Kota kecil, kumerinduimu!
Disela kesibukan sebagai guru yang tak pernah habisnya, saya tercenung memikirkan beberapa tahun silam. Ketika itu tahun 2010, saya masih fresh graduate, dan diterima di salah satu sekolah swasta di kota dingin, Madrasah Ibtidaiyyah Yayasan Rahmah El-Yunusiyyah (biasa dikenal dengan SD/MI-REY a.k.a. SD Diniyyah Putri sebagai guru Bahasa Inggris tingkat SD.
Layaknya seorang fresh graduate, semua ilmu yang diterima di bangku kuliah diterapkan secara nyata, bahkan mendekati idealis. Saya dapati diri ini berjibaku dengan materi English for Young Learner yang tidak pernah saya minati sedari kuliah dulu.
Hari-hari berlalu dengan mengajar anak SD berbahasa Inggris. Banyak hal baru yang membuat sangat sulit bagiku untuk menyesuaikan diri. Ya, ilmu tentang manajemen kelasku masih seujung kuku. Bagaimana saya mau memberikan materi pelajaran Bahasa Inggris, kalau anak kelas 1 SD itu masih berkerumun di meja salah seorang siswa, melihat peruncing pensil yang baru dibelikan orangtuanya yang baru pulang dinas luar kota. Atau ketika ada seorang siswa yang kelewat happy dengan”ibuk Miss”nya dan mencoba segala cara untuk menarik perhatianku.
Anyway, kalau mengingat masa mengajar anak SD itu rasanya memang kompleks sekali. Sampai-sampai setiap pulang mengajar saya hanya bisa terkapar di kasur dan perlu tidur siang agak sejenak. Angkat topi buat guru TK dan SD yang masih bisa menjaga kewarasan mereka sampai hari ini.
Yang selalu kurindukan ketika mengajar di Diniyyah Putri adalah gaya kepemimpinan ketua yayasan waktu itu, dimana beliau berpendapat, guru mengajar 60%, dan melakukan pengembangan diri 40% dari keseluruhan waktu dinasnya. Adalah ibuk Fauziah Fauzan, seorang ketua yayasan yang tidak hanya lip service saja. Beliau membuktikan ucapannya dengan mendatangkan pemateri yang mumpuni dibidangnya. Masalah kocek, jangan kau ragukan, kawan! Beliau bersedia merogoh kocek dalam-dalam demi mendatangkan seorang profesor dari Malaysia, seorang profesor, sekaligus konsultan pendidikan dari Jakarta, dan masih banyak lagi ahli pendidikan, bahkan ahli parenting yang beliau datangkan ke kota kecil, Padangpanjang ini.
Pernah sekali, kami disuruh mulai belajar bahasa Inggris, dan itu diwajibkan untuk semua pegawai yayasan, tak terkecuali security, ibuk kantin, ibuk asrama, sampai penjual roti yang mangkal disana. Ucapannya tidak hanya sekedar perintah, tapi juga beliau berikan solusi. Karena tidak semuanya bisa datang ke Pare, kampung Inggris, maka beliau datangkan Pare, Kampung Inggris itu ke Padangpanjang. Mentor seabreg itu diinapkan diasrama Diniyyah Putri dan diberi fasilitas lengkap. Jadilah kami, termasuk guru dan semua yang ada disana dibagi menjadi beberapa grup kecil dan berlatih bahasa Inggris dengan mentor disaat jam mengajar kami kosong atau sudah selesai.
Pun ketika salah satu muridnya menerbitkan buku, maka dibuatkan acara spesial bagi anak itu. Diundanglah semua guru yayasan dan orang tua si anak ke Diniyyah Putri, dan dibuat seperti acara talkshow, dimana tamunya adalah Ahmad Fuadi, penulis buku Negeri Lima Menara. Sungguh mengharukan bagaimana mereka menghargai setiap usaha anak didik mereka. Sangat jauh dari kesan pencitraan dan lip service saja.
Yang namanya pemimpin, tentu tidak semua menyukai kebijakannya. Tapi satu hal yang pasti, saya menyukai gagasan dan inovasi ibu Zizi yang berani bermimpi. Saat hari ini banyak kebijakan yang tidak memberi ruang bagi guru untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia, pada kurun waktu hampir satu dekade yang lalu, pada sebuah kota kecil bernama Padangpanjang, saya sudah merasakan bagaimana rasanya harkat dan derjat saya sebagai guru diangkat, bagaimana pemimpin itu memuliakan dan mencarikan solusi jitu, bagaimana kata-katanya selalu memotifasi diri saya, bagaimana mulianya profesi kami dimata Allah, betapa ganjarannya adalah syurga. Ah, kalau kuingat lagi kenangan dimasa itu, takkan pernah habis kata-kata untuk menceritakan.
Kadang sesuatu yang kita tidak sukai dahulu, ketika kita tinggalkan demi sesuatu yang baru dan terlihat lebih menjanjikan, barulah terlihat bahwa yang kita cari dan dapatkan selama ini tidaklah lebih baik daripada sesuatu itu yang telah lama kita tinggalkan itu.
Sitiung, April 2019.


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Subhanallah, cerita manis yang mampu bangkitkan semangat membara. Salut untuk ibu yayasan. Sukses selalu dan barakallahu fiik
Betul sekali buk..sesekali mampirlah di Padangpanjang buk.. aamiin..