FINGER PRINT
Lima belas menit sudah lewat dari jadwal biasanya berangkat ke sekolah. Itu artinya aku akan terlambat lima belas menit dari waktu seharusnya aku menekankan jari jempolku pada mesin pemantau hadir. Ini juga akan terlihat pada rekapitulasi presensi di akhir bulan nanti, aka nada cetak berwarna merah sebagai tanda aku pernah terlambat. Dan yang paling tidak aku suka adalah akan ada peringatan dari pimpinan tempatku bekerja serta dampak terbesarnya tunjangan ku dipotong.
Alat itu tidak pernah mau tau mengapa aku terlambat pagi ini. Pimpinan mencoba memahami keterlambatanku tetapi tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa soal pemotongan tunjangan.
Sebenarnya apa yang harus ku kejar pagi ini ke sekolah ? tidak ada pelayanan siswa secara langsung, karena Ujian Akhir Tahun (UAT) sudah selesai. Akupun sudah menyerahkan nilai mata pelajaranku pada wali kelas. Tidak ada penugasan sebagai panitia PPDB atau kepanitiaan lainnya sehingga tidak perlu ada di lingkungan sekolah sepagi ini. Sementara ada Ibu yang harus aku layani dulu pagi ini, karena kondisi kesehatannya agak menurun.
Finger print tetaplah sebuah alat yang diam membisu. Bekerja sesuai fungsinya tanpa menggunakan perasaan dan pemakluman.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Oh ... mesin pemantau hadirAdakah di sana yang memiliki pengalaman yang sama?