Menatap Senja
Tiba di rumah, Ariel langsung diintrograsi oleh sang mama, Ia diminta untuk cerita tentang semuanya. Padahal Ariel baru aja duduk tapi mamanya langsung menyerangnya.
“Gimana sayang? Certain dong, mama sudah nungguin kamu lho dari tadi.”
“Ya ampun Ma…apa sih yang mau diceritain, aku kan cuma menghadiri resepsi.”
“Ana mau kan pakai baju dan perhiasan yang kita kasi?’
“Mau Ma…dia pakai kok semuanya, tadi dia juga cantik banget Ma…ini fotonya.”
Ariel menunjukkan handphonenya.
“Kok bisa kalian foto.”
“Ya bisalah Ma….diem-diem , kalau dibilang Ana langsung nolak lah Ma.”
“Cantik banget Ana…masyaallah…kamu juga ganteng sayang…pasangan serasi.”
“Mama tahu nggak?”
“Iya apa sayang?”
“Aku sudah bilang ke Ana kalau aku bener-bener serius dengan dia dan ingin melanjutkan hubungan kita bukan hanya sebagai teman saja.”
“Terus?”
“Ana masih belum menjawab sih Ma, ya aku kasi waktu untuk dia.”
“Ide bagus sayang, setidaknya Ana sudah tahu kalau kamu bener-bener sayang sama dia dan kamu nggak akan mempermainkan dia.”
“Kira-kira dia mau membuka hatinya nggak ya sama aku Ma?”
“Insyaallah Ana akan menerima kamu sayang…kita sama-sama beroda ya.”
“Iya Ma..makasih ya…mama selalu support aku.”
Ariel melanjutkan ceritanya, Ia menceritakan semua yang terjadi tadi bahkan Ia juga cerita bagaimana perhatian Ana padanya hingga kebersamaan mereka yang begitu berarti bagi Ariel.
Di tempat yang berbeda, Ana justrumenceritakan semuanya pada Tari sang sahabat sejati. Ia mulai merasakan kedamaian dan kenyamanan berada di dekat Ariel. Tari pun mulai meledek Ana.
“Cie…cie..Pak Bos berani juga dia ya…”
“Aku belum jawab lah Tari…aku masih bingung dengan hati aku.”
“Pak Bos itu orangnya baik, dia pantas untuk orang baik macam kau.Aku setuju kalau kau mau buka hatimu untuk Pak Bos.”
“Aku masih mau menata hati aku Tari.”
Tari mengenggam tangan Ana..
“Aku tahu, hidup kau begitu berat, tapi aku yakin Pak Bos bisa membahagiakan kau.”
“Makasih ya. Kamu sudah selalu ada untuk aku.”
Mereka berpelukan layaknya dua saudara kandung yang saling menyayangi.
Mama Amel yang tanpa sngaja mendengarkan semua pembicaraan keduanya ikut senang dan bahagia, melihat anak perempuannya mulai membuka hatinya untuk pendamping hidupnya. Setelah selama ini Ana begitu dingin dengansetiap laki-laki, akhirnya Mama Amel bisa melihat kalau sebenarnya Ana mulai punya perasaan yang beda dengan Ariel, namun Ia tak mengerti akan hal itu.
Keesokan paginya di hari Minggu Ana dan Mamanya serta Tari jogging bareng di taman tak jauh dari rumahnya. Mereka berangkat masih sangat pagi agar tidak terlalu padat, sebab jika hari minggu area itu dipenuhi orang-orang yang berolahraga.
“Duh…sudah lama banget kita nggak jogging kan Ma?”
“Iya sayang…badan Mama sampai pegal-pegal karena kurang olahraga.”
“Mulai sekarang kita olahraga setiap hari minggu, yak an Tari?”
“Setuju kali aku, biar langsing aku ya kan?”
Merekapun melanjutkan jogingnya, sesekali Ana menunggu mamanya yang berhenti dan jalan perlahan-lahan. Tiba-tiba Ana melihat kearah sisi kanannya dan Ia terkejut….
Siapakah sebenarnya yang dilihat Ana?
Ikuti kelanjutannya!
Asahan, 2 Agustus 2024Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar