DIALOG PENGANTAR LELAGON DOLANAN
DIALOG PENGANTAR LELAGON DOLANAN
Lelagon dolanan merupakan salah satu warisan seni budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Tengah. Lelagon (tembang) dolanan yang sering kita dengar biasanya dinyanyikan dengan diiringi alunan musik gamelan atau musik campur sari. Lelagon ini dapat dinyanyikan oleh orang dewasa (sinden) maupun oleh anak-anak. Durasi untuk satu lelagon dolanan biasanya tidak lebih dari tujuh menit.
Belum banyak kita temukan batasan tentang lelagon dolanan. Namun, secara umum dapat kita cermati bahwa lelagon dolanan itu kebanyakan ditulis oleh penciptanya sebagai sarana untuk menghibur, menasehati, memberikan gambaran tentang suatu obyek atau untuk memberikan semangat kepada anak-anak. Dengan demikian, isi syairnya tentu saja menggambarkan dunia anak-anak.
Banyak ragam lelagon dolanan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Tengah. Ada yang bersyair pendek dan ada pula yang bersyair cukup panjang. Ada yang maknanya mudah dipahami dan ada pula yang maknanya tidak mudah untuk dipahami. Beberapa contoh lelagon dolanan yang sering kita dengar misalnya: Suwe Ora Jamu, Gundhul-Gundhul Pacul, Prahon, Lesung Jumengglung, Gugur Gunung, Lepetan, Jaranan, dan masih banyak yang lainnya.
Untuk menyajikan lelagon dolanan akan terasa lebih enak didengar dan dipandang mata jika disertai jogedan (gerak tari) dan adanya dialog pengantar yang menggambarkan isi dari lelagon yang dinyanyikan. Bahkan, akan terasa lebih bagus lagi manakala sajian juga dilengkapi dengan akting anak-anak untuk mengekspresikan dialog yang telah dibuat. Namun, belum semua anak dapat menyajikan lelagon dolanan dengan cara demikian. Padahal, adanya dialog pengantar akan dapat memudahkan penonton/pemirsa untuk memahami maksud dari lelagon yang disajikan.
Dialog lelagon dolanan perlu disusun dengan memperhatikan maksud dari syair lagu yang akan disajikan sehingga pesan-pesan yang terkandung dalam lelagon dapat tersampaikan secara utuh. Dalam lomba lelagon dolanan biasanya peserta dituntut untuk dapat memenuhi kriteria penilaian yang salah satu diantaranya adalah adanya dialog pengantar sebagai bagian dari ide cerita. Di samping itu ada juga kriteria-kriteria lainnya seperti vokal, teknik, kekompakan, dan penampilan. Penyusunan dialog pengantar akan terasa lebih mudah jika terlebih dahulu disusun sinopsisnya.
Robingah
Peserta pelatihan sagu sabu Banjarnegara
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Siap....
laksanakan...
Mantap, Bu. Lelagon dolanan perlu dilestarikan.
Iya Bu karena itu merupakan salah satu ragam budaya Jawa.
Siip Bu mantap salam kenal dan sukses selalu
Makasih. Salam kenal juga.
Siip Bu mantap salam kenal dan sukses selalu
Siip bunda.
Makasih.
Mantap Bun pencerahannya
Semoga bermanfaat.
Mantap Bu. Indonesia memang kaya budaya ya Bu. Salam kenal
Iya benar Bu. Salam kenal kembali.
mantap..
Makasih.