Negoisasi
Negoisasi
Kemampuan negoisasi manusia sudah bisa dilihat sejak masa anak-anak. Jika kita, orang tua jeli melihat tumbuh kembang buah hati kita, maka itu akan sangat mudah terlihat.
Wati berencana akan memasak tumis kangkung dan telur balado untuk menu makanan hari ini. Enam buah telur sudah di rebusnya kemudian di bagi menjadi dua. Dia sudah memperhitungkan makanan ini akan bisa mengganjal perut mereka sekeluarga untuk satu hari ini. Opik, Agi, Wati dan Andi-suaminya.
“Bu, lihat Agi, ambil robot abang enggak permisi dulu,” teriak sulungnya ketika Wati hendak menumis kangkung yang telah dibersihkan.
“Sudah izin kok Bu, Abang aja yang enggak dengar,” balas Agi tak mau kalah.
Wati hanya menjadi pendengar setia kali ini, dia ingin membuktikan teori pengasuhan anak yang baru diterimanya dua hari yang lalu. Bu Saidah-- bidan puskesmas-- memberikan wejangan singkat ketika Wati dan ibu-ibu gang buntu mengadakan kegiatan posyandu.
“Tidak semua urusan anak-anak kita yang harus turun tangan ibu-ibu,” jelas Bu Saidah ketika memulai diskusi singkat.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi kalau hanya berebut mainan,” lanjut Bu Saidah seraya tersenyum manis kepada para ibu.
Wati dan ibu-ibu yang lain menganggukkan kepala dengan serentak.
“Bisa pecah kepala kita. Belum lagi urusan masak, mencuci, beres-beres rumah semua harus kita selesaikan.” Bu Saidah melanjutkan pembicaraannya dengan berdiri. “Karena pada akhirnya, anak-anak akan bertarung sendiri di zamannya. Kita orang tua hanya perlu memberi arahan dan contoh.”
“Dasar pelit! Kalau pelit nanti kuburannya sempit,” tukas Agi dengan sengit.
“Biarin,sini robot Abang!” Opik mengambil paksa robot ultramen berwarna merah.
Suara Opik dan Agi terdengar jelas di telinga Wati. Perempuan hitam manis itu masih setia di dapur, meracik bawang merah untuk tumisan kangkung.
“Sebentar lagi, ya.” Agi mulai menurut,”Ini robotnya lagi sakit, biar dokter Agi periksa dulu.”
Wati berjalan pelan menuju ruang tengah tempat kedua kakak beradik ini berebut mainan. Dia ingin melihat secara langsung bagaimana teori ini berhasil.
Opik bergeming, mata bulatnya melihat setiap gerakan adik perempuannya itu.
“Kamu mau Abang pinjamkan semua robot Abang,” tawar Opik kepada Agi.
Mata Agi berbinar, seketika dia mendekat ke tempat Opik.
“Tapi ada syaratnya.” Garis bibir Opik melebar.” Kamu harus bisa minjam buku PR matematika Ratih.”
“Ratih, kakaknya Een. Teman sekelas Abang?” Agi bertanya dengan serius. Opik mengiyakan kemudian menyerahkan semua robotnya ke Agi.
Wati tersenyum dan kembali ke dapur.
Dumai, 20 januari 2022
#Tantangan_gurusiana365
#Day14
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren menewen Uni. Sukses selalu