(77) Hartaku yang Tersisa (bag.4)
#TantanganGurusiana Hari ke77
Sejak kepergian ayah hidup kami berubah total. Gaya hidup harus menjadi lebih sederhana. Ibu memutuskan untuk tidak memakai jasa asisten rumah tangga lagi dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Hal itu membuat kami terkejut tapi ibu bilang ini semua demi bisa mendidik kami agar bisa mandiri dan dewasa.
Sebenarnya kami tahu ibu harus berhemat dan berpandai-pandai karena perekonomian keluarga sudah tidak seperti dulu lagi. Ibu lebih mengutamakan biaya-biaya untuk pendidikan kami semua. Jadi jalan ini harus kami tempuh. Memprioritaskan mana yang benar-benar kebutuhan. Kami bergotong royong mengurus rumah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu mengajarkan kami untuk rendah hati. Hidup tidak boleh gengsi. Jika terus menjaga gengsi kita hanya akan makan gengsi sampai kapanpun juga. Begitu pesan ibu yang tidak pernah kulupa.
Aku sering meneteskan air mata saat ibu harus bekerja keras. Menjadi ibu sekaligus menjadi ayah bagi kami. Ibu selalu berusaha keras agar kami tetap nyaman untuk bersekolah. Ibu tak mau kami kekurangan apapun. Ibu selalu mengatakan agar aku selalu berprasangka baik terhadap keputusan Tuhan. Kenapa Tuhan mengambil ayah secepat itu pasti ada maksud baik. Senyuman ibu selalu terukir saat memberikan nasihat itu. Ibu aku selalu bangga denganmu.
Bersambung
Dirumahku,30122020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar