Melamar Kerja (Tagur 2)
Melamar Kerja
Rasa sepi ini semakin kurasa. Rumahku terasa sunyi saat anak-anakku berangkat sekolah. Kedua putraku tak terasa sudah duduk di bangku SMP. Putraku yang bungsu tahun ini akan masuk sekolah dasar.
Aku membayangkan saat semua penghuni rumah ini sudah mempunyai kegiatan masing-masing. Aku akan seharian di rumah seorang diri. Sedikit merajuk kepada suami, aku memohon untuk kembali bekerja.
Hari yang kutunggu tibalah. Aku akan memasukkan lamaran pekerjaan di sebuah bimbingan belajar dekat rumahku. Harapanku meskipun aku bekerja, masih banyak waktuku untuk mengurus rumah. Map yang berisi lamaran kuserahkan kepada petugas yang mempersilakanku untuk menunggu dipanggil. Saat asyik menunggu kulihat notification chat dari suamiku. “Mam berkas kerja papa ketinggalan. Papa salah ambil
map. Map yang papa ambil isinya berkas lamaran kerja mama!”
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Wah. ketukar ya Bu Setia. Keren ceritanya. Salam. literasi.