DEWI THE EXPLORER
Ketika saya masih kecil, di tahun 1980-an, saya menerima kiriman beberapa poto dari ayah saya yang sedang menimba ilmu di Paris, Perancis. Poto itu menunjukkan beliau sedang di bandara Charles de Gaulle bersama rekan-rekannya. Ada juga poto beliau di KBRI dengan Duta Besar Indonesia untuk Perancis saat itu yaitu Adam Malik.
Di balik poto itu ayah saya menuliskan sebuah kalimat yang sebenarnya ditujukan kepada abang-abang saya, Poltak dan Gunawan, namun entah mengapa sangat berkesan untuk saya. Kalimat itu berbunyi “Semoga anakku Poltak/ Gunawan dapat melihat peradaban manusia di dunia.”
Entah berapa kali sudah saya membaca kalimat tersebut. Saya coba cerna makna kalimat tersebut dengan pemikiran saya yang masih polos. Mengapa ayah saya meminta kami melihat peradaban dunia? Untuk apa? Mengapa bukan meminta kami untuk menjadi orang yang kaya-raya? Namun saya tidak menemukan jawabannya. Baiklah, nanti akan saya tanyakan kepada ayah saya.
Dua tahun kemudian ayah saya tiba di Indonesia setelah beliau menyelesaikan pendidikannya. Kerinduan kami selama 2 tahun berpisah dibayar oleh ayahanda dengan setiap malam bercerita pengalamannya hidup di kota paling romantis di dunia itu.
Beliau bercerita bagaimana beliau memperlancar bahasa Prancisnya dengan mengikuti kursus bahasa Prancis secara intensif. Bagaimana beliau harus beradaptasi dengan perubahan cuaca dari negara tropis ke negara dengan empat musim. Bagaimana beliau menghabiskan waktu saat libur musim panas tiba yaitu dengan menjelajahi negara-negara di Eropa seperti Belanda, Jerman, Belgia, dan Austria. Bagaimana beliau menjalin hubungan yang sangat baik dengan sebuah keluarga di sana dan telah beliau anggap orang tua sendiri. Bagaimana beliau terkesan dengan kedisiplinan masyarakat di sana terutama dalam menjaga kebersihan. Lalu saya ajukan pertanyaan yang bergelayut di kepala saya tentang harapan ayah saya di belakang poto beliau. Beliau menjawab, memiliki uang tidak serta-merta membuatmu memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas bila kamu tidak pernah berpergian ke tempat lain. Wawasanmu sempit. Pemikiranmu dangkal. Kamunakan menjadi orang yang merasa benar sendiri. Orang yang merasa paling tahu. Paling pintar. Tapi saat kamu berpergian tentunya kamu sudah punya cukup (kaya) uang sebelumnya, dan dari berpergian maka wawasan serta pengetahuan kamupun berkembang. Kamu tidak akan menjadi katak dalam tempurung. Well..that makes sense.
Ayah saya adalah story teller yang baik. Beliau menceritakan semua kisahnya dengan begitu menarik, didukung oleh ekspresi wajah, gesture, intonasi yang berubah-ubah sebagai dramatisasi, dan sesekali diiringi oleh lagu Prancis berjudul Sacree Bouteille. Karena seringnya lagu itu dinyanyikan, saya dan keempat saudara saya sampai hapal walau dengan pronunciation yang berantakan.
Jolie bouteille, sacrée bouteille
Veux-tu me laisser tranquille ?
Je veux te quitter, je veux m'en aller
Je veux recommencer ma vie
J'ai traîné
Dans tous les cafés
J'ai fait la manche bien des soirs
Les temps sont durs
Et j'suis même pas sûr
De me payer un coup à boire
Jolie bouteille, sacrée bouteille
Veux-tu me laisser tranquille ?
Je veux te quitter, je veux m'en aller
Je veux recommencer ma vie
J'ai mal à la tête
Et les punaises me guettent
Mais que faire dans un cas pareil
Je demande souvent
Aux passants
De me payer une bouteille
Jolie bouteille, sacrée bouteille
Veux-tu me laisser tranquille ?
Je veux te quitter, je veux m'en aller
Je veux recommencer ma vie
Dans la nuit
J'écoute la pluie
Un journal autour des oreilles
Mon vieux complet
Est tout mouillé
Mais j'ai toujours ma bouteille
Jolie bouteille, sacrée bouteille
Veux-tu me laisser tranquille ?
Je veux te quitter, je veux m'en aller
Je veux recommencer ma vie
Chacun fait
Ce qui lui plaît
Tout l'monde veut sa place au soleil
Mais moi j'm'en fous
J'n'ai rien du tout
Rien qu'une jolie bouteille
Jolie bouteille, sacrée bouteille
Veux-tu me laisser tranquille ?
Je veux te quitter, je veux m'en aller
Je veux recommencer ma vie
Sungguh masa kecil yang sangat indah. Masa di mana family time atau waktu kumpul keluarga memang didefinisikan secara harfiah. Berkumpul, bercengkrama, berbagi perasaan dan pendapat, tertawa, dan semua itu tanpa intervensi gawai seperti sekarang. Aah.. if only I could turn back the time.
Kepiawaian ayahanda menceritakan kisah-kisahnya di kota di mana menara Eiffel berada itu secara tidak sadar menanamkan sebuah keinginan dan tekad di dalam lubuk hati saya. Sayapun suatu hari nanti akan pergi menjelajahi dunia. Saya ingin melihat langsung kemegahan menara Eiffel, menyaksikan langsung kedisiplinan masyarakat di sana dalam menjaga kebersihan, merasakan langsung perubahan cuaca, mengalami langsung apa yang pernah ayahanda ceritakan. Janji itu terpatri begitu dalam di hati saya.
Dan saya tentu harus mencari cara untuk mewujudkan mimpi saya itu. Caranya ialah saya harus belajar dengan giat agar saya memiliki pendidikan yang cukup hingga saya mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji yang baik supaya saya bisa mengalokasikan sebagian pendapatan saya untuk biaya travelling. Sungguh menjelajahi dunia menjadi sebuah misi dalam hidup saya.
Dan kini 35 tahun telah berlalu sejak mimpi itu saya rangkai. Apa kabarnya impian saya itu? Sudahkah ia terwujud? Alhamdulillah saya belum berhasil mengunjungi kota Paris. Namun impian itu tetap membara. Mengunjungi negara-negara di Eropa tetap menjadi misi saya meskipun saya tidak tahu kapan akan bisa mewujudkannya karena ternyata biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Gaji seorang guru madrasah dengan dua anak belum cukup untuk melancong ke sana.
Meski begitu, Alhamdulillah separuh dari impian saya telah berhasil saya laksanakan yaitu menjelajahi beberapa negara yaitu Arab Saudi, Singapura, Malaysia dan Thailand. Pesan ayahanda untuk melihat peradaban dunia sudah saya lakukan.
Melalui perjalanan ke 4 negara tersebut saya berkesempatan untuk melihat dan mengalami langsung irama kehidupan masyarakatnya. Menyaksikan langsung kebersihan kota Madinah, Mekkah, Singapura, Kuala Lumpur dan Hat yai. Hampir tidak pernah saya temukan sampah tercecer di jalan dan itu merata baik di ibukota negara maupun di pemukiman-pemukiman warga. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan patut diancungi jempol. Begitu pula dengan kedisiplinan mereka dalam antri. Barisan panjang di tempat-tempat wisata begitu rapi dan semua bersabar menunggu gilirannya.
Banyak hal yang bisa saya pelajari dan tiru dari negara-negara tersebut dan ini membuat saya makin bersemangat untuk terus menabung agar bisa mengunjungi negara-negara lain. Karena sesungguhnya dunia itu bagaikan sebuah buku. Saat kita berpergian maka kita seperti membaca lembaran-lembaran lain, menambah wawasan dan pengetahuan kita. Begitupun sebaliknya, kitapun akan menjadi katak di dalam tempurung. Pastikan kita tidak menjadi salah satunya.
Dan untuk ayahanda tercinta, terima kasih teah menjadi sosok yang bijaksana yang memberi pemikiran dan kenangan yang luar biasa. Terima kasih telah menjadi inspirasi terbesarku..
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar