Dwi Kustanti, S.Pd

Bismillah... Semoga dengan menulis, bisa memberi manfaat kepada yang lain....

Selengkapnya
Navigasi Web
Teman rasa saudara

Teman rasa saudara

Sejak pagi sampai siang ini, aku harus menyelesaikan tugasku membuat video pembelajaran. Aku betul-betul memeras tenaga dan waktu untuk itu, karena ini hari terakhir jadwal pengumpulan video. Waktu berlalu tak terasa sekali karena konsentrasi saya terfokus pada pembuatan video. Namun siang menjelang dhuhur, suami saya mendekati meja kerja saya sambil membawa bungkusan.

"Dik, coba lihat," suamiku memanggil untuk mendekat kepadanya sambil tersenyumbahagia namun kaget. Dia membawa sebuah bungkusan.

"Hah, apa itu mas?" aku balik bertanya sambil terheran-heran juga. "Apa itu? Dari mana itu, Mas?"

"Dari Pak Candra, Yogyakarta," jawab suamiku sambil membuka bungkusan paket itu.

Aku beranjak dari mejaku dan mendekati suamiku, lalu kami duduk di karpet membuka bungkuisan itu bersama-sama. Sambil terkejut dan heran-heran penuh tanya, apa isinya.

"Hah, Dik. Kacamata." spontan suamiku, melihat kacamata untuk gowes. Suamiku memang sedang hobby nggowes. Jadi Dia lagi semangatnya mencari dan melengkapi persiapan gowesnya. Salah satunya adalah kacamata.

"Ini kacamata bagus, Dik," jawaban suamiku meluapkan kebahagiaannya.

"Wah, ganti kita ngirim apa nih, Dik?" luapan kebahagiannya.

"Wah, bagus itu," aku menguatkan kebahagiaan suamiku.

"Ini ada juga untu kamu, Dik," lanjut suamiku.

"Apa itu?" tanyaku penasaran.

"Nih, kerudung sepertinya. Ada juga buku-buku. Wah baiknya ya mereka," suamiku mulai mengingat keluarga Pak Candra.

"Iya, betul Mas," aku juga merasakan itu. Ingatanku melayang sekitar 20an tahun lalu.

Mereka adalah teman di awal-awal kami menginjakkan kaki di daerah baru ini. Aku dan suami adalah orang rantau. Bukan asli daerah sini. Mereka adalah teman pada masa perjuangan itu, sama-sama rumah tangga muda. Istri Pak candra asli daerah sini. Akrab sekali. Peristiwa yang kuingat sampai saat ini. Saat kami menunggui istrinya yang akan melahirkan. Suasana yang menegangkan. Aku menemai istri Pak Candra di ruangan persiapan, saat beliau menahan rasa sakit yang luar biasa ketika akan melahirkan. Sedangkan suamiku menemani Pak Candra di luar ruangan. Aku pun tidak ingat bagaimana awalnya, yang kuingat aku berada di samping ranjang istri Pak Candra karena yang boleh masuk hanya wanita.

Kini mereka sudah pindah tempat tinggal karena pekerjaan. Karena perbedaan jarak, kami jarang sekali ketemu. Namun ternyata tidak berubah perhatian dan kedekatan diantara kami. Saat kami ke kota tersebuat, jika kami mampir pasti diminta menginap di sana. Dan sambutannya juga luar biasa. Terbukti lagi siang ini, datangnya hadiah ini serasa mereka di sini, mengunjungi kami dan seperti tetap bersama kami. Inilah teman tapi rasanya seperti saudara. Terima kasih Ya Allah, terima kasih atas karuniaMU berupa teman yang sholih sehingga serasa seperti saudara. Teman rasa saudara.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen cerpennya, Bunda. Salam literasi

26 Jan
Balas



search

New Post