REDA ACHIYAT

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Alhamdulillah Hasbi Selamat

Pagi itu sekitar pukul 9 pagi,di tahun 2020, di masa Pandemi Covid. Siswa belajar Jarak Jauh (PJJ) dipandu oleh guru dari rumah melalui media Zoom atau Google Meet. Dari kejauhan pula siswa dipantau kehadirannya dan keaktifannya baik dalam tatap muka di layar HP atau Laptop maupun keaktifan secara digital mengirimkan tugas. Walaupun siswa selalu dihimbau untuk selalu hadir karena selalu absen, namun kenyataaannya selalu saja ada kendala dalam kehadirannya. Mulai dari tidak punya HP, tidak punya kuota data, tidak ada pengawasan orang tua, siswa yang tidak tahu infor, siswa yang tidur saat zoom atau memang hilang kontak sama sekali.

Saat ini diawal pademi, saat sekolah sudah mulai memberlakukan work from home ( bekerja dari rumah untuk guru ) PJJ (pembelajaran Jarak Jauh). Di sekolah hanya ada guru piket yang biasanya terdiri dari wakil dan staf TU yang. Sekolah terasa sepi, dari suara dan hiruk pikuk kegiatan.

Pagi itu datanglah seoorang perempuan Ibu ke ruang Tata Usaha. Kisaran berusia empat puluh tahunan

Ibu Anna, Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang kebetulan melintas di ruang TU, tanpa sengaja menangkap percakapan kedua perempuan tersebut, yang bermaksud ingin mengundurkan diri dari SMP Negeri di Jakarta dengan membawa seikat buku perpustakaan di samping kakinya. Ikatan buku perpustakaan lengkap dengan ikatan tali rapia.

Petugas piket di TU, mencatat di buku besar maksud dari Ibu dan anak gadisnya itu dan memintanya untuk menunggu petugas perpustakaan agar bisa di proses pengembalian bukunya. Duduklah mereka di kursi tunggu di luar ruang Tata Usaha. Memandang luas ke arah lapangan basket yang sepi.

Rasa keingin tahuan bu Anna membawanya untuk mendekati kedua Ibu dan anak gadisnya itu.

"Assalamualaikum Ibu, sedamg apa di sini ?" Ada yang bisa dibantu ?" Tanya bu Anna.

"Saya bu Anna wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ." Bu Anna memperkenalkan diri sambil memberi insyarat salam dengan mengatubkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala dan senyum memandang Ibu tersebut.

"Waalaikum salam, Saya Zubaedah, ibu dari Hasbi kelas 8.1 Bu," jawab Ibu tersebut sambil memberikan isyarat yang sama.

"Hasbi tidak mau sekolah lagi Bu, mau mengundurkan diri hari ini." sambung ibunda Hasbi.

"Kenapa mengundurkan diri?" tanya bu Anna.

"Dia sering gak hadir dan gak mau lagi mengerjakan tugasnya." Jawab ibunda Hasbi.

"Ibu tinggal di mana ?" tanya bu Anna.

"Saya tinggalnya pindah-pindah Bu, kontrak bulanan. Kemarin kontrakkan hanyut kebawa banjir sungai, saya dah pindah lagi, untung aja buku perpustakaan selamet." Cerita ibunda Hasbi.

"Kalau Hasbi keluar, mau sekolah kemana Bu?, tanya Ku.

"Ya, enggak sekolah Bu, enggak ada biaya. Di rumah aja bantuin di rumah."

"Masih ada suami Bu?" tanya Ku

"Ada Bu di rumah, enggak kerja. Bantuin saya di rumah, dagang makanan anak-anak. Kaya chiki gitu. Ya... sedapetnya Bu. Sekarang enggak dagang dulu BU. Modalnya abis buat makan. Untung aja kakaknya Hasbi dah mulai kerja, cerita Ibu Hasbi.

Hasbi, yang sekarang kelas 8.1 adalah anak berkebutuhan khusus. dari pembicaraan singkat yang ditangkap dari ibunda Hasbi, sepertinya dari keluarga ekonomi lemah. Dilihat dari penampilan ibunya yang berpakaian sangat sederhana dan seadanya. Mengenakan celana panjang dan kemeja atasan dan bergo. Pakaian yang dikenakan pun terlihat pudar dan dengan paduan warna yang tidak nyambung sama sekali.

" Ibu ke sini sendiri?" Tanya Ku.

" Oh, saya ke sini sama anak saya, kakaknya Hasbi, nunggu di motor." jawab ibunda Hasbi.

"Bisa dipanggil Bu, saya mau bicara." pinta Ku.

"Iya Bu, bentar saya panggilin ya Bu." jawab ibu Hasbi, sambil permisi untuk berdiri melewatiku yang duduk berdampingan di kursi kayu panjang di luar ruang TU menghadap lapangan.

Tak lama ibu dan anak gadisnya pun muncul dan gabung duduk. Bu Anna pun memilih duduk dekat anak gadis itu yang usianya sekitar 18 tahun. Ibunda Hasbi, anaknya dan bu Anna disampingnya,

" Kakak, " begitu Aku menyapa anak gadis itu.

"Iya Bu," jawabnya dengan insyarat menunduk dengan rasa hormat.

"Kakak tahu adiknya mau keluar dari SMP ini ya?' Tanya Ku.

"Iya Bu, adik saya dah enggak mau sekolah, karena gak ikutan zoom dan enggak mau mengerjakan PR lagi.

"Kakak berapa bersaudara?' Saya sebenarnya 3 bersaudara Bu, Kakak saya yang nomor satu meninggal, saya anak nomer dua dan Hasbi adek saya. " Jawab Kakak

"Kakak sudah kerja ya?, tanya Ku.

"Alhamdulillah baru kerja Bu, kemarin baru tamat SMK."

"Kakak, kalau Hasbi enggak sekolah, dia di rumah saja, terus enggak ngelanjutin, kira-kira bakalan parah gak kondisinya?, tanya Ku.

"Iya sih Bu, Dulu waktu kelas 7 masih datang ke sekolah sebelum pandemi, Hasbi rajin Bu, enggak pernah enggak masuk, juga bergaul sama temen-temennya. Nah, pas pandemi, di rumah dia pusing katanya Bu, tugasnya banyak, gak punya HP juga. " cerita Kakak.

"Kalau Kakak kerjanya sibuk ya? tanya Ku.

"Enggak juga sih Bu" jawab Kakak.

"Kakak Sayang kan sama Adiknya?" tanya Ku

Dengan mengangguk Kakak pun mengiyakan.

"Kakak mau bantu adiknya supaya tetap sekolah di SMP ini?"

Kali ini Kakak tidak hanya mengangguk namun juga menjawab dengan antusias

"Mau Bu," Jawabnya.

Siswa Spesial yang berkebutuhan khusus si sekolah negeri di Jakarta diberikan fasilitas istimewa karena mendapatkan kuota 2 orang dalam setiap rombongan beajar. Kalau ada 18 rombongan belajar dikalikan 2, maka sekolah meneri tersebut harus bersedia ditempati oleh siswa ABK sebanya 16 orang. Namun sekali lagi, siswa ABK yang mendaftar di seklah tersebut relatif sedikit. Hal ini sering dijadikan suatuu kebahagian bila sekolah negeri dengan sedikit ABK. Hal ini disebabkan karena guru di SMP Negeri belum dibekali ilmu untuk menangani sis ABK. Namun kalau sudah ada, ya dilayani sebaik mungkin agar siswa tersebut bisa menamatkan pendidikannya dengan mulus di SMP Negeri.

" Kakak, Kakak harus masuk ke grup kelas yang sudah dibuat, oleh wali kelas, dan membaca info tugas yang diberikan, kakak bisa bantu mengerjakan tugasnya dan mengirimkan ke google class, kalau itu merepotkan bisa kirim tugasnya melalui WA, bisa kirim ke grup kelas. TIdak apa-apa, kakak yang bantu mengerjakan dan jangan lupa mengisi daftar hadirnya. Paling tidak dengan seperti ini, Hasbi bisa selamat dengan karena selalu aktif. Bagaiman ?" tanya Ku

"Siap Bu, saya mau bantu adik saya, Jawabnya semangat.

" Iya Paling tidak sampai pandemi ini beraakhir, Hasbi gak stres lagi menghadapi PJJ yang membuatnya bingung dan stres." Kata Ku.

Memang Hasbi, tidak kuat menghadapi tumpukan PR yang dikerjakan secara online. Kemampuannya tidak mampu melakukan itu. Ia hanya bisa melakkan 1 perintah saja. Tidak bisa memahami lebih dari satu perintah.

Yang membuatKu bahagia yang luar biasa di pagi itu adalah, Ibunda dan kakak Hasbi yang sudah pesimis dan sedih karena Hasbi tidak lagi bisa sekolah di SMP Negeri ini, karena dianggap tidak sanggup dan mengundurkan diri, akhirnya dengan semangat meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah membawa buku perpustakaan yang akan dikembalikan tadi. Merubah keputusannya untuk terus melanjutkan sekolah di SMP ini.

Sebenarnya ada Kata-kata ibunda Hasbi yang menyatakan bahwa Hasbi sering mendapatkan kata-kata melalui WA pribadi dan ditelpon kalau Hasbi itu tidak bakal bisa naik kelas karena malas dan dianggap tidak bakal mampu karena dianggap bodoh atau oon. dari wali kelasnya sendiri. Hal ini ku simpan sebagai wakil kesiswaan yang tentunya berpihak pada keamana psikis siswaku. Aku juga menemukan jawabannya dari penyelidikanKu kalau sebenarnya kalau Hasbi keluar karena mengundurkan diri maka akan ada siswa mutasi baru yang akan menggentikan Hasbi dan itu saudara dari guru tersebut yang tentu saja bukan siswa ABK. Mudah saja menyingkirkan Hasbi yang lemah segalanya.

Betapa bersyukurnya Aku saat itu bisa menyelamatkan siswaku yang ku anggap benar-benar membutuhkan bantuan dan perlindunganKu. Walaupun sebenarnya Aku pun tak tahu dan belum pernah bertemu langsung dengan Hasbi sampai ia berhasil naik ke kelas 9 bahkan akhirnya tamat di kelas 9 dengan perjuangan yang luar biasa dari keterbatasannya sebagai siswa ABK dan juga kehidupan ekonomi yang berat luar biasa. Setiap ada keluhan Bapak Ibu guru tentang tugas- tugas Hasbi yang tidak selesai di masa Pandemi itu, dengan sigap ku telpon Kakaknya dan ku Motivasi agar semangat mengumpulkan tugas Hasbi. Ku berikan trik agar tugasnya tak perlu dikerjakan semua dan bagus-bagus yang penting ada tugas yang dikerjakan bersama Hasbi dan kakaknya.

Pandemi berlalu, di kelas 9 Hasbi sudah masuk kembali ke sekolah dan ia rajin masuk sekolah seperti kelas 7 dulu. Tugad-tugasnya juga diekrjakan semampunya dan tak ada lagi keluhan dari guru-guru karena dianggap malas di masa pandemi dulu.

Dari pengalaman ini, betapa besar peran guru dalam menguatkan mental siswa ABK yang memang membutuhkan perhatian ekstra. Kata-kata buruk yang kita lemparkan kepadanya yang kita anggap biasa ternyata begitu melukai dan mematahkan semangat juangnya. Sampai tamat kelas 9 belum pernah bertemu langsung dengan Hasbi, entah karena kesibukan apa. Namun paling tidak sudah bisa menyelamatkan Hasbi sampai tamat di kelas 9, semoga Hasbi bisa terus melanjutkan sekolahnya dan menjadi pribadi dewasa yang memiliki keterampilan yang bisa berguna untuk masa depannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Karya yang sangat keren

20 Mar
Balas



search

New Post