SOLEHAN ARIF

Nama : SOLEHAN ARIF, M.Pd alamat : JL Gatot Koco RT.001 RW.004 Dusun Nyabagan Kel. Kolpajung Kec. Pamekasan Kab. Pamekasan Unit Kerja : SDN Toket 2 Gur...

Selengkapnya
Navigasi Web
MENGGAPAI HARAPAN  P5 DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI PAMEKASAN

MENGGAPAI HARAPAN P5 DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI PAMEKASAN

­­MENGGAPAI HARAPAN:

PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI PAMEKASAN

Solehan Arif

Sekolah Dasar Negeri Toket 2 Kec. Proppo Kab. Pamekasan

[email protected]

Pendahuluan

Dalam era globalisasi yang semakin dinamis, tantangan di dunia pendidikan menjadi semakin kompleks. Di Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang kuat, berbudi pekerti luhur, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman (Syifa & Ridwan, 2024). Untuk menghadapi tantangan tersebut, implementasi Kurikulum Merdeka menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan abad ke-21 (Putri, 2024). Salah satu komponen utama dari Kurikulum Merdeka adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau biasa disebut dengan P5, yang bertujuan membentuk karakter pelajar Indonesia yang kompeten, berakhlak mulia, serta mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Profil Pelajar Pancasila mencakup enam dimensi utama yaitu, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Implementasi P5 ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi-kompetensi ini sangat relevan untuk membentuk generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadapi tantangan global dengan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi (Melia & Sos, 2024).

Di Pamekasan, sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya dan keberagaman sosial, pelaksanaan P5 memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas lokal sekaligus membangun karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan hasil survei (2024) dari 142 Sekolah di Pamekasan, pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Pamekasan dapat di lihat pada diagram di bawah ini.

Berdasarkan data di atas, ada sebanyak 70,4% (100 sekolah) di Pamekasan telah melaksanakan P5 sepenuhnya, menunjukkan penerimaan yang baik terhadap program ini. Namun, 27,5% (39 sekolah) baru menjalankan P5 sebagian, yang mungkin disebabkan oleh keterbatasan sumber daya atau pemahaman yang kurang. Sementara itu, 2,1% (3 sekolah) melaporkan bahwa P5 tidak dilaksanakan sama sekali, walaupun jumlahnya kecil, kondisi ini perlu mendapat perhatian untuk mengidentifikasi kendala yang ada.

Meskipun sebagian besar sekolah di Pamekasan telah melaksanakan P5, tantangan lain muncul terkait dengan pemahaman guru terhadap konsep dasar dan tujuan program P5 ini. Berdasarkan hasil survei (2024) terhadap 142 guru di Pamekasan menunjukkan bahwa 37,3% (53 guru) memiliki pemahaman sangat baik, 58,5% (83 guru) baik, dan 4,1% (6 guru) merasa ragu. Meskipun mayoritas guru menunjukkan pemahaman yang baik atau sangat baik, persentase kecil guru yang masih ragu menunjukkan perlunya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman yang komprehensif. Hal ini penting untuk memastikan implementasi P5 yang efektif dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, yaitu penguatan karakter dan kompetensi siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila. Ketidakpahaman yang memadai berpotensi menghambat pencapaian tujuan P5 secara optimal dan dapat memengaruhi kualitas pembelajaran yang diterima siswa.

Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan beberapa guru menunjukkan adanya kesalahpahaman terkait esensi P5. Salah satunya adalah pemahaman guru yang mengatakan bahwa P5 adalah kegiatan siswa berjualan di sekolah, di mana barang dagangannya dibeli dari pasar untuk dijual kembali di sekolah. Padahal, P5 bukan hanya sekadar kegiatan seperti itu. Program ini mencakup proses yang menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga gelar karya, dengan keterlibatan aktif siswa di setiap tahap. Kesalahpahaman semacam ini menunjukkan perlunya pendampingan dan pelatihan yang lebih intensif untuk memastikan pelaksanaan P5 sesuai dengan panduan dan tujuan yang sebenarnya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan membahas konsep dasar dan tahapan-tahapan dalam implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila serta menganalisis faktor-faktor penghambat implementasi P5, terutama dampak dari kesalahpahaman guru terhadap esensi P5, yang dapat mengakibatkan kegiatan projek menjadi tidak relevan dengan tujuan penguatan profil pelajar Pancasila.

Pembahasan

Konsep Dasar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah bagian dari Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk mengembangkan karakter dan kompetensi siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila (Purtina, et.al, 2024). P5 melibatkan pembelajaran lintas disiplin ilmu, di mana siswa belajar untuk mengamati dan mencari solusi terhadap masalah di sekitar mereka melalui empat tahapan yaitu, Pengenalan (mengidentifikasi isu), Kontekstualisasi (menghubungkan dengan pengalaman nyata), Aksi (melakukan kegiatan nyata), dan Refleksi (merenungkan dan mengevaluasi proses dan hasil). P5 dirancang fleksibel agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks lokal, dengan melibatkan masyarakat dan dunia kerja dalam proses pembelajaran (Midiaty, et.al, 2024).

P5 memberikan berbagai manfaat, seperti menjadikan sekolah sebagai ekosistem terbuka untuk partisipasi masyarakat, memperkuat kolaborasi guru, serta mendorong siswa untuk mengembangkan kompetensi dan karakter yang dibutuhkan di dunia nyata (Afriyanti, 2024). Pelaksanaan P5 melibatkan berbagai pihak di antaranya yaitu, Kepala Satuan Pendidikan bertugas membentuk tim projek, mendampingi pelaksanaan, mengelola sumber daya, membangun komunikasi kolaboratif, mengembangkan komunitas praktisi, serta melakukan coaching dan evaluasi. Dinas Pendidikan berperan dalam koordinasi, penyediaan sarana, peningkatan kapasitas guru, penggunaan hasil asesmen, dan pengawasan pelaksanaan projek. Guru sebagai fasilitator bertugas merancang, mendampingi, mengarahkan, dan mengevaluasi siswa dalam menjalankan projek. Peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kemandirian, partisipasi aktif, serta refleksi untuk mengoptimalkan kemampuan mereka. Komite Pendidikan memberikan dukungan, sementara masyarakat dan mitra dapat menjadi sumber belajar dan memberikan pendampingan di luar sekolah (Rossa, 2024).

Desain Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Menurut Farrah, et.al (2024), pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila melibatkan beberapa tahapan, yaitu pembentukan tim fasilitator, identifikasi kesiapan satuan pendidikan, perancangan dimensi, tema, dan alokasi waktu projek, penyusunan modul projek, serta mengembangkan topik, alur aktivitas, dan asesmen Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

1. Membentuk Tim Fasilitator

Tim fasilitator P5 dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dengan menunjuk koordinator berpengalaman dalam pengelolaan proyek. Tim ini bertugas merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, mempertimbangkan jumlah peserta didik, tema, dan alokasi waktu yang tersedia (Monalisa, 2024). Satuan pendidikan bertanggung jawab menyiapkan sistem pendukung, berkolaborasi dengan narasumber, serta memberikan dukungan kepada pendidik dan peserta didik selama pelaksanaan proyek. Koordinator tim memastikan terjalinnya kolaborasi yang efektif di antara semua pihak terkait (Berlian & Rozakiyah, 2024). Namun, berdasarkan data dari 142 guru di Kabupaten Pamekasan, hanya 32,4% yang sangat memahami peran dan tanggung jawab tim fasilitator, 51,4% yang memahami, dan 16,2% sisanya kurang memahami. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman yang signifikan di kalangan guru mengenai peran dan tanggung jawab tim fasilitator P5. Kurangnya pemahaman ini berpotensi menghambat efektivitas pelaksanaan P5 di satuan pendidikan, meskipun tim fasilitator telah dibentuk dengan tujuan yang jelas.

2. Mengidentifikasi Tingkat Kesiapan Satuan Pendidikan

Kesiapan satuan pendidikan dalam melaksanakan P5 dapat diukur melalui penguasaan pembelajaran berbasis projek (PBP), yang merupakan pendekatan di mana peserta didik menyelidiki masalah nyata untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam. Menurut Roziqin (2024), proses refleksi dilakukan dalam tiga tahap yaitu, tahap pertama, di mana sistem PBP belum ada, pendidik hanya memahami konsep dasar dan projek dilakukan secara internal; tahap kedua, di mana sistem mulai terbentuk, sebagian pendidik mulai memahami konsep PBP, dan ada keterlibatan pihak luar dalam projek; serta tahap ketiga, di mana PBP telah menjadi kebiasaan, seluruh pendidik memahami konsep tersebut, dan satuan pendidikan menjalin kerja sama berkelanjutan dengan mitra eksternal untuk memperluas dampak projek. Namun, kenyataannya, hanya 31% guru di Kabupaten Pamekasan yang sangat mampu mengidentifikasi kesiapan sekolah untuk melaksanakan P5, sementara 57,7% merasa mampu, dan 11,3% merasa kurang mampu. Ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman dan penerapan yang signifikan dalam penerapan konsep kesiapan satuan pendidikan untuk menjalankan P5 melalui pembelajaran berbasis projek.

3. Merancang Dimensi, Tema, dan Alokasi Waktu Projek

Penentuan dimensi dalam P5 didasarkan pada visi dan misi satuan pendidikan atau program prioritas yang telah ditetapkan, dengan fokus utama pada 2 hingga 3 dimensi setiap tahunnya. Setelah memilih dimensi, langkah selanjutnya adalah menentukan elemen dan subelemen yang relevan dengan kebutuhan siswa. Satuan pendidikan yang telah berpengalaman dapat menyesuaikan jumlah dimensi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan (Fitriani, et.al, 2024). Tema projek telah ditetapkan oleh Kemendikbudristek, mencakup berbagai topik seperti Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangun Jiwa dan Raga, Suara Demokrasi, Rekayasa dan Teknologi, Kewirausahaan, dan Kebekerjaan. Sedangkan alokasi waktu projek diatur berdasarkan Kepmendikbudristek RI Nomor 56/M/2022, dengan variasi antara jenjang pendidikan. Misalnya, di jenjang PAUD, projek dilaksanakan 1-2 kali per tahun dengan alokasi waktu fleksibel. Sedangkan di jenjang pendidikan dasar dan menengah, jumlah jam pembelajaran ditentukan per kelas setiap tahun. Namun, kenyataannya, hanya 59,5% guru di Pamekasan yang merasa sangat mampu merancang dimensi, alokasi waktu, dan tema projek sesuai dengan kebutuhan siswa, sementara 30,65% merasa mampu dan 8,5% mengaku kurang mampu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat panduan yang jelas mengenai penentuan dimensi, alokasi waktu, dan tema projek P5 dari Kemendikbudristek, masih ada variasi dalam kemampuan guru untuk menerapkannya secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, pemahaman dan penerapan konsep P5 di Pamekasan, khususnya dalam hal perancangan dimensi, alokasi waktu, dan tema projek, masih belum sepenuhnya merata.

4. Menyusunan Modul Projek

Modul P5 adalah panduan penting bagi pendidik dalam melaksanakan projek ini. Modul ini menyajikan tujuan projek, langkah-langkah kegiatan, media pembelajaran, dan asesmen yang akan dilakukan, memberikan panduan yang jelas dan terstruktur, sambil memberi fleksibilitas kepada pendidik untuk menyesuaikan modul dengan kebutuhan serta karakteristik peserta didik (Julaidar, et.al, 2024). Dilengkapi dengan contoh-contoh modul dari pemerintah sebagai referensi, modul ini umumnya mencakup komponen-komponen utama seperti tema yang relevan dengan isu-isu terkini dan mendukung Profil Pelajar Pancasila, tujuan yang dirumuskan dengan prinsip SMART, aktivitas yang dirancang secara sistematis dari tahap pengenalan hingga refleksi, dan asesmen yang mengukur pencapaian tujuan serta perkembangan kompetensi siswa. Menurut Nadia (2024), modul disusun sesuai dengan fase perkembangan peserta didik dan disarankan menggunakan pendekatan Backward Design, dimulai dengan penentuan tujuan, perancangan asesmen, dan pengembangan aktivitas yang mendukung pencapaian kompetensi Profil Pelajar Pancasila, untuk memastikan setiap aktivitas mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Namun, kenyataannya, hanya 28,2% guru di Pamekasan yang merasa sangat mampu dalam menyusun modul projek, sementara 59,9% merasa mampu, dan 17,9% mengaku kurang mampu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun modul projek telah disediakan dan merupakan panduan yang penting, kemampuan guru di Pamekasan dalam menyusun modul projek P5 masih perlu ditingkatkan.

5. Menentukan Tujuan Pembelajaran

Pendidik dapat menetapkan tujuan pembelajaran dengan memilih elemen, subelemen, dan capaian fase yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil asesmen awal. Tujuan pembelajaran ini meliputi berbagai dimensi Profil Pelajar Pancasila, seperti beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Asia, et.al, 2024). Meskipun sudah dijelaskan dengan rinci, hanya 28,9% guru di Pamekasan merasa sangat mampu merumuskan tujuan yang relevan dengan tema projek, sementara 63,4% merasa mampu, dan 7,7% merasa belum mampu. Ini menunjukkan bahwa meskipun penentuan tujuan pembelajaran sudah jelas, masih ada perbedaan kemampuan guru dalam menerapkannya dengan baik.

6. Mengembangkan topik, Alur Aktivitas, dan Asesmen Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Pengembangan topik, alur aktivitas, dan asesmen dalam P5 adalah bagian yang sangat penting. Tim fasilitator bebas mengembangkan topik yang sesuai dengan tema, tujuan projek, kondisi siswa, sekolah, dan lingkungan (Ilmi, et.al, 2024). Tema yang dapat digunakan antara lain Aku Sayang Bumi di PAUD, Gaya Hidup Berkelanjutan di jenjang dasar-menengah (pemilahan sampah hingga kampanye), Kearifan Lokal (permainan tradisional hingga seni), Bhinneka Tunggal Ika (doa hingga bakti sosial), Bangunlah Jiwa dan Raganya (jurnal kesehatan hingga anti-bullying), Suara Demokrasi (pendapat hingga pemilihan OSIS), Rekayasa dan Teknologi (mainan fisika hingga kebun organik), Kewirausahaan (pasar kreasi hingga koperasi), dan Kebekerjaan (persiapan kerja). Alur aktivitas disusun sistematis, mulai dari pengenalan, kontekstualisasi, aksi, hingga refleksi. Menurut Munaroh (2024), asesmen mengukur pencapaian tujuan dan perkembangan kompetensi siswa melalui observasi, unjuk kerja, portofolio, dan refleksi diri, dengan pendekatan formatif dan sumatif. Namun, hanya 28,2% guru di Pamekasan merasa sangat mampu merancang alur aktivitas dan asesmen yang sesuai dengan projek, sementara 52,1% merasa mampu, dan 19,7% merasa kurang mampu. Ini menunjukkan bahwa meskipun konsep pengembangan topik, alur aktivitas, dan asesmen sudah jelas, masih ada tantangan dalam penerapannya di kalangan guru di Pamekasan. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang alur aktivitas dan asesmen yang efektif.

Penutup

Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di Pamekasan telah menunjukkan kemajuan signifikan, dengan sebagian besar sekolah telah melaksanakannya. Namun, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi untuk optimalisasi, seperti pemahaman guru yang belum merata terkait esensi P5, termasuk miskonsepsi seperti menganggap P5 hanya sebagai kegiatan berjualan. Tantangan lainnya meliputi berbagai tahapan implementasi, seperti pembentukan tim fasilitator, identifikasi kesiapan satuan pendidikan, perancangan dimensi, tema, alokasi waktu, penyusunan modul, penentuan tujuan pembelajaran, dan pengembangan alur aktivitas serta asesmen. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan berupa peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan yang terfokus, penguatan koordinasi dan kolaborasi antar pihak terkait, penyediaan sumber daya yang memadai, serta monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan untuk memastikan implementasi P5 berjalan efektif dan berkontribusi signifikan terhadap penguatan Profil Pelajar Pancasila dan peningkatan kualitas pendidikan di Pamekasan.

Daftar Pustaka

Afriyanti, A. (2024). Analisis Kesulitan Guru Kelas Dalam Menerapkan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Di Sd Negeri 32 Kota Bengkulu (Doctoral dissertation, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu).

Asiah, M. R., Jamaludin, U., & Leksono, S. M. (2024). Implemetasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Pada Tema Kearifan Lokal Kabupaten Tangerang untuk Mewujudkan Peserta Didik yang Memiliki Karakter Profil Pelajar Pancasila. Naturalistic: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 9(1), 403-411.

Berlian, A. C. L., & Rozakiyah, D. S. (2024). Proses Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Di Sma Islam Al-Maarif Singosari. Paedagoria: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan, 15(4), 285-294.

Farrah, F. A. F., Suyitno, S., & Budiman, M. A. (2024). Analisis Implementasi Projek Penguatan Profi Pelajar Pancasila Di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora. Indonesian Journal of Elementary School, 4(2), 340-353.

Fitriani, N., Nurhaedah, N., & Sayidiman, S. (2024). Analysis of the Implementation of the Project for Strengthening the Profile of Pancasila Students in Elementary Schools in Makassar City. Pinisi Journal of Education, 4(5), 110-131.

Ilmi, R., Nasrullah, Y. M., Munawaroh, N., & Masripah, M. (2024). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Meningkatkan Sikap Moderasi Beragama Siswa (Penelitian Deskriptif Kualitatif di SMA Negeri 1 Garut). Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(8), 3605-3630.

Julaidar, J., Marsithah, I., & Jannah, M. (2024). Pengembangan E-Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Berbasis Kearifan Lokal pada Fase E. Jurnal Penelitian, Pendidikan dan Pengajaran: JPPP, 5(2), 95-117.

Midiaty, M., Mulawarman, W. G., & Masruhim, M. A. (2024). Analisis implementasi manajemen Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan mutu pendidikan SMK Pusat Keunggulan. Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan, 4(2), 123-134.

Munaroh, N. L. (2024). Asesmen dalam Pendidikan: Memahami Konsep, Fungsi dan Penerapannya. Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 3(3), 281-297.

Melia, Y., & Sos, S. (2024). Model Pembelajaran di Era Society 5.0 BAB. Model Pembelajaran di Era Society 5.0, 143.

Monalisa, A. (2024). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada Sekolah Penggerak di SDN 198/1 Pasar Baru (Doctoral dissertation, Universitas Jambi).

Nadia, A. R. U. (2024). Pengembangan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Menggunakan Pendekatan Understanding By Design Pada Mata Pelajaran Ipas Kelas Iv Di Min 9 Bandar Lampung (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Purtina, A., Zannah, F., & Syarif, A. (2024). Inovasi Pendidikan Melalui P5: Menguatkan Karakter Siswa dalam Kurikulum Merdeka. Pedagogik: Jurnal Pendidikan, 19(2), 147-152.

Putri, F. (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Membentuk Profil Pelajar Pancasila Peserta Didik Kelas Iv Di Sdn 78 Kota Bengkulu (Doctoral dissertation, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu).

Roziqin, A. (2024). Pembelajaran Berbasis Proyek. Uwais Inspirasi Indonesia.

Rossa, R. L. (2024). Manajemen Strategi dalam Merealisasikan Profil Pelajar Pancasila di SMPN 4 Ponorogo Tahun Ajaran 2023/2024 (Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo).

Syifa, A., & Ridwan, A. (2024). Pendidikan Karakter Islami di Era Digital: Tantangan dan Solusi Berdasarkan Pemikiran Sosial Imam Al-Ghazali. Social Studies in Education, 2(2), 107-122.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post