Tidak Mudah Menjadi Madya (Part 1)
Tantangan hari ke-23
#TantanganGurusiana
“Sebelas..dua belas..empat belas,” kuulangi kata-kataku berkali-kali. Mataku meneliti satu persatu nama di lembar absensi kelas X. “Empat belas?” Kupicingkan mataku tak percaya. Jariku menelusuri nama per-nama. Ah. Madya, pendatang baru ternyata. Ani tampak cemas ingin mengatakan sesuatu.
“Ya, Ani?” tanyaku kemudian.
“Iya, bu. Madya sekarang menjadi teman sekelas. Sebelumnya jurusan lain bu,” kata ketua kelas tersebut berusaha menjelaskan kebingunganku.
“Oh, jadi kelas satu jurusan lain, sekarang pindah ke jurusan kita?”
“Iya bu.”
“Baik, Madya, selamat datang di Jurusan kita. Kita belajar sama-sama ya?” tanyaku hangat kepada anak yang terlihat lebih pendek dari anak seusianya. Dia tersenyum lebar, dengan pakaian seragam yang menguning di beberapa sisi, rambut pendek dan acak-acakan. Dia berada di bangku paling belakang,, tanpa teman sama sekali di sampingnya.
“Ibu mulai, ehm dengan Madya. Boleh nak, bacakan ibu tulisan paling atas di papan tulis itu?” Aku termasuk pribadi yang perfeksionis. Memastikan aku tahu keadaanku dengan detail dan menyeluruh. Menjadi guru di sekolah yang berada di atas sungai memang tantangan tersendiri. Pada awalnya aku tak bisa membayangkan, semula aku yang selama ini tinggal di Kota Pendidikan dengan banyak aktivitas sehingga pelajarnya pulang setelah Ashar atau sebelum Maghrib, kini mengajar di salah satu Desa di Daerah Indonesia Tengah. Dengan empat belas peserta didik dalam satu kelas. Jangan tanyakan lagi keadaan lainnya, akan lebih menyakitkan.
“P..pa..pada saat..pe..pen..pencam..puran.. baha..bahann…” Dia terbata-bata mengeja huruf-huruf itu. Tangannya saling menyatu, aku merasa dia sedikit cemas.
“Bu, jangan dia yang baca. Dia tidak bisa baca,” sergah anak-anak lain.
“Ayo anak-anak Ibu yang gagah dan inges1 tidak boleh begitu sama Madya, siapa tahu dia tidak bisa melihat jelas. Coba Madya, pindahkan meja dan kursi sampai paling depan.” Kataku cukup tegas kepada peserta didik di depanku. Mereka sudah SMA dan sudah cukup dewasa untuk menyikapi kekurang-beruntungan rekan-rekannya. Mereka terdiam kecuali satu anak, Amat, dengan gesture yang sedemikian rupa hendak memperolok Madya. Dengan satu tatapanku, dia berhenti melakukan gerakan mencibir ke arah Madya.
Tergopoh-gopoh Madya memindahkan meja dan bangkunya. Pada barisan depan memberikan penolakan luar biasa kepada Madya dengan gerakan tangan atau menggeser bangku masing-masing menjauh. Aku instruksikan Madya untuk mengambil posisi di sampingku.
Kubisikan pelan di dekat Madya,”Bisa terbaca, Nak?”
“Saya tidak bisa baca, Bu,” katanya sambil tersenyum.
Sekonyong-konyong, meledak tawa seluruh insan dalam kelas itu kecuali diriku. “Bu, dia nggak bisa ngapa-ngapain, bau lagi!” Amat tiba-tiba bersemangat. Ya, ini kesempatan membalaskan kata-kataku. Tanpa banyak bicara, kuletakkan telunjuk di depan mulutku dengan sedikit mendesis.
Pelajaran dilanjutkan, angin sepoi kaki pegunungan ini selalu sejuk. Sekolah ini dianugerahi pemandangan indah dan udara yang bersih. Tunggu, apa ini? Kali ini, angin itu masuk ke ruang kelas, melewati badan Madya dan kemudian menyebar ke seluruh kelas, bersamaan dengan aroma tubuh yang sangat menusuk indera penciuman. Keterkejutanku menyeruak bersama teriakan anak-anak, saling bersahutan dan menutup hidung mereka masing-masing. Madya masih tersenyum.
****
Ruang guru dalam kondisi sepi. Whatsapp group sekolah muncul notifikasi. Kemudian muncul notifikasi yang lain dalam hitungan detik. Aku yang selama ini tidak terlalu peduli dengan gawaiku, memaksakan sedikit kehendak untuk membukanya. Mungkin berita yang cukup penting-pikirku. Layar kubuka dengan satu sentuhan dan langsung mencari notifikasi pada bagian atas gawai. Ini cara tercepat untuk membuka aplikasi, kan?
Percakapan berlangsung begitu cepat, saat aku sadar, aku sudah pada bagian akhir percakapan. Lima detik setelah percakapan terakhir, kuscroll chat perlahan ke atas, hingga terlihat olehku sebuah foto. Foto yang seharusnya tidak menarik itu, saat ini cukup menarik. Pak Budi yang mengunggahnya ke grup itu. Balasan sudah panjang dengan emotikon tawa menghiasi penjuru grup.
Kutelisik foto, hanya berupa daftar nama kehadiran ujian kan? Apa hebohnya? Kupicingkan sekali lagi retina mataku tepat pada satu tujuan. Kini giliran aku yang tertawa, entah aku merasakan bahagia yang mendadak. Seperti badan menemukan sandaran sementara beban yang selama ini kupegang. Foto sederhana, selembar daftar nama kehadiran ujian. Madya menuliskan nama dan tanda tangannya dengan beberapa emotikon love.
1gagah dan inges (tampan dan cantik-pen)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Keren. Salam kenal.
Salam juga bun cantik
MantapSalkenDari riau
salam juga bu, dari NTB
Hafal neh aku settingnya. Mantap cekgu
hihihi bu mur, iyees