Memori Kertas Coretan
Tantangan Hari ke-29
#TantanganGurusiana
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari yang bersejarah bagi murid-murid SD dalam mengikuti lomba Olimpiade Sain Nasional tingkat kabupaten. Setelah mereka berjibaku di tingkat kecamatan, kini saatnya mereka berusaha menjadi yang terbaik di tingkat kabupaten. Persaingan tentu lebih ketat. Siapa yang siap tentu dialah yang akan menjadi pemenang.
Hari itu aku berangkat pagi sekali. Aku mendampingi muridku yang lolos ke tingkat kabupaten. Kebetulan dia juga anak kandungku sendiri. Namanya Icha. Kelas 5. Sengaja kami berangkat lebih awal agar tidak ketinggalan. Sesampai di tempat lomba, ternyata peserta sudah banyak yang datang. Panitia juga terlihat sudah siap untuk melaksanakan lomba.
"Bagaimana, Mbak?" tanyaku kepada Icha. Aku memanggil Mbak kepada Icha. Icha Pertiwi nama lengkapnya. Icha adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya laki-laki. Dalam keluargaku, kami mengajarkan pemanggilan sesuai dengan posisi di keluarga. Tapi bila di sekolah aku memanggilnya Pertiwi.
"Bismillah aja, Yah," jawab Icha meyakinkan.
Icha memang sudah aku persiapkan beberapa bulan sebelumnya. Berbagai macam soal latihan sudah kuberikan. Terutama soal-soal olimpiade tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, biasanya soalnya tidak jauh berbeda. Tapi tetap saja tingkat kesulitannya lebih tinggi dan perlu penalaran. Hanya siswa yang mempunyai inteligensi tinggi yang mampu menyelesaikannya.
Teet! Teetttt! Teeetttt!
Bunyi bel berbunyi. Siswa yang mengikuti lomba segera berkumpul dalam ruang lomba. Ruang yang yang disiapkan panitia sebanyak dua ruang. Satu ruang untuk bidang Matematika dan satu ruang lagi untuk bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Para pendamping dari sekolah juga diminta memasuki ruangan. Termasuk aku. Aku ditugaskan oleh kepala sekolah untuk mendampingi dan membina siswa yang akan mengikuti olimpiade terutama bidang matematika. Hobiku terhadap pelajaran ini membuat aku senang diberikan tugas tersebut.
Dalam kata sambutannya, ketua panitia menyampaikan bahwa seleksi tingkat kabupaten adalah tahapan yang harus diikuti seluruh peserta. Disampaikan juga bahwa peserta yang boleh mengikuti adalah juara 1 dan 2 dari kecamatan masing-masing. Nantinya hanya juara satu sampai dengan tiga yang akan dikirim ke tingkat provinsi. Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengharap agar peserta jangan terburu-buru dan lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan soal-soal. Kepada siswa yang terbaik, selain diberikan piala juga diberikan uang pembinaan.
Acara pembukaan berakhir. Aku melihat siswa sudah masuk sesuai ruangan yang disiapkan. Kulihat Icha bersama teman lainnya mulai memasuki ruang matematika.
"Semangat!" kataku sambil mengepalkan tangan kanan ke atas ketika Icha tersenyum kepadaku.
Icha membalas dengan mengepalkan tangan seperti yang kulakukan. Kulihat langkahnya meyakinkan dan tanpa beban. Berulang kali kusampaikan, tidak usah grogi saat menghadapi lomba. Yakinlah dengan kemampuan sendiri.
Tepat pukul 09.00 lomba dimulai. Kulihat dari luar jendela panitia sudah memasuki ruangan. Di tanganya terdapat amplop yang masih terbungkus rapi dengan plastik. Itu pasti soal, kataku dalam hati.
"Anak-anak sebelum lomba dimulai, mari kita berdoa terlebih dulu!" kata panitia.
Setelah berdoa, panitia membagikan soal kepada peserta. Kulihat dari kaca jendela, Icha sudah mendapatkan soal dan lembar jawaban.
"Pak, Arya!"
Seseorang memanggilku. Kulihat teman kuliahku Pak Soleh melambaikan tangan ke arahku.
"Apa kabar, Pak?" tanyaku kepada Pak Soleh begitu aku duduk di sebelahnya.
"Alhamdulillah, Pak. Kabar baik," jawab Pak Soleh. "Kita ngobrol di sana saja!" ajaknya sambil menunjuk tempat dekat pintu gerbang. Disitu ada dua buah kursi yang tidak dipakai. Aku mau mengiyakan saja karena tempat yang dituju tidak jauh dari ruang tempat Icha mengikuti lomba.
"Muridnya ikut lomba apa, Pak Arya?" tanya Pak Soleh mengawali pembicaraan.
"Matematika, Pak. Kalau murid Pak Soleh?" Aku balik bertanya.
"IPA."
Kemudian kami pun asyik membicarakan masa-masa kuliah dulu. Tentang tugas yang belum dikerjakan atau makan di kantin yang kadang ngutang dulu dengan ibu kantinnya. Bayarnya kalau sudah dapat transferan dari orang tua. Itupun sering tidak tepat waktu. Mengingat masa-masa itu kamipun tersenyum.
Sudah sekitar setengah jam aku ngobrol santai dengan Pak Soleh. Berarti setengah jam pula para peserta lomba mengerjakan soalnya. Dari kejauhan kulihat pintu ruangan lomba terbuka, seorang anak perempuan berlari mendekati saya. Dia menangis. Icha! Ya, anak itu Icha. Pandanganku tidak salah lagi. Anak yang menangis itu adalah Icha murid sekaligus anakku.
Aku pun berlari menyambutnya. Aku memeluknya dengan penuh tanda tanya.
"Sakit, Mbak?"
Icha menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" tanyaku tambah keheranan.
"Kertas.." jawabnya sambil menangis.
"Kertas apa?"
"Nggak dikasih kertas untuk coretan... "
"Oh ..." Aku hanya manggut-manggut. Icha terbiasa menggunakan kertas coretan untuk mengerjakan soal. Ya. Kertas coretan yang digunakan untuk hitung menghitung. Dalam beberapa kesempatan aku selalu meminta Icha langsung menuangkan pikirannya dalam kertas. Tidak boleh terlalu lama di angan-angan. Karena waktu sangat terbatas dan soal membutuhkan penalaran yang tinggi. Kertas coretan yang kuberikan biasanya cukup banyak. Bahkan lebih. Mungkin panitia lupa menyiapkan atau terlambat mengambil kertas coretan. Aku juga lupa memberikan kertas untuk persiapan.
"Ya. Sudah! Nggak usah nangis. Itu panitia sudah menyiapkan kertas."
Icha berhenti menangis. Matanya sembab. Masih sesenggukan. Icha kembali masuk ruang diiringi tatapan mata para guru pendamping yang berada di luar ruang.
"Yah, makan!"
Suara istriku mengagetkan lamunanku. Kuletakkan foto Mbak Icha saat masih sekolah di SD di meja kerjaku. Foto itu kuambil dari dinding ruang keluarga.
"Ayah ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, Bu," kataku dengan sedih.
"Kejadian lomba OSN, kan?" tanya istriku.
"Iya. Kejadian karena kecerobohan Ayah."
"Sudahlah, Yah! Anak kita sekarang kan sudah kuliah. Sesuai dengan cita-citanya. Jadikan peristiwa kertas coretan itu jadi pelajaran yang berharga." kata istriku.
"Tak terasa kejadian itu sudah berlalu sepuluh tahun. Semoga peristiwa itu tidak membekas di hati Mbak, ya Bu." Aku berharap kejadian itu sudah dilupakan. Meskipun sakit tetapi semoga dianggap bagian dari kehidupan yang harus dijalani. Tidak usah menyalahkan siapapun. Karena sebenarnya Allah maha tahu segalanya.
"Ibu percaya dengan Mbak, kok Yah. Mbak pasti menjadikan peristiwa itu pengalaman dalam hidupnya," kata istriku.
Aku mengangguk. Aku setuju. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Aku pun juga mengambil hikmah dari kejadian kertas coretan ini. Bahwa setiap kegiatan harus direncanakan terlebih dahulu. Sekecil apapun. Sehingga kertas coretan yang kita anggap tidak penting menjadi sangat penting untuk anak yang terbiasa menggunakan kertas coretan. Spesial untuk Mbak dan Adik : Tetap Semangat!
Sarolangun, 12 Februari 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar