Rosnadeli Kartini S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Danau Raja

Danau Raja

Bulan purnama penuh bersinar di langit kala Thahir duduk di tepi danau. Pandangannya lurus menatap air yang tak beriak. Angin malam menyusup ke seluruh pori seolah menelanjangi wajah di balik topengnya. Lelaki tua itu mendesah berulangkali sambil menahan tangis yang hendak pecah. Jika saja dia tak pongah, jika saja dia tak terburu-buru, jika saja dia tak silau akan harta tentu semua masih berjalan sebagai mana mestinya. Sejuta pengandaian terus melintas di kepala hingga Thahir terkesiap saat air danau seolah tersedot. Membentuk sebuah pusaran panjang menembus dasar.

Lelaki itu beringsut, mundur. Dadanya turun naik menyaksikan perubahan yang terjadi. Angin malam berubah menjadi lebih kencang, menerbangkan dedaunan seolah tengah menyambut sesuatu yang hendak keluar.

“Ada apa ini?” Thahir berdiri lalu berusaha menjauh, tetapi rasa penasaran masih menggantung di benaknya.

Thahir bersembunyi di balik pohon akasia, batangnya yang besar mampu menyembunyikan tubuhnya yang kurus. Dia mengedarkan pandangan mencari apapun atau siapapun yang bisa dimintai tolong. Namun, tentu tak ada yang datang berkunjung ke Danau Raja di malam buta seperti ini.

“Jangan pergi Thahir! Tetap di situ atau kau akan berubah menjadi senergi kami.” Suara itu terdengar jelas dan tegas, tak ada keraguan sedikitpun yang dirasakan oleh Thahir.

Thahir mengintip, mencari tahu siapakah yang tengah berbicara itu? Dia mengucek matanya berulangkali saat melihat dua buah buaya putih tengah menepi. Ada kilatan aneh di mata keduanya seperti tengah menantikan sesuatu.

“Apa buaya itu yang bersuara?” Thahir bertanya kepada dirinya sendiri.

Hening. Suasana malam kembali seperti saat Thahir menginjakkan kaki ke Danau ini. Dia bahkan dapat mendengar desahan napasnya dan napas kedua buaya itu.

“Kemari kau, Thahir! Urusan kita belum selesai,” bentak sang buaya yang lebih besar dengan kasar. “ Aku tahu kau bersembunyi di balik pohon. Datang ke sini atau semua benar-benar akan berakhir!”

Thahir mengusap wajahnya berulangkali, peluh kini benar-benar telah memenuhi seluruh tubuhnya. Dia ingin berlari menjauh, menghindar dari buaya itu. Namun, ancaman yang terdengar justru membuat langkah kakinya ke depan.

Thahir berjalan pelan dengan dada bergemuruh. Tak pernah sebelumnya dia menyaksikan binatang berbicara, itu hanya ada pada masa Nabi, pikirnya. Namun, ini benar-benar terjadi.

Jalan setapak yang dilaluinya tadi kini serasa lebih panjang. Thahir merasa jarak dia dan buaya tak berkurang satu senti pun. Namun, saat melihat seringai buaya putih semakin lebar dan menampakkan gigi taringnya. Dia terkejut, kepala buaya berubah menjadi orang yang sangat dikenalnya.

“Putri Bunga Harum, anakku,” ucap Thahir dengan mata melebar. Ingin rasanya dia berlari memeluk sang buah hati, tetapi terhenti saat melihat di sebelahnya ada Wan Usman, lelaki muda yang dulu pernah ingin melamar anaknya.

“Maafkan Ayah, Putri.” Akhirnya tangis Thahir pecah jua setelah dipendamnya beberapa purnama. Beban itu luruh saat melihat jelmaan anaknya tersenyum.

“Apa? Tak semudah itu Orang tua.” Wan Usman berseru lantang. “Setelah semua titahmu aku laksanakan, kini apakah hanya maaf yang bisa kau ucapkan!”

Thahir menelan ludah, dia tahu kesalahannya teramat besar : mengingkari janji yang telah keluar dari mulutnya. Kesepakatan bila Wan Usman dapat membuat danau beserta istana dalam satu malam, maka dia akan merestui hubungan itu. Namun, Thahir sengaja menutup mata, mengusir Wan Usman untuk selamanya.

“Danau ini menjadi saksi akan keegoanmu, Sultan Thahrir. Betapa kau telah menjilat lidahmu sendiri.”

Putri Bunga Harum menoleh ke arah Wan Usman seraya berkata,“Sudahlah, Wan, tak usah diperpanjang.”

“Tidak semudah itu, Putri! Lelaki ini harus menerima balasan atas kesombongannya.”

Thahir terisak, tak mampu berkata-kata. Angin malam semakin dingin terasa, Thahir terduduk lemas, menyesali perbuatannya.

Malam itu, ketika Wan Usman pulang dengan tangan kosong menuju istana yang dibuatnya, yang berada di tengah Danau. Ternyata Putri Harum Wangi berlari mengejarnya kemudian mencari jalan pintas dengan berenang di Danau. Tiba-tiba saja Putri tenggelam seolah tersedot ke dasar. Wan Usman segera menolong, tetapi berakhir sama.

“Apa yang kau inginkan wahai, Wan Usman.”

Wan Usman tertawa, menertawakan keadaan. Sementara Putri Harum Wangi menatap iba kepada sang ayah.

“Maafkan aku wahai Wan Usman, aku telah merestui kalian,” ucap Thahir lemah. Dadanya dipenuhi oleh luapan penyesalan yang tak berujung. Bukan ini yang diimpikannya, tetapi Tuhan punya rencana lain agar dia tak mengulangi kesalahan.

Seketika angin kembali kencang, daun-daun berguguran dan batang pohon kecil seakan hendak tumbang. Kemudian, pusaran air di Danau berputar hebat, menelan semua benda di atasnya. Thahir menutup mata, tak sanggup menahan angin yang teramat kencang itu. Saat semua kembali hening, Thahir tak menemukan lagi dua buaya itu.

Dumai, 15 Januari 2022

#Tantangan_gurusiana365

#Day9

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar




search

New Post