Cinta Mati di Tangan Belia
Jika nafsu sudah melekat, mushallah sucipun jadi tempat maksiat. Ternyata maksiat tidak memilih pelaku, umur, atau tempat. Maksiat bisa terjadi dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Asal ada nafsu bejat..lewat..miris amat.
Hari ini mau fokus melaksanakan tugas sebagai pelayan umat. Bismillah berangkat dari rumah dengan anak bujang kelas lima SD. Sampai di SPBU rencana mau beli bensin, ternyata antriannya panjang, tidak jadi beli bensin, lanjut ke sekolah anak.
“Alhamdulillah bensinnya masih ada sedikit, lumayanlah menjelang sampai Pertamini.” Pikir saya. Bertemu satu pertamini tutup. Jalan lagi, ada satu pertamini yang buka pagi-pagi, alhamdulillah penjualnya rajin menjemput doa malaikat, dan menyongsong rezeki pagi. Sambil menunggu pemiliki pertamini keluar rumah, saya mencoba menscrol berita. Tetiba saya membaca deadline berita “Pasangan Pria Sejenis Mesum di Mushalla di Sumbar, Pelakunya Di Bawah Umur” (rule.info.com/Selasa 3 Maret 2020). “Nauzubillah Minzalik, berita apa lagi ini Mak Jang, bisik saya dalam hati.
Saya lanjutkan membaca. Pasangan pria sejenis di Sumbar ini ketahuan warga saat berbuat mesum di dalam mushalla. Mirisnya, salah satu pelaku di bawah umur. Satu orang berinisial E (23 tahun) warga kota Solok dan satu lagi berinisial R (13 tahun) yang mengaku juga sebagai warga Solok.
Keduanya nekat melakukan hubungan mesum di dalam mushalla. Aksi tersebut cepat diketahui warga. Keduanya sempat dapat bogem mentah warga yang kesal, karena mengotori rumah Allah dengan perbuatan maksiat. Awalnya minta izin pada warga untuk menginap, karena kemalaman. Warga tidak curiga. Pas jam 23.00 WIB lampu mushalla dimatikan. Warga mulai curiga, lalu diintip warga, bertemulah mereka sedang berbuat maksiat, “jeruk makan jeruk.”Kasus ini sudah ditangani Polsek Gunung Talang. Pelaku belia sudah ditangai oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Solok.
Saya tidak mau menjudge pelaku, sebab masalah ini sangat kompleks. Saya inkar munkar dan berdo’a dalam hati, semoga badai cinta pelaku belia dan sejenis ini cepat berlalu. Walau do’a bentuk selemah-lemahnya iman.
Saya mencoba merefleksi peristiwa, kasus jeruk makan jeruk, tidak sekali dua kali saya baca beritanya. Sebagai orang tua saya amat sangat kawatir dengan eksistensi aqidah, ibadah, dan akhlak generasi. Sebagai pemerhati cinta saya tergugah terhadap kelangsungan nasib cinta di masa depan. Cinta semakin sekarat di tangan para penyembah hawa nafsu. Konspirasi antara nafsu dan syaitan lakhnatullah ‘alaih semakin hari semakin menggejala. Seolah tiada hari tanpa berita maksiat.
Paling miris, salah seorang pelakunya masih belia. Umurnya tiga belas tahun, sebaya dengan anak sulung saya. Amat miris lagi kejadiannya di rumah ibadah. Tempat orang Islam berubudiyah menjemput cinta dan kasih sayang Allah, ternodai perbuatan nista.
Rasa perih menjalar di relaung hati terdalam. Prihatin dengan generasi penerus bangsa, kian hari kian tenggelam, dalam kubangan lumpur hitam. Saya sebagai Sumando orang Minang merasa terpanggil untuk menguatkan ikhtiar memperbaiki generasi.
Perspektif saya Minangkabau yang dikenal dengan filosofi agung Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat berlandaskan Islam, Islam berlandaskan Al-Qur'an) merupakan benteng terkuat untuk menghambat perilaku maksiat. Mungkin perlu kerja keras dan meningkatkan perjuangan dari semua elemen masyarakat Minangkabau untuk membumikan filosofi agung tersebut dalam konteks realitas kekinian. Tatkala gempuran globalisasi teknologi dari revolusi industri 4.0 semakin terstruktuf dan massif terhadap anak-anak dan kemanakan kita (Maafkan saya mamak rumah, jika salah menulis ungkapan adat).
“Berapa liter minyaknya Pak?” tanya penjual bensin. “Full tank Buk” jawab saya. Sapa penjual pertamini membuyarkan pikiran saya yang sedang berkecamuk, seperti berkecamuknya perang dagang antara negara Tirai Bambu dengan negara Paman Sam.
Selesai isi bensin, saya hidupkan mesin motor, pelan-pelan berjalan menuju kantor. Salam Jum''at Berkah untuk semua...
Sungayang, 06 Maret 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar