Rosnadeli Kartini S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mak Yong

Mak Yong

Awang Keladi berlari sekuat tenaga ketika para pengawal kerajaan mengejarnya. Dia dituduh telah melakukan makar. Padahal jelas itu semua hanya tipu muslihat Pangeran yang menginginkan tampuk kekuasaan. Jabatannya sebagai Penasehat Ratu, sangat cocok untuk dijadikan tumbal.

Saat sampai di tengah hutan, Awang Keladi berhenti ketika mendengar tetabuhan Dia tertegun ketika melihat sekumpulan orang tengah berkumpul dan melakukan gerakan-gerakan aneh. Diiringi pukulan gendang dan alunan seruling mereka bergerak ke kiri dan ke kanan membentuk formasi setengah lingkaran. Sebagian yang lain ada yang berputar, lalu menyilangkan kakinya. Dia tak pernah menyaksikan ini sebelumnya, seolah ada daya tarik sehingga lelaki muda ini tak melepaskan pandangan. Dia tak memedulikan lagi jika pengawal kerajaan bisa saja telah menemukannya.

Awang Keladi tetap setia memerhatikan semua perpindahan gerakan penari. Mereka sangat seirama, seolah tengah bercerita. Ada yang berlakon sebagai Raja, Ratu, Putri, bahkan Jin dan hewan.

Aura magis begitu terasa, pepohonan seolah mematung : daun-daunnya bahkan tak bergoyang. Burung-burung pun ikut menonton dari dahan yang paling rendah. Terlebih saat Awang Keladi melihat sesajen di depan arena yang tak ada berani melewatinya. Sesajen itu masih mengeluarkan asap, meliuk-liuk hingga sampai ke pucuk pohon. Seorang lelaki berkulit gelap tampak serius membaca mantra lalu menyemburkan ludah. Semua tampak hening dan menunggu setiap laku dari lelaki itu.

Saat Awang Keladi memperbaiki posisi tubuh, suara gemuruh terdengar, membuat dia terperenyak. Dadanya berdetak lebih kencang dengan napas yang pendek-pendek.

Setelah semua membentuk formasi setengah lingkaran, seorang penari dengan menggunakan topeng maju ke tengah. Kemudian, melenggang seraya melantunkan lagu. Tak jelas apa yang diucapkan, tetapi terdengar selaras dengan musik.

“Yong de de ... Yong de de.”

“Yong de de ... Yong de dede.” Lirik lagu itu terdengar mengisi kesunyian hutan.

Awang Keladi begitu menikmati pertunjukan ini, sehingga tak sadar bahwa langit semakin gelap dan kelam. Dan, tiba-tiba saja pertunjukan tari itu hilang bersama asap putih yang hadir lalu tampak seorang lelaki berbadan gelap maju ke depan kembali mengucap mantra seolah hendak menutup tarian.

“Raja adil raja di sembah. Raja lalim raja disanggah.” Terdengar penutup kata dari lelaki berbadan tetap itu yang disambut oleh anggukan Awang Keladi.

Lelaki muda itu mengucek matanya kemudian mendekat ke arah tempat pertunjukan, tak ditemukan apa-apa selain kekosongan. Angin justru berembus lebih kencang, menyusup ke setiap sendi. Membuat Awang Keladi diliputi rasa takut.

“Itu leluhur tengah menari ... Mak Yong ingin menyampaikan pesan,” ucap Awang Keladi kepada dirinya sendiri. Dia mengusap wajah sambil berusaha mengingat setiap gerak yang dilihat.

Saat Awang Keladi berbalik, tiba-tiba terdengar teriakan dari ujung jalan.

“Tangkap dia!”

Awang Keladi kembali berlari menembus pekatnya malam sesekali masih terdengar di telinganya nyanyian pengiring tarian tadi.

#Tantangan_gurusiana365

#Day12

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post