Navigasi Web

Menatap Senja

Waktu terus berlalu, ternyata waktu magang Ana dan Tari hanya tinggal menghitung hari saja Tak terasa mereka pun harus kembali ke kampus dan disibukkan dengan rutinitas kuliah seperti biasanya. Meski mereka harus kuliah dan juga magang, namun tugas kuliah tak pernah telat. Ana juga sudah hampir menyelesaikan SKS nya. Setelah semester ini Ia sudah bisa mengajukan judul skripsinya. Ana memang luar biasa perempuan baik dan pintar yang selalu menjadi motivasi Tari hingga Ia semangat untuk mengejar sarjananya. Perempuan berdarah batak itu pun banyak mendapat pelajaran hidup selama berteman dengan Ana bahkan kini sudah seperti saudara kandungnya sendiri.

“Tari…kita kan sebentar lagi mau selesai nih, kita mau kasi apa ya untuk kenang-kenangan di kantor.”

“Oh iya ya…apa ya yang cocok, aku bingung juga Na, soalnya kantor ini sudah punya semuanya dan elite lagi, apalah yang mau kita kasi.”

“Iya juga sih…ntar yang kita kasi nggak berguna juga.”

“Kita harus cari ide ini Na.”

“Aku tahu Tari…”

“Apa memang?”

Ana membisikkan sesuatu ke telinga Tari.

“Bagus itu, aku setuju lah kalau itu.”

“Aku juga nanti mau buat makanan untuk perpisahan kita nanti, kita masak sendiri ya.”

“Kau bisa Na?”

“Aku juga jago masak Tari…tapi aku jarang masak karena ada si bibik.”

“Ya sudah yok kita kerja.”

Sementara itu, Ariel di kantornya mulai resah, Ia tahu kalau sebentar lagi Ana akan kembali ke kampus. Ia pasti akan merindukan momen kebersamaan mereka di kantor dan yang lainnya. Setelah ini Ia akan jarang ketemu Ana, karena biasanya setiap hari wajah cantik itu selalu hadir dihadapannya.

“Permisi Pak…”

Kata sekretaris Ariel.

“Iya, ada apa?”

“Maaf…Bapak sakit ya? kelihatan tidak semangat gitu.”

“Oh…nggak, saya baik-baik aja kok. Ada apa?”

“Ini Pak, saya minta tandatangan Bapak untuk dokumen yang harus kita kirim ke kolega kita.”

Ariel langsung menandatangani berkas yang diberikan oleh sekretarisnya itu.

“Bapak sudah sarapan?”

“Kebetulan belum, saya kurang nafsu untuk makan.”

“Pantas Bapak terlihat agak pucat. Mau saya belikan sarapan untuk Bapak?”

“Boleh juga, belikan dua porsi ya.”

“Baik Pak.”

Tak lama kemudian sang sekretaris sudah tiba dan mengantarkan makanan untuk Pak Bos.

“Panggilkan Anastasia ya.”

Sekretaris Ariel mengangguk dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian Ana sudah muncul dihadapan Ariel.

“Bapak panggil saya?”

“Iya…temeni saya sarapan ya.”

Kebetulan Ana pun belum makan.

“Bapak sedang sakit?”

“Nggak, saya baik-baik saja.”

“Bapak kelihatan pucat dan kayak lemas gitu. Atau karena Bapak belum makan mungkin.”

“Ya sudah ayo kita makan, kamu belum makan kan?”

Ana menggelengkan kepalanya.

Ariel sedikit bahagia dalam beberapa hari kedepan masih bisa makan bareng Ana, setelah itu mungkin tak seperti ini lagi. Ia terus saja menatap wajah cantik itu, rasanya Ia ingin selalu bersamanya. Memikirkan hal ini saja Ia sampai tak bisa tidur bahkan tak selera makan.

Ikuti kelanjutannya!

Asahan, 14 Agustus 2024

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post