Surat Untuk Ayah
Asih kaget setelah sampai di sekolah belum menemukan Cempaka adiknya, setiap sudut sudah dia telusuri namun keberadaan sang adik masih tak terdeteksi. Asih mulai khawatir dan memutuskan menemukannya sebelum dirinya ketinggalan lebih banyak jam matematika. Barangkali gurunya akan memerahinya namun Asih tak ambil pusing. Gadis itu mengantarkan bekal untuk si kembar dulu karena tadi mereka berangkat terburu-buru dan meninggalkan kotak bekalnya diatas meja.
Asih lega begitu tahu kedua adiknya sudah duduk dengan rapi menunggu bekal mereka, wajah keduanya berseri-seri begitu tahu kakaknya telah datang meskipun hanya sekedar melihat sebentar di kelas. Asih bertanya tentang perasaan mereka pagi itu dan apa yang akan dilakukan nanti hanya mampu menitikkan air mata. Gadis cilik itu memilih berlalu lebih cepat karena tak ingin larut dalam rasa sedihnya yang tak akan ada habisnya.
Asih kembali ke kelas karena tak ingin mendapat hukuman karena tidak disiplin, hatinya terus bertanya-tanya apa yang terjadi pada Cempaka. Akibatnya gadis cilik itu kehilangan konsentrasinya sehingga banyak melakukan kesalan. Bersyukur hari ini hanya latihan soal-soal dan guru kelasnya sedang ada kegiatan di kantor. Pukul setengan sepuluh saat tubuh mungil adiknya melewati pagar bersama Pak Satpam hati Asih sedikit lega.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap Uni. Lanjuut. Sukses selalu
Aamiin...tarimo kasih diak
Mantap ceritanya bund
Terima kasih pak
Keren.
terima kasih bu