Resensi buku
#ReviewbukuIpusnas
Judul : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Bentang Pustaka
Saya pertama kali mengenal tulisan Eka Kurniawan adalah saat meminjam novel Cantik Itu Luka. Buku itu milik teman satu perjuangan saya ketika survei lapangan saat kuliah dulu, Darni. Dia memang memiliki banyak buku bagus. Hal itu membuat saya senang ke indekosnya hanya untuk meminjam buku.
Sebenarnya saat ingin meminjam buku Seperti Dendam Rindu juga Harus dibalas. Namun, karena masih dalam masa antrian akhirnya saya memilih buku ini.
Buku ini berisi 15 cerpen karya Eka. Semuanya memberi kesan tersendiri. Cerpen dengan judul Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cinta Melalui Mimpi, bercerita tentang Maya yang ditinggal pergi tepat satu hari sebelum pernikahan mereka. Bisa dibayangkan luka yang ditinggalkan, betapa menderitanya perempuan itu lalu larut dalam malam-malam panjang yang penuh dengan duka. Sehingga, pada malam kesekian dia selalu bermimpi dengan mimpi yang sama. Seorang lelaki tengah menunggunya di Pangandaran. Apakah dia akan benar-benar bertemu lelaki dalam mimpinya itu?
Judul lain, Gincu ini Merah, Sayang. Juga tak kalah menarik. Kisah ini mengambil dua sudut pandang, satu dari sang istri, satu dari suami. Kemudian, berakhir kesedihan kembali. Betapa prasangka buruk hanya menghasilkan hal buruk pula.
Judul Teka-Teka Silang lebih mencengangkan bagi saya. Bagaimana bisa sebuah jawaban teka teki silang bisa menjadi kenyataan.
Dari kelima belas cerita itu, cerpen berjudul Tidur Panjang lah yang sangat berkesan bagi saya. Kisah seorang anak yang pulang ke rumah ketika Bapaknya sakit lalu menunggui hingga maut menjemput. Kisah ini sederhana, tetapi membekas di pikiran. Betapa sering kebaikan orang tua kita kepada orang lain menjadi sebab mudahnya jalan hidup yang kita jalani. Saya jadi teringat Almarhum Bapak saya, yang kebaikan-kebaikannya membuat jalan hidup saya lebih mudah.
Paragraf terakhir cerita itu sungguh berkesan
“Empat hati kemudian, aku kembali ke Jakarta dengan bus malam. Tujuh jam perjalanan. Aku duduk, suara AC berdengung di atas kursi. Selama lebih dari satu jam aku hanya melamun.
Kemudian kondektur datang dan mengatakan bahwa dia mengenal dengan bapak—yang telah memberi pertolongan kepada kondektur--lalu mengratiskan ongkos perjalanan.
Bahkan, pikirku setelah meninggal Bapak masih memberikan ongkos bus.
Selepas membaca itu saya teringat akan semua kebaikan bapak lalu menyandarkan punggung ke dinding rumah seraya mengingat senyumnya sambil mengirim Al Fatihah untuk beliau.
Selamat membaca.
#Tantangan_gurusiana365
#Day27
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Salam literasi