Sri Purnama Dewi

Sri Purnama Dewi, guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Semarang, lahir di kota yang sama tanggal 14 Januari 1968. Kegemarannya menulis telah menelorkan satu buku...

Selengkapnya
Navigasi Web
MATINYA SEKOLAH
https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/19/07/25/pv6yyq283-sekolah-ditinggal-murid

MATINYA SEKOLAH

Mendikbud Nadiem Makarim merencanakan membuka sekolah pada pertengahan bulan Juli. Wacana tersebut bakal terealisir apabila Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memberikan lampu hijau terkait kondisi di lapangan.

Berita tersebut menuai polemik di masyarakat. Mereka meyakini bahwa kondisi saat ini masih rawan bagi siswa dan guru untuk melakukan aktivitas pembelajaran di luar rumah / melakukan pembelajaran secara tatap muka di kelas.

Salah satu pernyataan keras yang menentang rencana ini dilontarkan oleh Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim. Ramli mengusulkan pada pemerintah untuk membuka tahun ajaran baru pada bulan Januari 2021. Bila usulan tersebut disetujui berarti pembelajaran semester genap ini mundur satu semester lagi.

Apapun skenario yang diterapkan akan memunculkan berbagai kemungkinan. Jika Menteri Pendidikan membuka sekolah pada pertengahan Juli, peraturan sekolah tidak bisa dijalankan sebagai mana mestinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sikap warga sekolah terhadap potensi penularan penyakit ini. Bagi yang beranggapan bahwa penyakit ini mematikan, maka akan lebih memilih tetap merumahkan anak-anak mereka sampai pemerintah benar-benar mengumumkan negara telah “aman”. Guru akan bertambah beban kerjanya dalam proses pengajaran, yakni menyiapkan materi tatap muka dan materi daring sekaligus. Sangsi ketidakhadiran siswa ke sekolah tidak lagi bisa diterapkan secara tegas karena warga sekolah memerlukan ‘dispensasi/ pelonggarkan aturan’, khusunya bagi yang merasa memiliki gejala sakit/ takut ke luar rumah. Yang demikian juga bakal berdampak pada sistem evaluasi/ penilaian. Sekolah memiliki pekerjaan rumah yang rumit untuk menentukan standar penilaian/ kriteria penilaian.

Bila skenario ke dua yang diterapkan (membuka sekolah pada awal Januari 2021) berarti membiarkan sekolah (baca : kelas) sunyi tanpa aktifitas dalam jangka waktu yang terlalu lama.

Disisi lain siswa dan guru memiliki pengalaman (baca: terbiasa) pembelajaran jarak jauh / daring selama + 10 bulan / hampir satu tahun. Kalau pada awalnya mereka tertatih-tatih dalam melaksanakan pembelajaran daring, maka jangka waktu tersebut menjadikan mereka terlatih belajar dan bekerja menggunakan tehnologi / media digital. Mereka menjadi terbiasa belajar dan bekerja tak berbatas ruang dan waktu.

Salah satu contohnya adalah kemudahan yang ditawarkan aplikasi zoom untuk melakukan kegiatan tatap muka jarak jauh. Proses enam bulan ke depan bisa dipastikan akan bermunculan aplikasi-aplikasi baru yang jauh lebih canggih dari zoom. Fitur- fitur baru yang menawarkan kemudahan dan kenyamanan untuk melakukan kegiatan PJJ bakal dengan mudah di-instal.

Hal ini menimbulkan dampak yang serius bagi siswa dan guru. Bakal tidak mudah bagi mereka putar balik dari kegiatan pembelajaran bertehnologi / memanfaatkan sarana digital , kemudian harus kembali ke model klasik pada tahun 2021 nanti.

Melihat kemungkinan yang muncul seperti yang diuraikan di atas, akan lebih bijak apabila pemerintah membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. Tidak baik kelas dibiarkan kosong terlalu lama. Sebagaimana rumah yang terlalu lama tak di huni maka akan memunculkan aura yang kurang baik.

Alasan lainnya, selain belajar ilmu pengetahuan, siswa perlu melaksanakan pembelajaran praktikum di laboratorium yang tidak bisa dilakukan secara on line. Siswa juga perlu pendidikan bermasyarakat/ bersosialisasi dan mengembangkan pendidikan karakter.

Terkait dengan keresahan masyarakat akan keganasan virus corona, pemerintah perlu mendengarkan pendapat para ahli bahwa virus ini tidak berbahaya apabila tidak dibarengi dengan mengindap penyakit lain. Seperti apa yang disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat pada suryaflobamora.com (27/5/20). Victor menyatakan bahwa Virus Covid-19 ini, tidak pernah mematikan siapapun di dunia ini. Yang dinyatakan positif dan meninggal, adalah orang yang mempunyai penyakit bawaan lain. Pendapat Viktor sejalan dengan apa yang disampaikan Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan RI tentang pandemic COVID -19. “Flu burung saja yang lebih mematikan bisa kita hadapi, apalagi virus Corona. Jadi yakinlah, bahwa memang belum ada virus Corona di Indonesia. Menkes Terawan pasti bisa memimpin kita menghadapi ancaman virus Corona, pemerintah dan masyarakat tidak perlu panik karena orang Indonesia sendiri memiliki daya tahan tubuh lebih” tegasnya. Tentu saja himbauan untuk selalu menjaga kebersihan dan melaksanakan protokoler kesehatan selama proses pembelajaran tatap muka di kelas tetap terus dilakukan. Membiarkan kelas kosong terlalu lama akan berdampak matinya sekolah. Waspada boleh tapi takut dan bodoh yang tidak boleh.

https://news.detik.com/berita/d-5025000/5-fakta-siti-fadilah-yang-blak-blakan-soal-konspirasi-dan-corona?utm_source=facebook&fbclid=IwAR2C1KyVqIJbmuFyWmQLNTSHEnm9Pzy9rpNTU2bttNHxo9b_00y5FyYRQWU

https://www.ruanguru.my.id/2020/05/ketum-igi-guru-dan-siswa-rugi-besar.html?fbclid=IwAR0AMjVo_TbRdpv06LGagi78wUmdVpPbrpcx_FbfHj1gh2Nc5LLrqXfB91A

https://suryaflobamora.com/2020/05/27/10-pernyataan-gubernur-ntt-lawan-who-menuju-kehidupan-normal/?fbclid=IwAR30mh0UcCwlgqvGciaIxURK_Un_Uw4uad1H2B2XgCGn4h6uBadPXdeQ6v0

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

waspada bileh bang gak boleh bodoh, setuju, salam literasi

30 May
Balas

salam literasi

30 May

Betul sekali bun

30 May
Balas

Thanks bunda Tusilia aoresiasinya... salam literasi

30 May

Yes

30 May
Balas

Salam litersi bunda Irma

30 May

Izin berkomentar bu,Selama Covid-19 saya lebih banyak belajar hal yang terutama menjadi fokus saya.Bahkan saya sering mengeksplor hal-hal baru yang juga membuat saya menjadi lebih semangat dalam belajar.Setiap hari saya lebih sering membaca buku karena memang banyak waktu luang di saat karantina juga sering menulis catatan pribadi dan bahkan untuk media "walaupun blm dipublish hehe".Saya belajar banyak hal baru yang sifatnya lebih praktikal,saya berdisku kepada masyarakat sekitar yang punya pengalaman lebih di bidang saya yang mungkin itu tidak diajarkan di sekolah Jadi selama covid-19 ini menurut saya membuat jelas bahwa pendidikan Indonesia memang harus diubah,karena beda sekali saat saya belajar di sekolah dengan kurikulum yang ada, saat di sekolah saya lebih merasa dituntut dan ditekan sehingga ruang dan kebebasan saya dalam belajar menjadi sangat sedikit.Dengan durasi pembelajaran yang terlalu panjang dan tidak efektif menurut saya.Dan mayoritas peraturan di sekolah yang sekaakan-akan mematikan kreativitas siswa,katakanlah segala ide dan gagasan yang bertentangan dengan peraturan sekolah dianggap salah.Nah jadi saya merasa kemerdekaan saya dalam belajar telah direnggutBerbeda sekali saat saya melakukan pembelajaran di rumah.Saya merasa seperti lebih fokus karena saya seperti memiliki ruang dan kebebasan dalam belajar.Lingkungan belajar sayapun tidak menekan dan cendrung menghasilkan kualitas pembelajaran daripada durasi pembelajaran yang sangat panjang tetapi tidak efektif.Mungkin kedepannya pemerintah dapat membentuk kurikulum yang lebih memahami dan mendukung pembelajaran siswa,tentunya juga didukung para guru yang memang mengajar dan mendidik dengan kasih sayang bukan dengan ancaman,tekanan atau bahkan kekerasan

01 Jun
Balas

Izin berkomentar bu,Selama Covid-19 saya lebih banyak belajar hal yang terutama menjadi fokus saya.Bahkan saya sering mengeksplor hal-hal baru yang juga membuat saya menjadi lebih semangat dalam belajar.Setiap hari saya lebih sering membaca buku karena memang banyak waktu luang di saat karantina juga sering menulis catatan pribadi dan bahkan untuk media "walaupun blm dipublish hehe".Saya belajar banyak hal baru yang sifatnya lebih praktikal,saya berdisku kepada masyarakat sekitar yang punya pengalaman lebih di bidang saya yang mungkin itu tidak diajarkan di sekolah Jadi selama covid-19 ini menurut saya membuat jelas bahwa pendidikan Indonesia memang harus diubah,karena beda sekali saat saya belajar di sekolah dengan kurikulum yang ada, saat di sekolah saya lebih merasa dituntut dan ditekan sehingga ruang dan kebebasan saya dalam belajar menjadi sangat sedikit.Dengan durasi pembelajaran yang terlalu panjang dan tidak efektif menurut saya.Dan mayoritas peraturan di sekolah yang sekaakan-akan mematikan kreativitas siswa,katakanlah segala ide dan gagasan yang bertentangan dengan peraturan sekolah dianggap salah.Nah jadi saya merasa kemerdekaan saya dalam belajar telah direnggutBerbeda sekali saat saya melakukan pembelajaran di rumah.Saya merasa seperti lebih fokus karena saya seperti memiliki ruang dan kebebasan dalam belajar.Lingkungan belajar sayapun tidak menekan dan cendrung menghasilkan kualitas pembelajaran daripada durasi pembelajaran yang sangat panjang tetapi tidak efektif.Mungkin kedepannya pemerintah dapat membentuk kurikulum yang lebih memahami dan mendukung pembelajaran siswa,tentunya juga didukung para guru yang memang mengajar dan mendidik dengan kasih sayang bukan dengan ancaman,tekanan atau bahkan kekerasan

01 Jun
Balas



search

New Post