Lope... Lope Bu Guru
Bu Guru memang tak pernah ngerti gimana rasanya tertekan dalam tumpukan tugas yang membuat isi kepalaku rasanya meluber kemana-mana. Selalu saja alasan klise yang dia sampaikan.. Rajin belajar itu supaya kamu jadi pintar. Bah, emang gak ada kata lain. Aku bagai masuk dalam jurang penderitaan yang paling dalam. Ingin sekali aku lari dari tugas-tugas jahanam itu.
Belum lagi segepok pertanyaan investigasi yang bagai bombardir. Aaaah, lidah ini jadi kelu. Entah jampi-jampi apa yang Bu Guru baca hingga tak ada kata yang keluar meski hanya bisikan lirih. Aku hanya bisa menunduk sambil memandangi ujung sepatuku yang sudah mulai bolong. Tak sanggup aku memandang matanya yang penuh hipnotis.
Pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Termasuk berkurangnya tugas-tugas dari Bu Guru. Huhuyyy, saatnya menikmati kebebasan, meski pun gak bebas-bebas amat sih. Tugas sekolah meski masih ada, tapi setidaknya aku tak bertemu Bu Guru tiap hari. Peristiwa paling bersejarah.
Gadget menjadi barang paling popular di masa pandemi. Tugas sekolah ditransfer dari sana. Ah, bodo amat. Kerjakan seadanya. Paling-paling Bu Guru komennya lewat tulisan-tulisan bisu. Tak perlu aku melihat ekspresi kecewanya saat melihat hasil pekerjaanku. Tak perlu aku mendengar lagi komentar yang terbingkai dalam nama nasehat.
Malam itu ku kirim hasil kerjaku via whatsapp. Tak ku pikir lagi. Hingga pagi hari ku dapati sebuah chat. Alamaaak, chat dari Bu Guru. Biarlah ku abaikan saja. Aku yakin isinya komentar terhadap tugas yang ku buat sekadarnya saja. Cringgg. Notifikasi pesan masuk mengagetkanku. Ku lirik sekilas. Emot love berwarna merah. Penasaran ku buka. Terhenyak aku memandangi isi chat itu
Benar. Chat dari Bu Guru. Lidahku kelu. Sama persis seperti saat aku diinterogasi Bu Guru tentang tugas-tugasku. Hanya yang ini beda. Tiba-tiba saja aku membayangkan mata Bu Guru. Entah mengapa mata yang selama ini berkesan tajam bagai burung elang berubah menjadi telaga yang teduh. Telaga yang menjanjikan kedamaian hanya dengan memandang airnya yang jernih.
Ku pejamkan mata, merasakan rindu yang tiba-tiba datang. Rindu pada Bu Guru. Kalimat-kalimat dalam chat itu semakin membuat rindu itu menjadi-jadi. Bagaimana kabarmu, Nak?. Itu kalimat pertama yang Bu Guru ketik. Semoga musibah ini cepat berlalu yaa. Kalimat kedua. Bu Guru sudah kangen padamu, pada kalian semua. Kalimat ketiga yang diakhiri emoticon berbentuk hati. Meleleh rasanya.
Segera ku balas. Bu Guruuu, aku juga rindu, lope… lopeee. Itu saja, karena tanganku pun ikut kelu dilanda rindu yang dahsyat pada Bu Guru. Aku ingin bertemu Bu Guru. Aku ingin memeluknya dan membisikkan padanya, Lope… lope Bu Guruuu.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Saya juga rindu bu..semoga selalu ada kesempatan...
Benar buu, tiap hari dapat pertanyaan kapan masuk sekolah
Ternyata enak sekolah katanya bosan di rumah
Ternyata enak sekolah katanya bosan di rumah