Tjandra

Ada kalanya ide menulis mengalir begitu saja, awalnya agak sulit memulai namun rasanya ide tersebut akan semakin kusut ketika tidak segera diuraikan. Semoga pil...

Selengkapnya
Navigasi Web
Cermin pembuka portal masa lalu. Pindah sekolah 12
petualangan misteri horor remaja

Cermin pembuka portal masa lalu. Pindah sekolah 12

Sepanjang perjalanan ke kantor Bapak, aku melamun tentang kejadian tadi. Walau hanya sebentar tapi terasa sangat lama. Hal yang sulit dijelaskan tapi terasa sangat nyata. Didalam keluarga Bapak beberapa orang memang memiliki bakat unik, Bapakku sendiri dapat meramalkan nasib seseorang, sedangkan dua orang sepupuku sama sepertiku dapat melihat “mereka”, kakekku agak unik lagi karena dapat melihat apa yang sudah terjadi dimasa lalu melalui mimpinya, sedangkan aku?.

“Huft” aku menghela napas.

“Aku yang paling aneh dari mereka semua, perpaduan dua bakat aneh jadi satu dalam diriku” ucapku ketus.

Aku melihat Deri menyebrang jalan, ia dengan santainya meliuk-liukan ekornya yang panjang. Deri tepat didepanku, sesekali ia berhenti untuk mengamati sesuatu di rerumputan.

“Deri pis pis” panggilku.

Ia menoleh kebelakang dan duduk dengan manis menungguku menghampirinya. Mata bulat galaknya menilaiku sinis. Ku ulurkan jariku didepan hidungnya, ia mulai mengendus dan mengeong serak. Aku berjongkok didepan Deri dan bicara padaa udara seperti orang yang tidak waras.

“Kamu tau Deri, tadi aku lihat Dex tertidur lelap dalam peti matinya, sangat menakutkan, aku takut Deri” ucapku.

Deri menjawabku dua kali dengan suara serak dan dalam. Ia mengelilingku dan seperti berusaha untuk menggookkan tubuhnya padaku. Setidaknya tingkah Deri kali ini sangat menghibur dan menenangkanku.

“Terima kasih Deri” kataku lembut.

Ruang kelas pagi ini terasa dingin karena suasana diluar mulai mendung. Aku tiba sekitar pukul enam, belum banyak temanku yang datang, hanya ada empat orang didalam kelas. Aku merapikan kolong meja dari sisa sampah kertas, kemudian menyusun buku pelajaran Biologi diatas meja. Aku tata buku-buku itu sedemikian rupa agar terlihat rapi berharap dapat meningkatkan semangat belajarku hari ini.

Anne dan Deri masuk ke kelas, mereka berdua datang tanpa Dex. Wajah serius Anne menunjukkan bahwa ia sangat khawatir padaku karena kejadian kemarin. Deri bermain diatas meja guru kaki depan samarnya memainkan vas bunga dengan lihai, kemudian vas itu terjatuh dan suara kerasnya seperti petasan yang memecah keheningan. Perbuatan Deri membuat takut teman kelasku, mereka menatap takut meja guru sementara aku berpura-pura tidak melihat kejadian itu.

“Amelia kenapa kamu bisa kesana?”

“Ga tau, tiba-tiba aja dahan pohon asam menampar keras mukaku, dan seketika aku ada disana”

“Amelia itu sangat berbahaya, kamu bisa aja ga kembali lagi, terjebak disana selamanya” teriak Anne.

“Coba kamu ingat-ingat adakah benda yang pernah kamu pegang disekolah ini yang ama dengan benda dirumah Dex” lanjut Anne.

Aku mulai berpikir dan mengingat-ingat benda apa saja yang pernah aku pegang yang sama dengan milik Dex. Aku coba urutkan dari benda paling tua disekoah dulu, nampaknya semua normal hanya peralatan tulis dan alat peraga yang usianya tidak sama dengan umur gedung ini. Sementara diruang kepala sekolah, aku tidak pernah menyentuh apapun selain kursi, itu pun berusia tidak terlalu tua.

Sekarang aku urutkan terbalik, benda apa yang ada dirumah Dex tapi ada juga disekolah. Aku berpikir keras tapi rasanya tidak ada barang yang dimaksud Anne.

“Coba pikir baik-baik, kamu ingat-ingat adakah yang sama” kata Anne.

Aku hanya mengelengkan kepala, tangan kananku meraih penghapus dan memainkannya. Aku memutar-mutar penghapus itu berharap ingatanku perlahan akan kembali. Tapi semua masih sama, aku tidak ingat apapun.

Dinda mengucapkan selamat pagi padaku, hari ini ia nampak sangat bersemangat. Kemudian ia bercerita bahwa Ayahnya baru datang dari luar kota, ia membawa oleh-oleh satu set buku ensiklopedia tentang tanaman seperti keinginannya. Ayah Dinda adalah seorang peneliti tanaman, ia jarang pulang karena tempat kerjanya tidak di kota kami. Dinda merapikan rambut hitam panjangnya yang hari ini diikat ekor kuda, ia mengeluarkan cermin kecil berwarna perak yang katanya peninggalan buyutnya. Ia menata cermin itu dan tersenyum riang.

Napasku tertahan, aku ingat sekarang. Cermin itu! Cermin Dinda sama dengan benda yang ada di nakas panjang rumah Dex, tergeletak persis disamping bingkai foto. Cermin kecil bulat berwarna perak dengan hiasan coklat pada gagangnya yang terbuat dari kulit kerang. Cermin yang pernah aku pinjam saat hari pertama sekolah.

Rasanya tak percaya, aku menemukan jawaban pertanyaan Anne, aku menutup bibir dengan kedua tangan, mataku melirik Anne kemudian cermin itu. Anne memperhatikan cermin Dinda dan ia menganggukan kepalanya pelan padaku.

“Dinda cermin itu dari kapan kamu punya” tanyaku.

“Aku lupa tepatnya, mungkin sejak TK, kata Ayah ini adalah cermin pemberian Neneknya. Seperti barang antik dikeluargaku” jawab Dinda sambil tertawa kecil.

“Hm, Buyutku sangat menyayangi cermin ini karena pemberian terakhir suaminya kepada salah satu anaknya sebelum anak mereka meninggal, kata Ayah cermin ini dibeli kakek saat perjalanan tugas ke luar, buyutku sama dengan ayah mereka peneliti, ya bisa dibilang botanikus“lanjut Dinda.

Aku dan Anne tercengang mendengar penjelasan Dinda. Kami menatap Dinda dalam-dalam. Rasanya semakin banyak kejadian tidak masuk akal disekolahku, semua berhubungan satu sama lain. Petualangan masa remajaku ternyata tidak seromantis komik Jepang serial cantik tapi hanya diliputi hal-hal misteri berbalut horror.

“Ya Tuhan” bisik pelan.

 

sumber gambar

https://tjokrosuharto.com/id/hiasan-lainnya/19959-elr-038-cermin-bulat-perak-bakar-18x9-cm-drm.html

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Ini kisah fiktif atau nyata?

02 Dec
Balas

Dasarnya adalah kisah nyata yg kemudian dikembangkan secara fiktif agar menjadi cerita pak.

02 Dec



search

New Post