Model Pendidikan Karakter di Era Gen Z dan Gen Alpha (3)
=====
Dampak Negatif Teknologi Digital bagi Gen Z dan Gen Alpha
Kemajuan teknologi digital memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan karakter individu, terutama di kalangan generasi muda Penurunan kemampuan sosial. Dengan semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di depan layar untuk berinteraksi secara virtual, kemampuan berkomunikasi dan berempati secara langsung dapat menurun. Konten-konten yang tidak pantas atau negatif di dunia maya dapat mempengaruhi nilai-nilai dan moral individu, mengarahkan mereka pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Kecenderungan untuk mencari kepuasan instan melalui media sosial juga dapat membentuk karakter yang kurang sabar dan cenderung narsistik.
Fenomena
Generasi Z sering mengalami demoralisasi akibat pengaruh media sosial yang merugikan:
Di media sosial, kejahatan seperti perjudian, pembuatan konten pornografi atau SARA, perundungan, penipuan, penyebaran berita bohong, dan bahkan radikalisme sering terjadi. Banyak anggota Generasi Z terlibat dalam aktivitas kriminal, termasuk penggunaan narkoba dan seks bebas. Kekejaman anak muda saat ini memperjelas bahwa fakta ini tidak bisa lagi kita sembunyikan. Penggunaan media smartphone untuk pembelajaran tidak memberikan solusi dalam melakukan pembelajaran, khususnya bagi anak-anak generasi Alpha. Mereka cenderung menggunakan media tersebut untuk memberinya kesenangan serta kepuasan akan kebutuhan hiburan mereka misalnya menggunakan tiktok, menonton Youtube, bermain game online dan mengesampingkan tujuan awal menggunakan media belajar tersebut karena mereka sudah tidak dapat dipisahkan dari teknologi Orang tua pun banyak yang membiarkan keadaan seperti ini terjadi dengan banyak alasan, sehingga berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari mereka, seperti sikap malas untuk berkomunikasi dengan orang tua dan juga orang-orang disekitar rumahnya, malas mengerjakan tugas apapun, dan juga menjadi pemarah.
Pendidikan Karakter
Istilah "karakter" memiliki beragam definisi dari para ahli. Menurut Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang menjadi pembeda seseorang dengan orang lain (Syarbini, 2012).
Dalam Islam, karakter lebih dikenal dengan istilah akhlak, yang mencakup kepribadian dan watak seseorang yang tercermin dalam sikap, cara berbicara, dan tindakan sehari-hari.
Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika yang baik (Lickona:2008). Melibatkan tiga komponen utama: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior).
Pendidikan karakter menurut Anita Lie adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai moral dan etika dalam diri individu. Bertujuan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Pendidikan karakter mempunyai 4 poin. Yang pertama yakni Siddiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), tabligh (Cerdas), dan Fathanah (Menyampaikan). (Azhar Arsyad).
Model Pendidikan Karakter untuk Generasi Z dan Alpha
Model pendidikan karakter di era Gen Z dan Gen Alpha yaitu Model Holistik integrated, yaitu mengintegrasikan teknologi digital dan media sosial sebagai media pendukung pembelajaran dengan tetap mempertahankan nilai-nilai karakter fundamental seperti integritas, empati, tanggung jawab, dan kerja sama.
Pendidikan karakter di era ini berusaha membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang baik.
Beberapa elemen kunci model Pendidikan Karakter ini:
1. Nilai Inti
Pendidikan karakter mendasarkan diri pada nilai-nilai inti seperti integritas, tanggung jawab, empati, dan kerjasama. Nilai-nilai ini diajarkan dan diintegrasikan dalam setiap aspek pembelajaran.
2. Penggunaan Teknologi
Mengingat bahwa Generasi Z dan Alpha sangat akrab dengan teknologi, model pendidikan ini mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan keterlibatan dan efektivitas pengajaran.
3. Pembelajaran Berbasis Proyek
Metode ini digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Siswa diajak untuk bekerja dalam tim, menghadapi tantangan nyata, dan menemukan solusi kreatif.
4. Pendidikan Emosional dan Sosial
Program ini menekankan pentingnya kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan sosial untuk membangun hubungan yang sehat dan produktif.
5. Pendidikan Inklusif
Pendidikan karakter untuk generasi ini juga menekankan inklusivitas, mendorong penerimaan terhadap keragaman dan mengajarkan pentingnya saling menghormati.
6. Pendidikan Berbasis Kewirausahaan
Membekali siswa dengan keterampilan kewirausahaan untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja yang dinamis dan penuh tantangan.
=====
Jombang, 21 Maret 2025 (H.80 - 40)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap. Terima kasih ulasannya, Bu. Memang memberi pendidikan karakter anak jaman now, lebih susah dibanding jaman kita. Hehe...
Alhamdulillah telah tayang, terima kasih admin.
Alhamdulillah telah tayang, terima kasih admin.