Navigasi Web

Menatap Senja

Sementara itu, Bu Dewi yang sedang duduk disebelah Ariel mulai menggoda anaknya yang lagi kasmaran itu.

“Kenapa Ma? Kok mama senyum-senyum sih.”

“Nggak apa-apa, mama cuma senang aja, ternyata begini ya kalau anak mama lagi bucin.”

“Apaan sih Ma…”

“Berarti mama berhasil dong..”

“Maksudnya?”

“Mama berhasil mencarikan pendamping kamu yak an?”

“Mama…ngeledek terus ya…”

“Kenyataan kan? Kalau tidak, mana mungkin kamu mau beliin Ana perhiasan semewah itu, bahkan sampai bohong segala katanya untuk mama dan mama juga harus bohong lagi sama Carissa demi kamu.”

“Menurut mama gimana? salahkah?”

“Yang namanya bohong itu tetap salah, lain kali kamu harus jujur pada siapapun.”

“Iya Mama, sekali aja…”

“Terus gimana persiapan kamu besok? Kamu mau jemput Ana jam berapa? Sudah dikasi tau belum?”

“Belum Ma, ntar aku kabari, agak siang ajalah Ma.”

“Iya…soalnya perempuan itu dandannya lama, jangan ngasi tahu tiba-tiba.”

“Iya Ma…tapi kira-kira Ana mau nggak ya Ma, pakai perhiasan yang aku kasi.”

“Mau lah…dia pasti pakai kok besok, tenang aja ya. Mama lagi ngebayangin gimna cantinya Ana pakai gaun yang mama beliin ditambah perhiasan yang kamu pakai. Jangan-jangan pengantinnya bisa kalah sayang…”

“Mama bisa aja ya…”

“Sudah aha, aku mau bersih-bersih dulu Ma, bentar lagi magrib.”

“Ntar makan malam bareng ya, papa juga pulang cepat hari ini.”

Ariel sudah tak sabar menunggu hari esok. Pernyataan mamanya tadi membuat Ia terus menghayalkan Ana dengan penampilannya besok.

Di tempat yang berbeda, Alvine mulai resah setelah Ariel tahu kalau Ia dosen Ana. Ia tak berani untuk ketemu Ariel takut jika sahabatnya itu akan mempertanyakan masalah itu lagi.

“Nak…kamu kenapa?”

“Ayo makan malam, papa sudah nunggu lho.”

“Iya Ma.”

Mereka pun makan malam bersama menikmati kebersamaan yang jarang terjadi dikarenakan kesibukan masing-masing.

“Sayang…gimana kamu masih mau jadi dosen atau kembali ke bisnis?”

“Ntar dulu lah Ma, aku masih mau ngajar aja dulu.”

“Terus gimana? kamu apa mau gini-gini aja, kenapa nggak mikirin pendamping hidup kamu.”

“Belum kepikiran Ma, masih senang sendiri aja.”

“Atau perlu papa mama yang nyariin buat kamu?”

“Nggak lah Pa…aku kan bisa sendiri.”

“Papa sama mama ada kok calon buat kamu, anak sahabat papa. Orangnya cantik, baik, sopan, pintar lagi. Idaman mama kamu banget.”

“Papa, Mama…sudah ya, aku nggak mau ah dijodohin. Ini bukan zaman siti nurbaya lagi. Aku akan cari pendamping aku sendiri.”

“Ya sudah kita tunggu aja Pa…seperti apa pilihan dia. Sayang kamu bebas menentukan pilihan, tapi pesan mama cari yang bukan hanya sayang sama kamu saja, tapi sayang juga dengan keluarga kamu.”

“Iya Ma…”

“Mama mau sholat isya dulu ya nanti langsung ke kamar mau istirahat, kalian kalau mau ngobrol lanjut aja.”

Alvine tak tenang mendengar sang mama dan juga papa yang sibuk untuk menjodohkannya. Padahal Ia tak suka dengan gaya perjodohan. Ariel saja yang mau dijodohkan selalu Ia ledeki, masa iya Ia juga harus dijodohkan. Waduh gengsi dong. Gimana dia menghadapi Ariel kalau dijidohkan juga.

Ikuti kelanjutannya!

Asahan, 22 Juli 2024

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post