suhud rois

Guru di SD Peradaban Insan Mulia. Penulis. Editor MediaGuru. Penggerak Komunitas Guru Belajar Nusantara. Pelatih Kampus Guru Cikal ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Tidak Perlu Menunggu Sampai Siap
Tantangan Gurusiana, Guru Belajar, Suhud Rois

Tidak Perlu Menunggu Sampai Siap

“Kalau menunggu sampai siap, kita akan menghabiskan sisa hidup untuk menunggu.” _Lemony Snicket_

 

Menunggu sampai siap adalah mimpi.  Tentu saja tidak akan pernah jadi nyata kalau tidak segera bangun dan mulai mengejar mimpi itu. Bergeraklah. Kapan? Saat ini juga. Jangan habiskan waktu hanya dengan menunggu. Iya kalau datang, kalau tidak?

Melakukan perubahan praktik belajar juga tidak harus menunggu semuanya siap. Ada kebijakan dari pusat, ada arahan yang jelas, tersedia lengkap infrastruktur, dan sebagainya.  Semuanya bisa dimulai dari kelas kita.

Seorang teman saya, guru di SD Prima, salah satu contohnya. Dia mengajar di kelas satu. Kondisi seperti sekarang jelas sangat berat mengondisikan anak kelas satu SD. Mereka beralih ritme belajarnya, harus beradaptasi dengan cara belajar yang berbeda dengan sewaktu di TK. Bukan hanya itu, mereka juga harus berinteraksi dengan orang baru di dunia maya.

Memahami kondisi murid-murid dan orang tua mereka, teman saya tersebut tidak menjadikan sesi  zoom meeting sebagai satu-satunya jalan. Tentu saja akan sangat lama membangun kedekatan dengan murid-murid baru yang belum pada kenal.  Padahal, kedekatan murid dengn guru adalah pintu gerbang terjadi proses pembelajaran yang bermakna.  Tanpa ada kedekatan dengan gurunya, murid tidak akan merasa aman dan nyaman di kelas.

Apa yang teman saya tersebut lakukan? Secara terjadwal, dia melakukan panggilan video dengan murid-muridnya. Obrolan santai khas guru yang sebenarnya sedang mengarahkan anak untuk mempunyai kebiasaan (ritme) belajar.

Langkah ini mempercepat adaptasi murid dengan atmosfer sekolah, yang sebenarnya sama sekali tidak terbayang oleh mereka. Tentu saja akan sangat berbeda kalau teman saya tadi hanya menunggu murid-muridnya bisa mengikuti ritme sekolah dengan hanya mengandalkan pertemuan klasikal secara daring.

Itu contoh sederhana saja. Kita kadang-kadang (mungkin sering) menjadikan menunggu sampai siap sebagai kamuflase kemalasan atau keenggan kita. Bahkan, ada yang suka skeptis dan apatis. Banyak mengeluh dan pesimis.

Kita tidak bisa menunggu kalau mau maju. Mau menunggu apa? Ketertinggalan kita sudah cukup jauh. Bukan menunggu, melesatlah yang harus kita lakukan.

Apalagi yang kita hadapi adalah murid-murid. Mereka memang sedang belajar.  Banyak hal yang harus dibangun dan dikembangkan. Kondisi ideal yang guru harapkan, yakni kelas dan murid yang sempurna, tidak akan pernah datang. Justru guru ada untuk membangun suasana itu.

Hadapi semuanya dengan penuh kesadaran. Murid-murid sedang bertumbuh, kita sedang belajar membuat mereka berkembang. Semuanya bergerak. Tak ada yang diam, menunggu matang.

Proses belajar hanya akan terjadi bila mau bergerak. Begitu juga kehidupan. Kalau saat ini masih bergeming di zona nyaman, keluarlah. Berbagi dan belajarlah dari banyak guru yang lain.

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Ulasan yang menarik. Makasih, pak

12 Feb
Balas

Mantap,pak ulasannya salam literasi dan izin follow

11 Feb
Balas

Terima kasih, Bu

11 Feb



search

New Post