Sali

Menjadi pendidik Sekolah Dasar sejak tahun 1999 di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Mengikuti Gurusiana sejak 4 Desember 2019, dengan harapan dapat berkumpul bersa...

Selengkapnya
Navigasi Web
TITISAN

TITISAN

Saat ini anak yang suka dengan budaya daerah jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Apalagi tempat tinggalnya yang jauh dari kota budaya, para seniman atau pemerhati budaya daerah. Pada umunya mereka senang dengan budaya modern, yang dapat diakses dengan mudah di media sosial. Rutinitas bermain game online tanpa mengenal waktu, kadang tak peduli nasehat orangtua. Namun tidak terjadi pada diri Ulil. Anak ini dilahirkan pada era melenial, namun gemar sekali pertunjukan wayang kulit. Anak yang usianya belum genap lima tahun ini, waktunya sering digunakan memainkan wayang, menirukan dalang dari YouTube. Orangtuanya merasa keheranan dengan hobi anaknya. Dia hanya dapat membelikan wayang kardus (kertas), tetapi tidak bisa mengajarkannya, karena sama sekali buta pengetahuan tentang budaya wayang kulit.

"Hai! Sapa kowe? Saka ngendi dunungmu, wani mlebu mrene, hai!" kata Ulil menirukan ucapan dalang dengan bahasa yang sangat sederhana. Tokoh wayang kesatria berkelahi dengan raksaksa. Kakeknya selalu menemani Ulil saat berlatih dalang. Setia membantu mencarikan tokoh wayang yang akan dimainkan. Melihat cucunya memainkan wayang, kakek merasa bangga. Bakat seninya, membawa angan kakek penuh harap cucunya menjadi seorang budayawan kharismatik.

Setelah mangalahkan raksaksa, tokoh kesatria itu harus berhadapan dengan binatang buas, harimau. Melihat sabetan (cara memainkan), seketika dada kakek terasa sesak. Terharu dan sedih, mulutnya terkunci. Tak terasa air matanya jatuh menetes membasahi wayang kardus di pangkuannya. "Kek, kok kakek malah nangis?" tanya Ulil. Kakek segera mengusap air matanya. Tersenyum, dan mengatakan bahwa dia tidak menangis tetapi bangga dengan ketangkasan sabetan Ulil. Namun sebenarnya kakek memang menyembunyikan cerita kelam. Saat Ulil memainkan kesatria berkelahi dengan binatang buas, teringat kisah Dipoyono (ayahnya kakek, buyutnya Ulil). Waktu itu Dipoyono muda hampir tiap malam belajar dalang di rumah sang maestro yang ditempuhnya dengan sepeda angin hampir satu jam lamanya. Malam itu naas menimpa Dipoyono saat perjalanan pulang. Di tengah perkebunan tebu, di tengah kegelapan dia diseruduk babi hutan. Untung ada orang yang menolongnya, membantu mengusir babi hutan tersebut. Luka parah yang dideritanya mengurungkan niat menjadi dalang. Semoga Ulil benar titisan Dipoyono, buyutnya. Melanjutkan cita-cita menjadi dalang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Bagus Pak ceritanya. Jd bs nyimak cerita wayang. Saat ini hampir punah juga pertunjujan wayang di daerah sy... Salam, smg sukses...

16 Aug
Balas

Terima kasih Bu Dwi.Salam literasi

16 Aug

Kereen bakat yg diturunkan

16 Aug
Balas

Terima kasih Ibu Ida.Salam literasi

16 Aug

Terima kasih Bu Rita atas doanya, salam literasi

16 Aug
Balas

Semoga Ulil makin sukses PakKeren...

16 Aug
Balas

Terima kasih Bu Erida, salam literasi

16 Aug

Cerita yg bagus pak...sukses sll nggih

16 Aug
Balas

Terima kasih Bu Titik, salam literasi

16 Aug

Semoga semangat Ulil tak pernah putus sehingga menjadi budayawan kharismatik seperti impian kakeknya. Mantap pak, sukses sellau

16 Aug
Balas



search

New Post