Memikul Beban Marwah Asia Tenggara di Tatanan Elit Asia
Memikul Beban Marwah Asia Tenggara di Tatanan Elit Asia
Saeful Hadi
“Memang kita sudah lolos ronde ketiga, tidak ada lawan yang mudah bagi kami, apalagi ranking kami 134. Jadi, pasti lebih baik tim lawan. Bisa dibilang, tim kita yang paling lemah dari tim-tim yang sudah lolos ke ronde ketiga”.
Shin Tae Yong, pelatih Timnas Indonesia
Sejarah kembali tercipta! Sepakbola Indonesia kembali mengguncang Asia bahkan dunia, ketika untuk pertama kalinya Tim Nasional senior lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Kali ini untuk memperebutkan tim-tim yang menjadi wakil zona Asia pada Putaran Final Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di tiga negara, Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada. Sejak format kualifikasi diterapkan khususnya untuk zona AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) dalam beberapa edisi penyisihan menuju Putaran Final Piala Dunia, Indonesia baru pertama kali lolos ke putaran ketiga. Dua gol Timnas senior yang dicetak Thom Haye dan Rizky Ridho ke gawang Kevin Ray Mendoza, penjaga gawang Filipina yang bermain di Persib Bandung, membawa Indonesia mendampingi Irak sang pemuncak grup F sebagai dua tim yang lolos ke putaran elit untuk kualifikasi zona Asia.
Gembira dan bangga? Tentu saja! Pencapaian tim asuhan pelatih asal Republik Korea, Shin Tae Yong termasuk spektakuler dan tidak masuk prediksi ideal sebelumnya. Saat tim-tim lain langsung lolos ke ronde kedua, Ernando Ari Sutaryadi dan kawan-kawan harus memulai langkah dari ronde pertama sebagai bagian dari tim-tim dengan peringkat FIFA paling rendah (rata-rata di atas 150 FIFA). Indonesia harus berjuang dari awal mengalahkan Brunei Darussalam dalam dua partai kandang dan tandang. Indonesia menang agregat telak 12-0. Pada ronde kedua, Indonesia pun terpaksa diundi dalam kapasitas sebagai penghuni pot 4 atau tim terendah dalam koefisien poin ranking FIFA. Indonesia akhirnya masuk grup bersama dengan Irak, Vietnam dan Filipina. Artinya tiga tim tersebut saat itu peringkatnya di atas Indonesia.
Perjuangan yang begitu sangat berat. Dipandang sebelah mata, bahkan oleh sebagian warga Indonesia sendiri, secara heroik akhirnya Indonesia tuntas mendampingi Irak (yang tampil sempurna dengan 6 kemenangan tanpa kalah mendapat poin 18) dengan keberhasilan di partai penutup grup menaklukan negara tetangga Filipina dengan skor 2-0 di Stadion kebanggaan, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Indonesia keluar sebagai runner up dengan poin 10 di bawah Singa Mesopotamia, julukan Irak. Garuda Asia, julukan Indonesia, menjadi satu-satunya tim yang berposisi drawing sebagai tim pot 4 yang berhasil lolos dari semua grup di ronde kedua. Sementara nyaris seratus persen dari sembilan grup, semuanya yang lolos adalah dari pot unggulan 1 dan 2. Sebuah pencapaian luar biasa, terlepas dari masih banyak nyinyiran karena dianggap mudah akibat satu grup dengan 2 negara Asean. Padahal semua tim dari mana pun wilayahnya tidak bisa dianggap remeh jika sudah levelnya ronde dua Kualifikasi Piala Dunia.
Fakta yang kemudian mencengangkan berbagai kalangan adalah ternyata Indonesia menjadi satu-satunya wakil dari kawasan Asia Tenggara di ronde ketiga untuk episode Kualifikasi Piala Dunia kali ini. Thailand (lolos wakil tahun 2018) dan Vietnam (lolos wakil tahun 2022), harus mengubur mimpi untuk lolos ke ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Kedua tim bersama tiga wakil Asean lainnya, yaitu Malaysia, Singapura dan Myanmar, semuanya kandas. Lolos ke ronde ketiga berarti Timnas Indonesia langsung lolos pula ke Putaran Final Piala Asia 2027, sementara lima tim Asia Tenggara lainnya yang disebutkan tadi harus melalui babak kualifikasi. Sebuah pencapaian luar biasa untuk Rafael Struick dan kawan-kawan. Cukup sampai disini? Eitss nanti dulu!
Para pembaca yang budiman, saya sangat berharap tidak lagi berekspektasi berlebihan seperti yang dialami kepada Timnas U-23 yang baru-baru ini berhasil menduduki empat besar Piala Asia U-23 di Qatar. Kegagalan lolos ke Olimpiade Paris karena gagal mengalahkan Guinea dalam play off antar zona (Asia dengan Afrika) dan dihujat beberapa kalangan netizen, jangan lagi sampai terulang! Indonesia harus dikembalikan ke posisinya sebagai tim yang sedang membangun, berkembang dan belum sampai sempurna masuk tatanan elit. Berharap boleh, tetapi jangan berlebihan dan sebaiknya sadar diri. Cukuplah kita mendukung dan mendoakan, serta tidak untuk gampang menghujat dan menyalahkan para pemain jika mengalami kegagalan atau kekalahan. Kita harus tahu diri bahwa posisi ranking FIFA pun, Indonesia masih sangat jauh dari negara-negara elit sepakbola Asia tersebut.
Kembali ke fenomena lolosnya Timnas Indonesia ke ronde tiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia sebagai wakil satu-satunya zona Asean adalah sebuah tantangan sekaligus perjuangan yang sangat berat. Bagaimana tidak, data sementara ranking FIFA, Indonesia menduduki posisi ke-17 dari 18 tim yang lolos ke ronde 3. Indonesia yang berperingkat 134 FIFA hanya di atas Kuwait yang berperingkat 139. Bahkan dari 18 tim tersebut hanya tiga tim (Indonesia, Kuwait dan Korea Utara) yang di atas 100 besar ranking FIFA, sedangkan 15 tim lainnya berada dalam dua digit atau di bawah 100 besar ranking FIFA. Bisa dibayangkan kekuatan tim-tim yang bertanding di ronde tiga yang akan dihadapi Indonesia. Bukan tidak mungkin Indonesia satu grup misalnya dengan Jepang, Qatar, Uzbekistan dan Bahrain. Realita itu adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh Jay Idzes dan kawan-kawan. Takut? Nanti dulu!
Persoalannya menurut saya bukan lagi masalah takut atau tidak, namun sejauh mana persiapan Timnas Indonesia menghadapi tantangan tersebut. Sebagai tim yang “menggandeng” wilayah Asia Tenggara, karena satu-satunya wakil kawasan tersebut, tentu saja Indonesia tidak bisa main-main, walaupun bisa beralibi sebagai tim yang paling rendah dalam peringkat FIFA. Indonesia juga harus membuktikan bahwa tidak sekadar lolos karena keberuntungan, satu grup dengan wakil Asean lainnya (Vietnam dan Filipina) di fase grup ronde kedua. Nyinyiran dan ketidakyakinan dengan kekuatan Indonesia haruslah dihadapi dengan bijak dan keseriusan manajemen Tim Nasional. Fakta bahwa Thailand (2018) dan Vietnam (2022) sebagai wakil Asia Tenggara saat itu mengalami kondisi “babak belur” dan menjadi juru kunci grup di ronde ketiga haruslah menjadi pelajaran berharga bahwa berada di tatanan elit sepakbola Asia tidaklah bisa main-main lagi.
Saya tidak lagi ingin menyinggung masalah yang berkaitan dengan “naturalisasi”, selesai sampai disini dan fokusnya kita sekarang siapapun yang berkewarganegaraan Republik Indonesia adalah berhak membela negaranya khususnya dalam sepakbola. Oleh karena itu, stop dengan dikotomi lokal dan keturunan, sebaiknya kita khususnya fans Timnas Indonesia, fokus mendukung dan mendoakan sepenuhnya kiprah Thom Haye dan kawan-kawan nanti mengarungi ronde ketiga babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Timnas sangatlah butuh dukungan terutama moril agar kekuatan mental mereka kokoh menghadapi para raksasa Asia yang kelak satu grup dengan Indonesia. Kita tidak bisa memilah dan memilih mana tim yang diinginkan dihadapi atau berada satu grup, tetapi siapapun lawannya kita harus siap menghadapinya dan berjuang mengalahkannya.
Saya sangatlah berharap pelatih Shin Tae Yong bisa menjaga kedalaman tim terutama antara pemain inti dengan pengganti bisa tipis perbedaan kualitasnya sehingga sirkulasi pemain bisa efektif khususnya menghadapi kasus cedera, kelelahan atau tidak dilepas klubnya masing-masing. Namun saya yakin, jika turnamen berkalender FIFA (beda dengan AFF Cup yang tidak berkalender FIFA), maka pemain-pemain utama terutama abroad pasti bisa memperkuat Tim Nasional di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Begitu pula saya berharap semua pemain siap dan fit pada waktunya, tidak ada yang cedera, sehingga setiap partai yang berjumlah 10 pertandingan (home and away) kelak, bisa dilakoni oleh Timnas Indonesia dengan hasil memuaskan. Semoga!
Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah regulasi kompetisi Liga 1 di Indonesia janganlah sampai bentrok dengan agenda Timnas Indonesia di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Masalah klasik dan kadang menyebalkan ini masih sering terjadi terutama pertentangan antara klub, pelatih klub dan pelatih Timnas dalam rangka persiapan dan keterlibatan pemain di kompetisi lokal yang memperkuat Timnas Indonesia. Dahulukan kepentingan Timnas dan harga diri bangsa daripada sekadar urusannya finansial dan market yang mengabaikan kepentingan negara. Turunkan ego manajemen klub, karena pada dasarnya para pemain tentu puncak kariernya adalah berharap bisa memberikan kontribusi terbaik bagi kejayaan negara dan bangsanya.
Ada kemajuan yang signifikan pula berkaitan dengan dukungan suporter. Data terbaru yang dirilis dari AFC, bahwa partai Indonesia vs Filipina, 11 Juni kemarin adalah jumlah penonton terbanyak sepanjang putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Partai Indonesia vs Filipina ditonton 64.942 penonton mengalahkan dua partai lainnya, Republik Korea vs Tiongkok (64.935) dan Republik Korea vs Thailand (64.912). Sementara untuk rata-rata jumlah penonton dalam pertandingan kandang, Indonesia menduduki posisi kedua (182.883) dibawah Republik Korwa (194.228) dan di atas Irak (170,988). Kemudian kondisi hasil pertandingan, misalnya ketika kalah melawan Irak, tidak membuat suporter Indonesia berperilaku anarkis atau membuat rusuh dan tetap memberikan dukungan maksimal kepada kiprah Tim Nasional. Sebuah realita dan prestasi yang membanggakan. Amazing!
Ronde ketiga akan dimulai awal bulan September tahun ini dan undiannya akan dilaksanakan tanggal 27 Juni nanti di Kuala Lumpur, Malaysia. Ada jeda waktu kurang lebih dua bulan untuk PSSI, manajemen Timnas Indonesia serta semua pihak termasuk suporter untuk mempersiapkan diri. Indonesia akan menjadi tuan rumah sebanyak lima kali dan tandang sebanyak lima kali. Tentu partai kandang sangatlah dinantikan dan krusial karena tiga poin adalah harga mati yang harus diraih agar minimal Indonesia bukan tim yang menjadi bulan-bulanan lawan-lawan beratnya. Menyandang status satu-satunya wakil Asean, saya berharap itu bukanlah beban, tetapi motivasi agar hasil Indonesia lebih baik daripada dua tetangga sebelah sebelumnya, Thailand dan Vietnam! Semoga Garuda Asia bisa berjaya! Aamiin ya rabbal alamiin!
Terakhir bisa disimak ungkapan harapan dan tekad dari pelatih Shin Tae Yong untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat Indonesia terutama pecinta bola agar tetap optimis. Beliau berkata,
“Tapi, saya tetap akan berusaha mencapai mimpi saya (bawa Timnas Indonesia lolos Piala Dunia), dan kami tidak akan mudah menyerah!”
Yuk selalu dukung dan doakan untuk kejayaan Timnas Indonesia!
Salam Tim Nasional Indonesia!
Salam sepakbola!
Salam literasi!
Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, 20 Juni 2024
Bakda salat Asyar

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar