Susi Purwanti

Berusaha memaknai hidup, seorang guru di SMPN 1 Kotabaru - Karawang Jawa Barat...

Selengkapnya
Navigasi Web
Wlingi Lor
Harianmerapi.com

Wlingi Lor

Wlingi Lor

Bis kecil ini akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir, terminal kecil. Nampak sepi, hanya beberapa motor tanpa plat yang bisa dihitung dengan jari. Jam menunjukkan pukul 15.45 WIB, hmmm, pantas saja sepi. Terminal ini tak banyak berubah setelah tiga tahun lalu aku meninggalkan kampungku, Wlingi Lor. Sedikit aku seret koper besar dan tas gendong yang cukup berat bertengger dipundakku untuk mendekati sebuah delman yang parkir di ujung jalan menuju kampungku. Pasti delman Mas Pon gumamku.

“Mas Pon… apa khabar?” sapaku dari belakang delman. Lelaki itu menengok dan betapa kagetnya aku, ternyata bukan Mas Pon.

“Ya Mbak, saya delman terakhir ke kampung Wlingi Lor,” jelasnya seperti tahu aku akan ke kampung itu. Lantas dengan cekatan dia mengangkat koperku naik ke delman. Akupun segera naik dan tak berbicara. Mas Delman tersebut mulai memecutkan tali sampai kuda itu berjalan pelan. Hanya delman lah kendaraan menuju kampungku satu-satunya.

Kiri kanan khas jalan menuju kampungku tak berubah, pohon pohon besar dan rimbun membersamai perjalanan ini. Aku tersenyum ingat masa-masa kecil dulu kalau naik delman diajak Si Mbok ke kota, pasti lewat jalan ini.

“Mas, bisa lebih cepat jalannya? Hari sudah sangat sore,” ujarku. Kuda ini terlalu perlahan dan Mas Delmannya juga seperti santai saja. Bisa-bisa sampai lewat maghrib baru sampai di rumah Si Mbok. Ini sih sama saja dengan jalan kaki.

Semburat merah yang berebut menampakkan diri dari balik rimbunan pohon seolah-olah menyambutku. Tiga tahun aku tak pulang, rasa rindu sudah sangat membuncah, ah Mbok, maafkan aku yang terpaksa harus meninggalkanmu. Terakhir dapat kabar dari PakDe Karto sepupu Si Mbok bahwa keadaan Si Mbok sehat-sehat saja.

“Mas, bisa lebih cepat lagi kudanya?”

Ndak bisa Mbak…” jawabnya pelan.

Aku hanya bisa menggela napas, mau apalagi toh hanya delman ini yang dapat membawaku ke Kampung Wlingi Lor. Jalanan yang tidak mulus dan sepi ini mulai ramai terdengar suara binatang tonggeret bersahut-sahutan. Dulu, ketika aku kecil pasti Si Mbok akan menyuruhku segera masuk ke rumah.

“Masuk Nduk, sebentar lagi gelap, kalau masih diluar nanti ada yang mengajakmu main dan ndak akan dapat pulang ke rumah, masuk Nduk!” seru Si Mbok seraya menuntun lenganku masuk ke rumah yang tanpa listrik, temaram akan menemani kami sampai subuh menjelang. Si Mbok selalu mengajarkanku kalau selesai salat maghrib untuk duduk diam berzikir sampai isya datang.

Entah mengapa suara tonggeret ini sungguh meresahkanku, angin mulai kencang berhembus. Aku sungguh tak ingin memaksa lagi pada Si Mas Delman agar kudanya dapat berjalan lebih cepat. Hmmm sebentar lagi semburat merah pasti meninggalkan perjalanan ini, gelap menjelang. Ah, baru setengah perjalanan, sebentar lagi baru akan ketemu rumah Mbok Siyem sebagai penentu bahwa mulai ada pemukiman.

Tiba-tiba delman ini berhenti, mau apa pikirku. Mas Delman hanya terdiam saja dan memandang lurus ke depan.

“Kenapa Mas?” tanyaku keheranan.

“Saya turun dulu Mbak, sebentar…,” jawabnya pelan dengan suara bergetar. Lantas dia beranjak turun dan meninggalkanku. Kuda delman mulai meringkik. Tapi Mas Delman itu berjalan cepat ke belakang dan menuju rimbunan pohon. Entah mau kemana, kebelet buang air kecil, pikirku.

Cukup merinding sesore ini mendengar ringkikan kuda dan tonggeret bersahut-sahutan. Wusss! Angin terasa menyentuh telingaku, dingin. Kuda yang meringkik terdiam dan nampak tenang. Bulu kudukku kali ini berdiri. Rasa was-was mulai menghampiriku.

Gelap mulai menyapa dan delman ini kemudian berjalan kembali dan Mas Delman mulai memecutkan talinya. Ah, mulai cepat delman ini berjalan. Cepat dan semakin cepat sampai aku berpegangan pada batas tempat dudukku. Saking cepatnya blangkon Si Mas Delman terbang dan rambutnya ternyata panjang terurai. Mungkin tadi terhalang oleh blangkon pikirku. Semilir harum bunga tercium olehku. Agak aneh Mas Delman ini, mana ada di kampungku lelaki berambut panjang. Kuda ini sungguh sangat cepat sampai rambut panjang Si Mas Delman itu terbang dan hampir menyentuh wajahku. Harum! Ringkikan kuda kembali terdengar, kali ini dibarengi oleh suara dari Si Mas Delman meniru ringkikan kuda tersebut. Sesekali dia tertawa memecah malam. Kuda semakin cepat dan cepat sekali seperti berjalan melayang.

“Mbooook….,” batinku memanggil Si Mbok.

“Allaahu laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta’khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu ….

Brak! Gelap.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantap cerpennya keren

15 Aug
Balas

Keren kisahnya bun

14 Oct
Balas

Serammmm. Nunggu kelanjutannya

16 Aug
Balas

Wih..seram. tapi penasaran lanjutannya. Ditunggu lanjutannya Bu Susi

03 Dec
Balas

Selalu keren cerita horornya

16 Aug
Balas



search

New Post