Siti Alimah Sofyan

Siti Alimah saat ini bertugas sebagai guru di SDN Kelapa Dua Wetan 04 Pagi, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur sejak tahun 2013. Tahun 1997 - 2013 bertugas...

Selengkapnya
Navigasi Web

Ujian Hidup

Hari ke 88

Ujian Hidup

Puji  syukur kepada  Allah, saat ini aku dikaruniai banyak kenikmatan hidup. Suami yang bertanggung jawab membimbing keluarga, lima anak sehat dan semangat belajar, teman-teman yang baik, serta kerabat yang saling membantu. 

Suatu hari seorang teman menyampaikan pendapatnya kepadaku, ”Enak ya, melihat keluarga Bu Al, selalu terlihat bahagia dan sakinah.”

“Aamiin. Alhamdulillah. Terima kasih doanya,” sahutku sambil tersenyum. 

“Kok malah bilang aamiin?” tanyanya heran.

“Lho, kata-kata ibu itu khan sebuah doa,” jawabku. 

Aku menambahkan,“Ibu, apa yang dialami seseorang, belum tentu sama dengan yang terlihat orang lain. Bisa jadi dia terlihat bahagia karena mensyukuri setiap kenikmatan yang diperolehnya. Bisa jadi kenikmatan yang sudah ibu nikmati sejak dulu, dia baru merasakan sekarang.”

“Maksudnya?” temanku masih belum paham.

Aku lalu mengingatkan kehidupan masa kecilnya. Dia memang tinggal di desa, namun hidupnya berkecukupan. Ayahnya bisa membiayai hidupnya dengan nyaman sampai kuliah sarjana. Setelah menikah, dia merantau bersama suaminya ke Jakarta. Suaminya pun bisa membelikan rumah yang nyaman untuk keluarga kecilnya. Hidupnya mulai diuji ketika suaminya wafat, meninggalkan dirinya yang hamil dan dua anak masih kecil. Puluhan tahun sebelumnya,  temanku itu diliputi kebahagiaan dan hidup berkecukupan. Kini dia harus berjuang membesarkan anak tanpa didampingi suami tercinta.

“Nah, berkebalikan dengan aku. Keluargaku hidup sangat sederhana. Bahkan sampai wafatnya ibuku, kami masih tinggal di rumah kontrakan.” 

Temanku mengangguk-angguk sambil berkata,”Oh iya. Alhamdulillah aku sudah merasakan kebahagiaan dari kecil. Roda kehidupan selalu berputar, ya.”

“Insyaallah, kebahagiaan akan ibu nikmati lagi. Bisa dari anak-anak ibu yang pintar dan shalih, atau dari hal yang lain. Bersabar aja.” Aku menguatkannya.

“Terima kasih, ya. Senangnya kalau punya kakak seperti Bu Al,” ucapnya sambil tersenyum. 

Manusia akan selalu diuji dalam hidupnya. Ada yang diuji dengan kesusahan, ada yang diuji dengan kenikmatan. Apa pun bentuk ujian kehidupan, kita harus bisa melaluinya dalam iman. Bersabar terhadap ujian kesusahan, bersyukur terhadap kenikmatan. 

Di usiaku yang menjelang setengah abad ini, kehidupan yang kujalani nyaris menjadi impian banyak orang. Padahal aku dan keluargaku hidup tidak berlimpah harta. Sampai umur 46 tahun, aku masih pulang pergi bekerja naik motor dibonceng suami,  disambung naik angkot. Perhiasan pun aku tak punya.  Meskipun hidup sederhana, namun aku merasa bersyukur. Apa yang kucapai sekarang, jauh melampaui impian masa kecilku. Mungkin itu sebabnya orang melihat aku tampak bahagia. Alhamdulillah. Tetapi mereka hanya melihat kehidupan yang sekarang. Mereka tak tahu bahwa lebih dari separuh hidupku penuh dengan perjuangan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post