Selamat Petang Sayangku
Selamat petang, Sayangku. Tahukah kau jika tatapan Sang senja memberi isyarat bak angkuh hatimu? Berjanji bertahan namun meninggalkan. Sekali lagi senja dan kau sama. Singkat dan menyakitkan. Ada luka antara kita dan senja. Kamu itu seperti bunga mawar. Kenapa? Karena walaupun terlihat indah, kamu sangat menyakitkan jika dipegang. Indah memang, tapi aku tak tahu kapan kau akan layu dan kapan kau akan melukaiku dengan durimu yang tajam.Yang aku tau, suatu saat ia akan layu dan segera melukaiku. Dibalik senyum manismu, aku tahu ada duri yang siap menusukku. Aku hanya bunga dandelion di matamu, cepat hilang dan tak pernah dianggap. Indah seperti bunga matahari, harum seperti melati. Aku masih berharap dapat melihat engkau mekar kembali walaupun tersakiti kesekian kali.
Bunga adalah lambang seorang wanita, cantik indah namun jangan harap untuk kau petik dan jauhkan dari tangkainya. Jika dengan pertemanan mampu mempersatukan 2 jiwa, ku harap semerbak harum bunga mampu mengantarkan rasa ini padamu. Kau suka menulis tentang rindu di pagi hari, senja, hingga malam sampai rindu itu hilang sama seperti bunga yang baru tumbuh mekar hingga ia layu. Pada akhirnya, aku benar-benar sendiri. Sekeras apapun menenangkan dan menipu diri tetap jua sama, kau di sana dan aku di sini. Kita berbeda, langit yang kita lihat pun tak sama. Ada tabir penghalang yang jelas terasa. Jarak yang terlampau menyiksa. Mengisyaratkan kehadiran yang tak pernah tertangkap netra.
Jarak menjadi sekat. Bertukar segala sesuatu lewat bidai. Langit kita sama, kuharap hati pun sama, senja kita sama, dan tujuan kita sama. Tapi tidak. Jika kau laksana rumah aku takkan gundah. Percayalah, ku akan pulang tanpa salah arah. Aku tak ingin kau menjadi senja. Yang indah, namun sementara. Yang peluknya hangat, namun pada akhirnya dilepas jua. Aku ingin kau menjadi malam. Yang senantiasa merindukan pagi dan yakin bahwa akan selalu kembali. Kuharap kau akan paham. Bagaimana lelahnya menanti mati-matian dan berjuang untuk yang tak mengharapkan. Kuharap kau akan paham tentang arti mendengarkan dan merasakan. Aku tak butuh ragamu jika jasadmu sepenuhnya tertinggal pada dia. Aku tak butuh puisimu jika pada dasarnya dialah yang menjadi alasan utama dan aku hanyalah yang kedua.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar