Risnawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menepi Merebahkan Lelah

Menepi Merebahkan Lelah

Kabut menyambut pagi dengan hangat. Mentari tak mau kalah, Ia menari dengan indah menebarkan sinarnya. Lama-lama kabut merasa kalah dengan kekuasaan mentari, hingga bergegas perlahan, lalu menghilang. Hari yang cerah untuk pakaian yang ingin berjemur manja bak turis di pantai.

Hidangan sarapan telah tersedia. Aku menuruti ajakan Ibu untuk sarapan bersama, rasanya sangat menyenangkan saat baru kembali ke rumah setelah sekian lama jauh dari kampung halaman. Disiapkan segala sesuatunya, apalagi tadi malam sebelum tidur , aku bilang lagi lapar, tapi tidak sempat makan karena kantuk dan lelah yang tak bisa dilawan.

Makanan yang tersaji sederhana, namun kandungan gizinya tetap komplit dan rasanya tak terkalahkan, karena diolah oleh sentuhan tangan Ibu. Yah, menurutku Ibu adalah koki terhandal, bahan-bahan sederhana diramu menjadi makanan yang bukan hanya enak di lidah, tapi rasanya seperti hinggap di ingatan. Selalu dirindukan kala di rantauan.

Meski kepulangan kali ini terhitung lebih cepat dari sebelumnya, tapi rasanya seperti sudah mau setahun saja. Mungkin efek dari rumah yang ditinggal penghuninya selama hampir sebulan ini. Ayah Ibu baru tiba di rumah dua hari lalu setelah berkelana di Provinsi sebrang melihat kebun kelapa sawit. Sedang Aku baru tiba di rumah semalam Jam 21.00. Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu libur semester genap, tapi baru sempat pulang kemarin. Ada beberapa siswaku yang harus didampingi mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat kabupaten.

Perjalanan pulang juga tidak semulus biasanya. Jarak tempuh yang harusnya memakan waktu dua jam bertambah dua kali lipat, karena ada masalah pada rem mobil yang ditumpangi. Sungguh melelahkan.

Sudah lama kita tidak duduk bersama seperti ini. Rumah yang dulunya dipenuhi riuh suara anak-anak bermain, perlahan jadi lengang. Rumah yang dulunya tempat bertumbuh, kini hanya sebagai tempat singgah untuk sejenak merebahkan lelah. Pada akhirnya semua mencari jalan hidup masing-masing. Semua pasti sepakat jika tidak ada tempat ternyaman selain kampung halaman, tapi ada hidup yang harus diperjuangkan di perantauan. Aku tidak sedang membicarakan diri sendiri. Masih dalam kabupaten yang sama belum dikategorikan tanah rantau. Aku memikirkan mereka yang harus hidup merantau di Pulau yang berbeda.

Usai sarapan, Aku menikmati secangkir teh hangat dengan bolu gulung yang kubeli kemarin di perjalanan pulang. Ibu mendekatiku dengan wajah semringah sambil membawa ponsel. Ia tidak sabar menunjukkan tempat dan kegiatan selama di provinsi sebrang. Nampakya mereka sangat menikmati perjalanan, suasana baru, dan rutinitas yang berbeda di sana. Aku turut senang dengan segala apapun yang membuat mereka bahagia.

Mendung kembali datang. Aku salah menyangka, Kupikir dia menghilang karena merasa kalah. Rupanya hanya menepi menyusun strategi, untuk kembali menantang mentari. Bahkan mendung mengundang hujan untuk bekerja sama melenyapkan sinar-sinar yang terpencar. Mentari menutup diri. Kini hanya mendung yang menggulung, ditemani titik hujan yang memetik genteng.

Pikiranku melayang jauh, memikirkan tawaran yang diberikan oleh Ayah saat sarapan tadi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Hasil jepretannya menawan ibu. Semenawan ulasannya.

07 Jul
Balas



search

New Post