Tina S. Atmasasmita

Lahir di Bogor, tahun 1973. Telah dikaruniai 2 (dua) orang putri. Mulai mengajar pada tahun 1996 di Kota Bogor, Alhamdulillah pada tahun 2005 Allah memberi kese...

Selengkapnya
Navigasi Web
Episode Biru TantanganGurusiana Hari ke-27
Novel Episode Biru

Episode Biru TantanganGurusiana Hari ke-27

 

Belajar nulis novel, semoga bisa ….

 

Nama dan tokoh hanya rekaan.

Jika ada kesamaan, itu hanya unsur ketidaksengajaan.

 

 

 

 

Episode Biru

Chapter 1 #Part 1 

 

Aku seperti kerbau dicocok hidung saat Aldi menarik tanganku dengan sedikit memaksa untuk duduk di sampingnya. Matanya sedari awal bertemu tak lepas memandangi anakku Salma dan sesekali mencuri pandang padaku. Hari itu kami tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan mewah di kota kembang ini. “Apa kabar Bu?” sapaan awalnya tadi mengagetkanku yang tengah asik memilih mainan bersama Salma. Aku bagai disambar petir di siang hari dalam gedung mewah ber-AC ini. Bagaimana tidak, seseorang dari masa lalu yang susah payah aku lupakan tiba-tiba muncul di hadapanku. Sekuat tenaga aku berusaha tenang walaupun jantungku sebentar lagi akan terlepas dari tempatnya. Aku berusaha sealami mungkin dalam bersikap di hadapannya. Hampir 30 menit Aldi terus mengikuti kami tanpa banyak bicara. Sampai akhirnya Aldi mengajakku berbincang di tempat ini, di sebuah restoran yang cukup mewah dengan sofa yang nyaman dan alunan musik yang menenangkan.

 

“Mer…Salma itu anakku kan?” lelaki tampan yang ada di sampingku ini membuka obrolan dengan pertanyaan yang lebih mirip busur panah yang menancap di jantung. Walaupun pertanyaan itu seperti berbisik, tapi sungguh tidak ingin kudengar. Tangannya menggenggam erat jemari tangan kananku. Genggaman ini terlalu kuat dan kasar hingga sangat menyakitkan, rasanya hampir remuk jemari ini. Sorot matanya tajam, menusuk sampai ke dasar hati, sorot mata yang dulu selalu ingin kulihat, tapi kini terasa menakutkan.

 

Aku balas menatap, wajahnya masih seperti dulu, seperti saat terakhir kami bertemu, empat tahun yang lalu, lelaki yang sangat kukagumi…. kukagumi dalam banyak hal, kecerdasannya, selera humornya, kerja kerasnya, juga ketampanannya.

 

          “Bu Mer, aku tunggu jawabanmu, Salma anakku kan?” pertanyaan ulang itu lebih mirip teriakkan yang sengaja ditahan di ujung bibir, teriakkan itu sangat terasa pada genggaman jemarinya yang makin menguat, aku berusaha menarik tanganku tapi sepertinya terkunci di dalam genggamannya. Ada kemarahan dan harapan yang aku rasakan dalam genggaman itu.

 

“Lepasin…sakit” pintaku, sambil pandanganku kualihkan pada Salma yang sedang asik bermain playdough di samping kiriku. Tangan kiriku mengusap halus rambut gadis mungilku, aku tidak ingin Salma mendengar percakapan ini. “oke, tapi please jawab pertanyaanku Meriam…” genggaman di jemariku mulai mengendur dan terlepas, aku kembali mengalihkan tatapanku pada lelaki di dekatku ini. Kulihat ada sedikit senyum di ujung bibirnya, seperti senyum permohonan agar aku segera menjawab pernyataannya. Kutempelkan telunjuk kananku pada bibirku sebagai kode agar laki-laki ini tidak bicara lagi.

 

“Please….answer me” setengah berbisik, Aldi memohon. 

 

“Salma adalah…. Anakku” jawabku singkat tapi jelas

 

“shit, jelas saja dia anakmu, maksudku… aku ayah biologisnya kan?”

 

“dari mana kamu bisa punya kesimpulan gila itu!” suaraku setengah membentak, tapi kutahan.

 

“dia mirip sekali denganku….coba kamu perhatikan Mer, mata dan hidungnya sama persis denganku, kulitnya, rambutnya, itu punyaku semua…. apakah… ini buah kekhilafan yang pernah kita lakukan dulu?” kalimat terakhir dia ucapkan dengan berbisik.  “Salma bukan hasil dari kekhilafan!” aku balas berbisik sambil mengalihkan pandangan ke luar kaca ruangan resto exclusive ini. Samar, tidak terlihat apapun, hanya bayangan pengunjung mall yang lalu lalang di luar. Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan resto, untunglah jarak antar sofa pengunjung resto ini ditata saling berjauhan, sehingga suara obrolan pengunjung akan terjaga privasinya, apalagi terlihat pengunjung lain masing-masing asik menikmati hidangan sambil diiringi alunan lembut saxophone Kenny G dari sound system resto, semakin menyamarkan volume percakapan tiap pengunjung.

 

“Ma….aku mau bikin kelinci….aku ga bisa…” suara bidadari kecilku membuyarkan kegalauanku. Lelaki tampan di kananku seperti setengah melompat dengan semangat menghampiri Salma “sama oom ya buat kelincinya, sini oom ajarin” wajahnya yang tadi tegang saat menginterogasiku seketika drastis menjadi manis.  “om Aldi buat kelincinya yang besar ya…aku kan playdouhnya banyak…” Salma gadis kecilku yang cerdas dan ceria, baru kenal belum 1 jam tapi dia menyebut nama orang seolah sudah kenal lama.  “iya sayang” Aldi mengambil poisisi di kiri  Salma, sambil mencubit halus pipi anakku dan bergumam “kamu cantik sekali sayang”.

 

 

 

Bersambung….

 

Sumber gambar : https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Hmmm...

26 Feb
Balas

Mohon koreksi dan masukannya Bu... Trima kasih sdh mau berkunjung ke blog sy

26 Feb



search

New Post