Titik titik air titik
#Tantangan guru siana hari ke 1
Suci Maiza
Merasa ingin menangis, maka menagislah. Menangis, ia milik semua orang? Tuhan menciptakan air mata sebagai salah satu wujud kebesaranNya. Di mana ketika ia titik ia akan membawa pergi sedikit beban yang berada di hati. Alangkah ajaibnya, setitik air mata mampu menggambarkan nisan dari sebuah mimpi yang terkubur dan terpendam. Deskripsinya adalah seperti seorang anak yatim yang melihat seorang anak seusianya dipeluk manja oleh kedua orangtuanya sedang ia berdiri di sudut halte dengan perut yang lapar, atau juga seperti berada di sorak Sorai sekolah dimana semua teman sibuk bergembira karena akan kuliah di universitas sedangkan kita hanya bisa menggenggam erat ijazah dengan penuh duka. Bisa juga seperti mendengar pernikahan adik sedangkan kita teman pria pun tak ada. Bagaimanakah rasanya?
Luka
Sedih
Kecewa
Malu
Benci
Dan pertanyaan "mengapa" yang selalu menuntut jawaban pada diri sendiri.
Semua perasaan itu yang pada akhirnya bermuara di titik hati dan menjelma menjadi air mata.Ketika itu, tidak penting apakah kita orang yang kuat atau lemah, atau kita sosok yang tegar lagi tabah, apalagi membawa bawa kata sabar sebagai penadah putus asa. Maka menagislah. Mungkin menangis akan berguna dan diperlukan disaat saat tertentu. Tak perlu merasa lemah atau cengeng, atau takut matamu terlihat sembab, maka menangislah karena air mata Tuhan ciptakan untuk menghadapi situasi seperti itu.
Dunia memang tidak adil, maka untuk itulah kau di lemparkan ke sana. Untuk melihat semua percik aura buruk dan busuk sampah yang ada di sana. Dan kau masih saja bertanya "mengapa". Mengapa kau begini orang begitu, mengapa yang lain bahagia kau tidak, mengapa terjadi? Dan mengapa mengapa yang lainnya. Dunia memang tidak adil, itulah mengapa ia disebut dunia, tidak disebut surga juga tidak disebut neraka. Di sanalah semua intrik licik memenangkan lomba, akal bulus mendapatkan tropi dan tipu muslihat mendapat tempat terbaik.
Menangislah, tapi dengan menangis yang baik. Menangislah tanpa bertanya mengapa? Karena tidak ada jawaban untuk kata itu. Pertanyaan itu hanya akan membuat rasa ingin menangismu sirna dan beban mu tak akan banyak berkurang. Menangislah, sebanyak banyaknya, setuntas tuntasnya, benci dan caci maki lah semua hal yang membuatmu jatuh, sumpah serapahlah semua ketidakberdayaanmu, perkuat rasa ingin menangismu dengan mengingat hal hal terburuk yang pernah terjadi padamu. Biarkan air matamu tak lagi menitik tetapi tumpah setumpah tumpahnya.
Tetapi setelah itu,
Berdirilah, angkat wajahmu yang basah itu, busungkan dadamu dan tegapkan kepalamu ke depan lalu genggamlah tanganmu sekuat kuatnya.
Dan mulailah berbisik "Allah"
Hatimu yang kotor itu telah bersih dengan air matamu, sejuklah isakmu dalam sujudmu. Bertambah pula jatuh air matamu. TapiTia berbeda. kini ia tak jatuh percuma karena ada satu nama yang ikut mengalun mesra" Allah...Allah...Allah"
Lihatlah sayang, Allah tak pernah menjanjikan kebahagiaan tetapi ia menjanjikan kebaikan, ia tak pernah menjamin engkau untuk selalu senang dan tersenyum tapi ia menjanjikan keberkahan. Dengan kebaikan dan keberkahan itulah kita berdiri. Bahwa apa yang tampak membahagiakan mereka belum tentu baik dan apa yang merupakan kesenangan mereka belum tentu pula berkah. Tetapi air mata yang mengalir karena duka dan deritamu tentulah kebaikan dan keberkahan karena darinya kau bisa banyak belajar.
Sungai penuh 3 Agus 20.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar