Penggalan Kisah Emak, air mata di ujung lentera
I Made Dwipradipta Mahendra
*****
Menyaksikan kesibukan banyak orang lalu‐lalang yang hilir mudik di Pelabuhan Ketapang menjelang lebaran cukup membuatku terhibur. Sekira satu jam paling lambat ke depan, kapal feri akan merapat di Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.
Emak masih menyimpan catatan nomor Pakde, sehingga melalui sambungan handphone Pak Yai, Pakdeku sudah dikabarkan akan perjalanan kami. Setiba di sana, kami sudah dinanti untuk diboyong ke rumahnya.
Bola mataku tiba‐tiba tak mau beralih menyapu Selat Bali yang terbentang luas. Bukan deburannya, buka riaknya, bukan warna laut namun segerombolan anak‐anak itu yang membuat napasku menjadi tak beraturan.
Sontak aku tercekat. Aku tak mau lagi menangis. Aku tak mau lagi meneteskan air mata, tetapi entah mengapa ketika menginjakkan kaki di Pelabuhan Ketapang, Kalipuro Kabupaten Banyuwangi ini sontak seperti menjadi kaleidoskop, memutar kembali perjalanan hidup yang cukup membekas di memori otakku.
Di Pelabuhan ini banyak kisah yang aku lalui bersama dengan adikku, Wahyuni. Aku menyeka mataku, tertawa getir. Ya Robbi, jika diingat sekarang, seperti punya nyawa serap saja diriku dengan
Wahyuni pada saat itu. Setiap hari selalu datang ke pelabuhan, menantang maut. Orang‐orang menyebut kami anak logam.
Terjun ke laut, menyelam menangkap koin yang dilemparkan oleh penumpang di pinggiran dermaga dan kapal. Sudah tak kami hiraukan lagi begitu menggigilnya tubuh ketika berada di atas, lalu duduk menepi dan menghitung jumlah koin yang didapat.
Emak tidak pernah tahu, hanya Pakde Pradipta yang menyimpan rahasia ini. Itu pun setelah dipaksa mengaku melihat kami pulang ke rumah dengan mata merah. Sebagai kompensasinya, Pakde menyimpan rapat‐rapat cerita ini, tetapi kami berhenti melakukannya.
Begitulah Pakdeku, kakak kandung Pak’e dengan kemarahan namun masih menjaganya jangan sampai emak murka. Mengingat ini, rasanya kangenku sudah tak terbendung. Jarak 50 km antara Ketapang dan Gilimanuk ini seperti akan kubuat sekejap.
Aku memanggilnya Pakde Pradipta. Nama lengkapnya I Made Dwipradipta Mahendra.
Huruf I di depan Made
menunjukkan jenis kelamin laki‐laki, sedangkan Made konon katanya merupakan serapan dari kata madya yang berarti anak kedua.
Dalam bahasa Bali sebetulnya panggilanku untuknya salah, harusnya Wa Pradipta, bukan pakde. Namun, pengaruh darah Jawa emak, dan kemudian setelah Pak’e berpulang,
pyur kehidupan lebih banyak bersama emak, mau tidak mau membuatku lebih banyak terpengaruh tradisi Jawa.
Untuk panggilan paman, dalam keseharian Bali hanya mengenal dua macam yaitu panggilan. Untuk paman yang umurnya lebih muda dan yang lebih tua dari orang tua. Wa, sebutannya wo, sering juga disebut wak adalah panggilan paman yang umurnya lebih tua, dalam bahasa Jawa sering dikenal dengan pakde, sedangkan aji, ajik atau ji adalah panggilan untuk yang lebih muda, dalam bahasa kerennya om.
Wa Made Pradipta tak pernah mempermasalahkan itu. Mau memanggilnya Pakde monggo, mau memanggilnya wa kataya raris dogen (silakan saja), pokoknya “matur suksma” (terima kasih) begitu selalu katanya dengan kesantunan khas Bali yang ramah, bersahaja, dan penuh etika.
Pakde, aku kangen sekali. Masih ibadahkah dirimu sore ini? Harum bau dupamu seperti menusuk hidungku. Tentu menjelang magrib Pakde sedang mempersiapkan diri sembahyang Pascima Sandhya. Trisandhya istilah peribadatan ini, semacam ibadah di tiga pergantian waktu. Pemujaan wajib terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dikerjakan pada tiga kali sehari, Pratah Sandhya, dilakukan pada pagi hari menjelang matahari terbit, lalu Madyama Sandhya, ritual peribadatan di siang tengah hari, dan terakhir Pascima Sandhya, saat magrib.
Dengan udeng jejateran, yang merupakan udeng untuk aktivitas ibadah, Pakde Pradipta terlihat sangat gagah, dengan mukanya yang ganteng makin membuat muka etniknya terlihat begitu menarik. Duh, pikiranku sudah berada di Gilimanuk rasanya.
“Le, ayo bersiap kita akan segera berangkat!” Emak tersenyum menegurku. Aku bergegas berdiri. Untuk memudahkan berjalan, tas besar emak kuselempangkan di badan, sedangkan tas pakaianku kugendong di belakang punggung.
Aku berjalan mengikuti emak. Langkahnya terlihat bersemangat.
In the name of Allah. The beneficient, the merciful, everything is gonna be alright. Setiap langkah besar, selalu dimulai dengan langkah pertama. Aku pasti mampu melewatinya. Aku akan berhenti bertanya, mungkin untuk jawaban setiap yang bergejolak di hati ini adalah berusaha.
Bismillah. Pakde, aku sangat merindu.
*****
Berulang kali kusebut nama‐Nya ketika pada beberapa menit menjelang kapal feri merapat, angin kencang membuat Selat Bali sedikit bergolak.
Perasaan takut cukup mendera saat air menyembur cukup tinggi, kemudian bergelombang menyapu dinding kapal. Hempasannya berderak riuh, terasa oleng terombang‐ambing.
Seketika itu aku langsung berpikir mencari Tuhan untuk melindungi.
Kencangnya hembusan angin membuat kapal feri seperti mendorong berbalik arah, lalu terasa diam sesaat. Sama sepertiku, beberapa wajah yang berdiri di samping juga menunjukkan ekspresi was‐was.
Semilir angin berhembus mencekam. Tak berpikir lama, aku pun merengsek ke dalam lalu mendapati emak terpekur diam dalam doa. Laa takhaf wa laa tahzan innallaha ma’ana.
Cuaca buruk seperti menyambutku dengan caranya, menyampaikan kabar “Selamat datang harapan. Hidup itu keras, tak selalu menjanjikan surga, mengajakku untuk tak memberikan peluang kepada hati untuk sekadar rehat berleha‐leha, mem‐pressure untuk melihat masa depan dengan penuh gairah dan bakar hidupmu dengan optimisme. Namun, benteng diri dengan kerendahan hati.”
Alhasil, senja di Pelabuhan Gilimanuk terpantau lengang. Aktivitas penyeberangan terlihat sepi, dengan sangat menyesal keinginanku untuk bernostalgia dengan tak melewatkan melihat khasnya Gilimanuk menjadi tak terkabul.
Gilimanuk itu bermakna pulau burung (gili itu pulau, manuk itu burung). Namun, senjaku menjadi tidak menarik tanpa kehadiran mereka. Hanya sebentar melihat indahnya burung yang beterbangan, tetapi kemudian hilang ketika tersaput derasnya badai.
Dari kejauhan terlihat kerlip lampu. Di atas terbaca tulisan Pelabuhan Penyebarangan Gilimanuk, yang menjadi pintu gerbang utama sebelah barat menghubungkan pulau jawa dan bali. Kapal feri merapat dengan terseok‐seok.
******
Alhamdulillah, kami sudah sampai di daerah ujung, begitu orang Bali menyebut wilayah ini. Sebutan ini cukup beralasan karena letaknya yang memang berada di ujung Pulau Bali.
Setiap kali ada lelaki yang memakai udeng, setiap kali pula mataku tertuju. Namun, aku belum menemukan sosok pakde. Menit berselang menit, belum juga mengubah keadaan. Sosok yang diharapkan untuk menjemput kedatangan kami belum juga ada wujudnya.
Sesekali aku tegak, duduk, mondar‐mandir, yang membuat emak cukup memaklumi kegelisahanku.
“Uling ije, Gus?” (Dari mana, Mas?
Seorang perempuan tersenyum menyapaku. Aku agak kaget karena tak mengenalinya.
Dalam keseharian Bali, sapaan Gus, berlaku untuk lelaki muda asing yang tidak dikenal atau belum akrab
Bingung aku menjawabnya. Emak pun tersenyum melirik ke perempuan itu.
“Uling Jawa, Men.” Dari Jawa, jawab emak. Perempuan itu mengangguk.
“Le, duduk sini. Mungkin Bli Made dalam perjalanan ke sini. Ampun wedos.” Emak menggeser duduknya.
Aku kemudian duduk mengikuti tangan emak, meskipun masih dalam suasana hati yang tak menentu.
Sebagai orang yang lebih muda dari pakde, emak memang memanggilnya Bli Made, panggilan untuk kakak laki‐laki dan menyebut bukde dengan mbok, sedangkan pakde memanggil emak dengan sebut gek, kadang juga luh.
*******
Dari belakang terdengar suara berat ngebas khas suara Pakde.
“Assalamualaikum, Gek, ampura nika, makelo niki ngantosang.” (Saya minta maaf, Dik, menunggu lama.
Kami menoleh ke belakang, terlihat lelaki gagah yang kutunggu, semringah berada persis di belakang tempat kami duduk. Pakde mengucap salam, cukup surprise mendengarnya.
“Wa’alaikumsalam, Ten punapi, Bli,” jawab emak menyadari pakde sudah datang menjemput kami.
Setelah menyalami emak, pakde tersenyum menarik tanganku, mencium pipiku, lalu memelukku erat, menempel pada kemeja putih yang begitu serasi di tubuh gempalnya. Badan pakde harum, matanya begitu melindungi.
“Ayo Le, kita jangan berlama‐lama di sini. Bukde‐mu sudah menunggu di rumah. Sudah gede badanmu, ya?
Hebat!” Pakde menyeringai tertawa.
Aku dan emak mengikuti dari belakang, menuju mobilnya.
Pakde ternyata sudah punya mobil, ekonominya sudah mapan berarti, pikirku.
*******
Sepanjang perjalanan tak banyak percakapan, tetapi pikiranku bergerilya tak menentu. Kuperhatikan kepala pakde, tanpa udeng jejateran (udeng khas yang biasa dipakai untuk ibadah), dicirikan dengan simpul hidup yang ada di depan, diselipkan di sela mata, bukan juga udeng beblatukan yang simpul belakangnya dicirikan dengan ikatan mengarah kebawah yang biasa dipakai pemangku.
Namun, kali ini penutup kepalanya seperti mirip udeng dara kepak yang biasa dipakai oleh para pemimpin, memiliki penutup kepala. Tapi kok bentuknya aneh? Ya Allah, hatiku berdesir hebat.
#yang mau novel ini, inden yuk...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar