606.Mengenal Rumah Masa Depan
Semua manusia pasti akan mati. Kepastian ini tidak bisa diragukan lagi. Barang siapa yang meragukannya,maka akalnya telah mengalami gangguan. Sebab dalam kehidupan ini tidak ada yang kekal.
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al Anbiya’: 34).Yang pasti kekal abadi hanyalah Allah Swt.
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27). Sehingga berlakulah hukum alam bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan kematian tersebut
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ibnu Katsir ra mengatakan: “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/163). Meski kematian menjadi fakta yang tidak terbantahkan dan hampir setiap hari manusia menyaksikan orang lain yang harus kehilangan nyawanya,anehnya banyak manusia yang tetap santai saja tidak mau mengambil pelajaran dan menyiapkan bekal untuknya.
Seorang muslim berkeyakinan bahwa setelah ajal tiba,maka bagi yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk memandikan,mengkafani,menyolatkan,dan menguburkannya. Setelah jenazah dikuburkan,selesailah tugas jenazah dan orang muslim sekitarnya di dunia. Interaksi telah terputus karena berpindah alam. Alam dunia dan alam kubur menjadi sangat beda kondisi dan perlakuan masing-masing penghuninya. Penghuni kubur hanya bisa mengharapkan doa dari yang masih hidup. Sedangkan penghuni dunia hanya bisa mengambil pelajaran dari kematian yang pasti akan dialaminya juga.
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ، وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا
“Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).” (HR. Al-Hakim dari Sahabat Anas bin Malik ra). Rasulullah saw mengajarkan para sahabat ketika keluar menuju kubur dengan membaca doa. Dari Sulaiman bin Buraidah ra, dari bapaknya Nabi berdoa ketika masuk kuburan.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim, no. 975).
Bagi yang masih hidup dianjurkan sering pergi ke kuburan untuk untuk mengambil pelajaran dan memberi manfaat penghuni kubur dengan doa yang diajarkan Nabi saw tersebut. Adapun pelajaran tentang kubur yang harus menjadi renungan dan motivasi diri sehingga kwalitas diri dan ibadah menjadi lebih baik lagi adalah sebagai berikut. Setiap manusia yang masuk ke kubur pasti akan ditanyai dengan beberapa pertanyaan. Allah Swt berfirman.
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27). Dari Al-Bara’ bin ‘Azib ra, Nabi saw menerangkan tentang ayat tersebut,beliau mengatakan;
فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ
“Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871). Al Baraa’ bin ‘Azib ra mengatakan,
نَزَلَتْ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ
“Ayat ini turun untuk menjelaskan adanya siksa kubur.” (HR. Muslim). Ibnul Qoyyim ra mengatakan bahwa hadits yang menjelaskan mengenai siksa kubur adalah hadits yang sampai derajat mutawatir. (At Tafsir Al Qoyyim, 359) . Bisa tidaknya menjawab pertanyaan tergantung kondisi mayit ketika menjalani kehidupan di dunia dahulu. Bagi seorang mukmin yang bertakwa akan mudah menjawab semua pertanyaan tersebut. Namun bagi yang suka bermaksiat,banyak dosa,apalagi yang ingkar kepada-Nya,tentu pertanyaan simpel tersebut akan menjadi ruwet dan masalah besar baginya.
Keadaan kubur yang perlu dikenali sejak dini berikutnya adalah bahwa kubur akan menjadi sempit ketika setiap ada mayat yang dimasukkan. Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit mayat tersebut. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz ra, padahal kematian beliau membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda,
هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
“Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh al-Albani ra. Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695). Terdapat hadits dalam musnad Imam Ahmad ra yang menyebutkan bahwa.
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
“Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih). ‘Abdullah bin Abbas ra juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,
لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ
“Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306). Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil juga tidak selamat dari penyempitan tersebut. Dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda,
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ
“Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5/56). Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.” Kadar penyempitan tergantung dengan jumlah dosa yang telah diperbuatnya. Semakin sedikit dosa mayat semakin ringan dan sebentar penyempitannya. Semoga kita sukses dalam menjawab pertanyaan kubur dan terhindar dari beratnya penyempitan atau himpitan kubur. Amin []
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar