Rosnadeli Kartini S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tak Seindah Senja Di Purnama 1

Tak Seindah Senja Di Purnama 1

Rapat berlarut-larut sampai malam tidak mungkin saya pulang ke Pekan Baru malam ini. Selain tak ada transportasi umum juga tak elok rasanya perempuan berkeliaran di malam hari.

Ini semua gara-gara Bu Santi yang membiarkan saya melakukan pertemuan ini sendiri. Padahal, rencana ini telah kami susun jauh-jauh hari. Bu Santi akan mengendarai mobil pribadinya lalu saya akan duduk manis di sebelahnya. Kemudian, kami berdua akan bertemu dengan Pak Bos untuk membicarakan kelanjutan hubungan kerja. Namun, berita kedatangan ibu mertuanya mengubah semua rencana itu.

“Mau bagaimana lagi, Nir. Kamu kan tahu bagaimana ibu mertuaku. Tidak mungkin juga kita yang mengubah jadwal pertemuan dengan Pak Bos. Bisa gagal proposal kita,” ucap Bu Santi saat melepas kepergianku dari terminal bus.

“Nanti sampai Pekanbaru kamu tinggal pesan ojek online saja, lalu langsung menuju tempat yang sudah ditetapkan.

Saya mengangguk lemah lalu melambaikan tangan saat bus memulai perjalanan.

Sebuah gedung berlantai tiga di tengah kota menjadi tujuan. Setelah perjalanan dua jam lebih, kini saya telah sampai di muka gedung dengan dandanan yang berantakan. Jangan tanya kemana hilangnya bedak tebal dan pewarna bibir, semua telah pudar ditiup angin lalu berubah menjadi butiran debu.

Setelah menyapa dan bertanya pada salah satu pegawai perempuan, saya diarahkan ke sebuah ruang tunggu. Cukup lama saya menunggu kehadiran Pak Bos hingga dua jam dari waktu yang telah disepakati. Selama itu pula, berulangkali saya bertanya pada pegawai perempuan itu.

“Sabar aja, Bu. Namanya juga wong cilik, hidupnya kenyang dengan berjuta janji” ucapnya berusaha menenangkan hati saya.

“Pak Bos memang begitu, nanti paling yang datang Pak Rian, tangan kanannya.

Saya memajukan bibir, tak peduli siapa yang mau datang, mau tangan kanan, tangan kiri, terserah. Yang penting proposal pengajuan dana ini ditandatangani. Beres.

“Tapi lebih enak dengan Pak Rian, sih, Bu. Sudah ganteng, ramah dan masih lajang tapi hati-hati dia playboy cap ayam,” ucapnya seraya menutup mulutnya setengah.

Saya hanya mengangguk pelan, tak terlalu peduli lalu menyandarkan punggung ke sandaran sofa lebih dalam, hingga bentuk tubuh ini tak lagi lurus. Sungguh badan dan mata terasa lelah. Saya rasanya ingin istirahat sejenak.

Desiran angin dari pendingin ruangan terasa begitu sejuk. Tanpa sadar saya tak mendengar lagi omongan pegawai perempuan itu. Hingga sebuah suara memanggil nama saya.

“Bu Nirma .....”

Saya mengerjapkan mata dan melihat seorang lelaki tengah mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah.

“Maaf kelamaan ya, jadi ibu tertidur,” kata lelaki itu dengan senyuman yang tak dapat saya artikan.

Saya meluruskan kembali punggung dan menyeka wajah.

Astaga, ada air di sudut bibir. Dengan cepat saya mengelapnya menggunakan ujung baju. Lelaki itu tampak menahan senyum lalu menyerahkan selembar tisu kepada saya.

Saya mengigit bibir bawah berusaha menahan malu. Saat mengedarkan pandangan tak tampak lagi pegawai perempuan itu.

“Jadi bagaimana, apa yang bisa kami bantu?” tanyanya dengan pandangan menghujam jantung pertahanan. Saya menjadi kikuk dan bingung harus mulai darimana.

Setelah menarik napas panjang berulangkali, saya berusaha menenangkan debaran jantung dengan mengeluarkan semua dokumen dan mengulang kembali isi dalam dokumen yang telah saya hapal diluar kepala.

Lelaki itu tampak serius mendengarkan sambil membolak-balikkan kertas dia juga menganggukkan kepala. Ah, ternyata betul kata pegawai perempuan itu wajahnya cukup menenangkan hati yang kesal. Saya berulangkali mencuri pandang ke arahnya, lelaki ini mirip bintang iklan pembersih wajah.

“Oke, akan saya beritahu kembali Pak Bos, ya.” Dia mengeluarkan ponsel dan menjauh untuk menelepon seseorang.

Saya melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, pantas saja pegawai perempuan itu sudah tak tampak lagi. Suasana kantor juga terasa lebih sunyi hanya beberapa orang yang terlihat menuju pintu keluar.

Kue yang tersaji di atas meja juga belum tersentuh. Saya mengambil satu dan mengunyahnya sambil menunggu Pak Rian selesai menelpon.

“Kalau dilihat-lihat sepertinya tak pantas saya panggil sebutan ibu untuk Bu Nir. Wajahnya masih segar dan muda. Bukan begitu, Mbak Nirmala?”

Pertanyaan dari Pak Rian sekali lagi mengagetkan saya, seketika saya tersedak lalu buru-buru meneguk minum. Entah dapat info dari mana dia mengenai umur saya. Ah, ternyata pegawai perempuan itu benar lagi, lelaki ini playboy cap ayam.

“Tak usah terlalu dipikirkan dari mana info tersebut. Lebih baik Mbak Nir bersih-bersih dulu biar tampak makin bercahaya.”

Saya membelalakkan mata tetapi lelaki itu tak peduli. Dia mengeluarkan ponsel lagi lalu menyuruh seseorang untuk menemuinya. Tak lama berselang, pegawai perempuan tadi datang dengan senyum mengembang.

“Juni, ini Mbak Nir, tamu penting Pak Bos. Nanti tolong bantu segala keperluannya. Jam 8 malam, kamu harus antar Mbak cantik ini ke rumah makan Pak Datuk, ya. Pak Bos ada acara keluarga di sana, sementara propasal ini harus ditandatangani segera. Oke, Jun.” Lelaki itu mengedipkan mata lalu meninggalkan saya dan Juni dalam senyum yang tertahan.

“Apa saya bilang, Bu ... Pak Rian ramah dan ....”

“Jangan panggil saya Ibu, panggil Mbak saja, Jun. Saya masih muda.”

#Tantangan_gurusiana365

#Day19

Juni tampak menahan senyum lalu mengajak saya keluar kantor.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post