Surat Untuk Ayah
Perempuan itu memaki, berteriak keras sehingga membangunkan anak-anak lain yang tertidur. Setelah menutup pintu kamar tamu dan memastikan menguncinya dengan rapat semua amukan kemarahan yang tak dapat dia tunjukkan kepada suaminya maka mereka lah sasarannya. Rupanya yang hitam karena menahan luapan amarah disertai kata-kata kasar yang bertubi-tubi membuat anak-anak yang tak tahu apa-apa kaget dan lansung bangun memeluk kakak tertua yang tampak meredakan amarah sang ibu.
Namun adalah sia-sia belaka melawan orang dewasa yang kesetanan itu, dia menarik tangan adik kecil dan mengangkatnya tinggi-tinggi, kanak-kanak itu berteriak memohon ampun sambil salah satu tangannya menggapai memohon bantuan kakak-kakaknya. Cempaka yang baru saja bermimpi indah dan sontak terbangun kaget sehingga kepalanya membentur kepala tempat tidur tampak masing linglung sambil memegang kepalanya yang sedikit berdarah.
Asih menangkap tangan ibunya, mengingatkan perempuan yang kesetananitu untuk bertobat. Kanak-kanan terus menangis, akan tetapi sang kakak tidak kehilangan akal. Asih mengamankan kembaran ke hadapan Cempaka, menglap lukanya dengan pita baju barunya lalu mengecup seraya berdoa. Kebiasaan yang selalu ayah lakukan untuk mereka jika mereka terluka. Cempaka cepat sadar dan memeluk adiknya mengamankan adik kembarannya yang menagis ketakutan.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Makin seru.
terima kasih bun