MERENDA ASA PADA DAUN KERING
MERENDA ASA PADA DAUN KERING
Oleh Prapti Noer
Suprapti SDN Torongrejo 03 Kota Batu
Sebuah kalimat bijak dan sangat mendalam aku terima pagi ini. Pagi ini tanpa sebab yang pasti aku merasa tidak bahagia. Aku Sedih. Sebenarnya kesedihan ini tentunya aku sendiri yang menciptakan, persoalan-persoalan sepele yang kubesar besarkan. Naif.
Masalah berawal dari kedatangan mertuaku ke rumah. Dengan bangganya menceritakan kesuksesan adik misan suamiku yang sukses bekerja di Jakarta, Setiap kali berbicara pasti dibumbui nada bangga akan kesuksesannya.Dan sebagainya dan sebagainya.
Setiap perkataan yang muncul dari bibir sang mertua yang agung bagai kilatan belati tajam yang memporak porandakan harga diriku. Bagaimana tidak Mertuaku ini paling senang kalau membanding bandingkan kesuksesan orang.Dan aku memilih diam karena diam merupakan pilihan bijak yang sangat berarti, walaupun sebenarnya aku kelihatan cuek dengan apapun yang disampaikan mertua kepadaku, tetap saja aku merasa sedih dan sedih. Jika aku membantah akan menyebabkan dosa nggak membantah terasa sesak didada.
Dalam diamku aku menangis sejadi jadinya, biar rasa kesalku larut dalam tangis. Siapa tahu hati menjadi lega.
Tanpa kusadari adik kandungku datang untuk sedikit keperluan. Dan akhirnya aku menceritakan penyebab tangisku ini.
"Manusia itu ibarat daun kering" itu yang kutangkap pertama dari percakapan panjang kami.Sebuah daun kering dapat diterbangkan oleh angin kesana kemari.
Manusia zaman sekarang juga sama dengan daun kering itu. Mereka hanya kesana kemari menuruti hawa nafsunya.
Dan ketika daun kering itu dikumpulkan menjadi satu akan hancur ketika diremas.
Masih untung kalau daun kering itu dijadikan kompos berarti masih berguna bagi tumbuhan lain, tetapi kalau daun itu cuma disapu dikumpulkan dibakàr atau di remas. Tamàtlah sudah nasib daun kering.
Artinya apa? Kalau kita dapat mengendalikan lima nafsu yang ada pada diri kita berarti kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, tetapi bila kita membiarkan nafsu kita yang menyeret kita kesana kemari maka nasib kita sama dengan daun kering yang cuma berakhir dibakar.
Aku semakin menangis sejadi jadinya.Aku ingat semua dosa dosaku. Dimana aku belum mampu mengendalikan nafsuku
Aku masih senang di puji,aku juga masih senang dihargai, aku juga masih senang bila disanjung, dan aku merasa cemburu bila orang lain menceritakan kesuksesannya. Aku belum pasrah dengan kehendakNya
Hari ini masih dalam suasana lebaran, akan kucoba kembali, memaknai idul fitri yang sesungguhnya karena sesungguhnya
hari raya bukan bagi seseorang yang menggunakan pakaian baru...
tapi hari raya yang sesungguhnya adalah bagi seseorang yang ketaatanya semakin bertambah.
Bukanlah hari raya bagi seseorang yang menggunakan pakaian baru...
tapi hari raya yang sesungguhnya adalah bagi seseorang yang selamat di hari qiamat
Bukanlah hari raya bagi seseorang yang mampu menghias dengan menghampar permadani...
tapi hari raya yang sesungguhnya adalah bagi seseorang yang selamat melewati siroth/jembatan godaan nafsu angkara didunia
Bukanlah hari raya bagi seseorang yang mendapatkan uang berlimpah...
tapi hari raya yang sesungguhnya adalah bagi seseorang yang mentaati ALLAH yang Maha Mulia yang Maha pengampun
Hari ini kucoba merenda asa menjadi manusia yang lebih baik dari sebuah daun kering.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
"Mertuaku ini paling senang kalau membanding bandingkan kesuksesan orang." Yang terbaim adalah do'a tulus agar beliau diberi kebijaksanaan. Aamiin
Terima kasih Bu Umul
Benar Bu Firoh, menjadi lebih baik adalah makna iful fitri yang sesungguhnya.Ayoo kita lakukan
Benar bu erna , makasih kang yudha
Kontemplasi yang berkah. Saya turut berbenah.Trims Bu.
Subhanallah, sangat menginspirasi ...
Saya pernah tidak jadi memberi tetangga yang baru selesai operasi tumor payudara gara gara ďia bicarànya pamer kehebatan anak2nya. Duit itu saya kepel lagi dan bawa pulang. Seminggu kemudian dia meninggal. Saya sangat menyesal. Mengapa tidak saya berikan saja. Mungkin bisa dibelikannya lauk untuk makan. Sehingga dia kuat di kemoterapi. Meninggàlnya karenà tidak kuat di kemo. Orang yang suka pamer seb3narnya menutupi kekurangannya sendiri.