Jejak-Jejak di Trotoar
Jejak-Jejak di Trotoar
Langkah gontai dimakan oleh lelah yang mulai menggelayut
Tanganmu juga sudah mulai jemu dengan remah-remah
kehidupan yang kau jalani selama ini. Ragamu menangis penuh
air mata yang membeku. Tak mampu menahan kejamnya
sayatan luka waktu yang kian hari menari-nari di atas kepalamu
Kenyataan pahit yang mengakar di ladang kerontang kehidupan
memaksamu menggauli hari bersama mentari yang membakar
kulitmu. Memaksamu mengenyam kepedihan dan merajut benang
kemalangan dalam usia yang masih belum genap satu dasawarsa
Senyum kegetiran selalu menemani langkah-langkahmu. Senyuman
yang selalu menyatu dengan kepulan asap debu dan bau bensin
dan meninggalkan jejak-jejak di sepanjang trotoar yang berbatu
Sementara, bulan di atas sana sudah menantimu untuk bercengkrama
melalui malam sambil bercerita tentang hari esok yang masih sama
#TantanganGuruSiana#HariKe-112
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar