya sekilas melihat mobilnya den Ronan dari jauh,” ujar mang Ucup.

Jones mulai menghubungkan kecurigaan Kinara tentang kakak lelakinya itu. Apakah benar Ronan di balik semua ini?

Saat Jones Kembali ke kamar ayah Kinara, dia melihat Kinara dan ibunya bicara serius dan terlihat berbisik. Kinara memberi isyarat Jones agar mendekat. “Sepertinya kita bertiga harus bicara serius,” ucap Kinara. Jones mengangguk setuju.

Jones meminta suster berada di kamar ayah Kinara begitu juga dengan mang Ucup. Sementara mereka bertiga menuju mushola rumah sakit. Selesai sholat mereka duduk bertiga. Mulailah ibu Kinara membuka cerita.

Tiga tahun yang lalu, di perusahaan tuan Miller terjadi penemuan pengeluaran uang yang tidak wajar. Tuan miller melakukan pemeriksaan dengan seksama. Bagian keuangan mengatakan kalau dirinya sudah melakukan tugas sesuai dengan prosedur perusahaan.

Pada saat itu ada seorang pemuda cerdas dan ganteng yang baru setahun bekerja. Dia merupakan asisten dari kepala bagian keuangan. Pemeriksaan berlangsung beberapa minggu secara tertutup dari karyawan lainnya. Pada minnggu ketiga, saat kepala bagian keuangan menelpon tuan Miller untuk memberikan penjelasan, terjadilah hal yang tak diinginkan. Dimana tuan Miller mendapatkan kepala bagian keuangan terbunuh diruangannya oleh sebuah belati, dan Ronan mengikat Pegawai baru itu serta dengan barang bukti sebuah belati di sana.

Kinara dan Jones termangu mendengarkan cerita tersebut. Suasana hening sesaat. Jones makin yakin Ronan ada di balik semua ini setelah keterangan mang Ucup tadi.

“Mami, siapa nama pemuda yang dijebloskan kepenjara itu?” tanya Kinara.

“Mami kurang tahu juga. Kalau gak salah Tara. Ya… Ronan menyebut Namanya Tara,” ujar Jasmine. Debaran jantung Kinara berpacu tak karuan mendengar nama itu.

Kondisi tuan Miller sudah membaik dan sudah berada di rumah. Ronan pulang ke rumah dan minta maaf karena tak sempat melihat ayahnya di rumah sakit. Berhubung saat itu dia berada di luar kota memantau proyek baru di sana.

“Maafkan Ronan ya Pi, saat itu Ronan gak ada untuk Papi.” Sambil mencium tangan ayahnya. Entah mengapa, sekarang Jasmine makin sering memperhatikan sikap putranya itu. Dan Ronan menyadari perubahan dari tatapan ibunya.

“Mi… kok segitunya melihat Ronan. Ada apa? Ronankan sudah minta maaf sama Papi,” ucapnya sendu. Jasmine memaksakan senyuman. “Tidak Nak, kamu terlihat lelah sudah beberapa hari gak pulang. Istirahatlah dulu. Papi mau makan siang dan minum obat,” ujarnya.

Sepeninggal Ronan, Jasmine termenung di samping suaminya yang terbaring sakit. Ingatannya melayang pada 26 tahun yang lalu saat mereka masih tinggal di luar pulau jawa. Saat dia suaminya dan Kinara yang masih berumur 8 bulan melakukan sebuah perjalanan. Mereka menemukan korban tabrak lari sebuah sepeda motor cukup menggenaskan.

Rasa kemanusian mendorong tuan Miller untuk berhenti. Jalanan cukup sepi. Untunglah tak lama lewat sebuah sepeda motor. Dan mereka menghubungi polisi. Korban yang terdiri dari sepasang suami istri dan anak lelaki berumur sekitar dua tahun itu dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya sang suami meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, si ibu berhasil melewati masa kritisnya. Saat itulah dia ingin melihat putranya yang selamat. Kemudian di hadapan polisi, sang ibu mengucapkan terima kasih pada tuan Miller yang sudah menolong mereka. Dan meminta mereka untuk merawat anaknya. Sejurus kemudian menghembuskan nafas terakhir.

Jerit tangis bocah dua tahun itu menghantar kepergian ibunya. Jasmine memeluk bocah tersebut, yang belum sempat tahu siapa namanya. Namun ada kalung di leher bocah tersebut. Karena itulah mereka memberi nama sesuai dengan nama di kalung itu. Yaitu Ronan. Setahun kemudian keluarga tuan Miller pindah ke pulau jawa. Tepatnya kota metropolitan.

Jasmine menghela nafas berat. “Nak, kamu mami didik dan sayangi dengan sepenuh hati dari masih kecil. Kamu manis dan penurut. Tapi mengapa sekarang mami melihat aura lain di wajahmu nak? terkadang kamu seperti melihat kami dengan kebencian dan dendam. Kenapa nak.?”

Lamunan Jasmine buyar Ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Mami, Kinara akan berangkat kerja. Mami jagain Papi ya,” ucap Kinara. Kemudian Pamit pada kedua orang tuanya.

Kinara tidak ke rumah sakit. Dia sudah membuat janji dengan dr Jones untuk melakukan pelacakan ke Rutan. Mereka akan memulai penyelidikan kasus pembunuhan 3 tahun yang lalu. Jones juga meminta hadir rekan pengacaranya dalam misi ini nantinya.

Dalam perjalanan, mereka membahas langkah yang akan mereka lakukan, agar penyelidikan ini berjalan mulus. “Sebaiknya kita ke kantor polisi yang menangani kasus ini dulu. Informasi di sana akan memudahkan kita,” ujar Jones. Kinara mengikuti saran dari Jones.

Sampai di kantor polisi, mereka disambut dengan ramah oleh aparat kepolisian. Setelah menceritakan semuanya, polisi mencari berkas perkara tersebut. “Pemuda yang melakukan pembunuhan itu sekarang berada di Rutan xxxx. Saat itu tak ada keluarga yang mendampinginya. Hanya seorang sahabatnya saja. Karena permintaannya agar tak memberi tahu keluarnganya. Pemuda itu bernama Guntara Prayoga.” Polisi menyerahan sebuah map pada dr Jones.

Langsung Kinara merebut berkas itu dari tangan pak polisi. Membuka lembar demi lembar berkas. Seketika wajahnya menegang setelah melihat data si tersangka pembunuhan itu.

Jones segera menenangkan Kinara. Dan minta izin pamit pada kepolisian. Sampai di dalam mobil, Jones memberi Kinara air mineral. Membiarkan sahabat cantiknya itu untuk tenang dulu. Menggenggam tangannya, mangalirkan rasa nyaman pada sahabatnya itu.

Sekian menit berlalu dalam sunyi. Jones membawa mobilnya ke arah lalu lintas yang sepi, serta berhenti sejenak. “Nara, kamu sudah mulai tenangkan, sekarang ceritakan padaku. Jangan ada yang kamu tutupi. Mengapa kamu kaget saat mendengar nama si pembunuh itu. Apa kamu mengenalnya?” tanya Jones hati-hati.

Nara mengusap wajahnya. Terlihat bulir bening yang ditahannya agar tak jadi tangis. Namun tetap saja jatuh di pipinya itu. “Dia orang yang kucari selama ini Jo. Sekarang antarkan aku menemuinya ke Rutan ya, akan kupukul dia sekuat tenagaku nanti.” Membulatkan kelima jari kanannya.

Jones bingung dan sedikit takut. Masalah apa di antara tahanan itu dengan sahabatnya. Apakah dia juga sudah melakukan kejahatan pada Kinara. Beribu pertanyaan berkecabuk di benak dr Jones. “Baik Nara, aku akan mendampingimu kemanapun dalam situasi apapun,” ujar Jones memberikan dukungan moril.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Manten mantap tenan

18 Jan
Balas

Terimakasih apresiasinya Pak

18 Jan



search

New Post