BUAH KESABARAN, Tantangan ke-24TantanganGurusiana
BUAH KESABARAN
Oleh Trisiwi Nursiamah
Tiwik adalah panggilan akrab yang disandangnya. Anak ketiga dari empat bersaudara. Ibunya yang hanya mengandalkan pensiun sang suami yang sudah meninggal membuat hidupnya serba pas pasan. Kadang ibunya mencari tambahan penghasilan dengan menjadi makelar di pegadaian. Sosoknya yang pendiam dan suka mengalah membuat para tetangga simpati kepadanya. Kecerdasan otaknya terlihat sejak kelas 1 hingga kelas 5 tak pernah lepas dari juara satu atau dua.
Tubuh Tiwik yang pendek bahkan terpendek dibanding teman-temannya satu kelas membuat ia selalu dibuly oleh teman-temannya. “Hai pendek”, hampir tiap hari kata-kata itu selalu ia dengarkan dari mulut sekelompok temannya di sekolah. Sejak memasuki kelas 6 semakin getol teman-temannya dalam membuly dia bahkan mengintimidasinya. Cacian makian tak pernah absen ia dengarkan dari sekelompok anak-anak usil. Semua itu ia terima dengan diam dan sabar. Sekolah serasa neraka baginya. Namun semangat belajarnya tak pernah luntur karenanya. Suatu hari sepulang sekolah ia hanya duduk diam terpaku tanpa melepas seragamnya. Pandangannya kosong, wajahnya menunjukkan kesedihan yang teramat. Ingatan akan caci makian teman-temannya sulit dihilangkan. Ibunya yang melihatnya menyapanya dengan lembut, “Ada apa Wik, kok melamun?” Suara itu mengagetkannya, dan sontak menghilangkan lamunannya. “Tak ada apa-apa Bu”, Jawabnya dengan lesu seakan menutupi apa yang sedang ia rasakan.
Ujian Akhir Sekolah sudah di depan mata. Tidak bosan-bosannya ibu guru mengingatkan murid-murid agar rajin belajar. Pendalaman pelajaran pun sering diadakan di sekolah. Pada hari yang dijadwalkan ujian, anak-anak terlihat sangat tegang. Berbeda dengan Tiwik yang selalu tenang. Ia mengerjakan dengan penuh kesabaran. Beberapa hari kemudian tiba saatnya pengumuman kelulusan. Tidak diragukan lagi, Tiwiklah sang juara yang memperoleh nilai tertinggi di sekolahnya. Ia diterima di SMP Negeri terfaforit. Sekelompok temannya yang selalu usil dan sering membulinya kini mendapatkan karmanya. Mereka mendapatkan nilai yang sangat rendah sehingga semua sekolah negeri tidak mau menerimanya. Melihat keadaan seperti itu tidak lantas membuat Tiwik sombong dan ganti membuly teman-temannya. Justru ia merasa kasihan dan memberi semangat teman-temannya. Pada akhirnya kesabarannya selama ini membuahkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Pembulian akann iingat selamanya
aku banget, ndek pendek! kuingat selamanya
aku banget, ndek pendek! kuingat selamanya
aku banget, ndek pendek! kuingat selamanya
Kesabaran yang berbuah manis.
Benarkah itu tiga paragraf Bu?Tapi bagus idenya..
Sudah sy edit bu.. sy masukkan kategori cerita anak. Klo pentigraf mgkn krg sesuai krn aturannya 739 ya bu..
Sabar emang slalu membuahkan hasil yang baik
Betul bun
Perundungan (bullying) terhempas dengan prestasi...
betul