GURU YANG EGOIS
Pernahkah kit menjumpai guru yang egois? Tentunya semua orang tau bagaimana sikap egois itu. Sikap yang senantiasa mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Bagaimana kondisi dan keadaan orang lain. Orang egois biasanya tidak menunjukkan sikap peduli terhadap urusan orang lain, kesulitan yang dialami oleh orang lain. Lalu bagaimana jika sikap seperti itu ada pada diri guru.
Ada seorang guru yang datang ke kelas dengan tujuan utama mengajar, menjelaskan materi pelajaran setelah itu anak diberi tugas untuk mengerjakan soal beberapa waktu lalu setiap sekolah pasti memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS itulah yang biasa digunakan guru untuk memberi umpan balik atas apa yang dia pelajari. Hasil pekerjaan siswa hanya ditumpuk di mejatanpa dikoreksi sedikitpun. Jika ada siswa yang bertanya beberapa materi yang belum difahami guru menyuruh membaca buku atau bahkan mencarinya di internet. Lebih lucu lagi pernah dijumpai seorang guru yang berkomentas “kenapa harus susah-susah menjelaskan, bukankan di kurikulum 2013 pembelajaran difokuskan pada peserta didik. Peserta didik harus kreatif mencari sendiri apa yang menjadi topik pembelajaran”.
Lantas apa yang dilakukan guru tersebut? Ternyata dia datang ke kelas hanya berkata “anak-anak kerjakan LKS halaman sekian sampai skian, buka buku halaman sekian sampai sekian”. Setelah itu guru keluar mengerjakan hal-hal yang bukan menjadi tugas utamanya. Guru seperti itu punya prinsip pokoknya kelas tertib. Lalu bagaimana pendapat peserta didik? Tentu mereka mengeluhkan hal tersebut. Menurut mereka jawaban yang selalu sama jika ada yang bertanya disuruh mencari sendiri di internet atau sumber lain.
Guru dengan tipe seperti itu tidak pernah berfikir alangkah berartinya dia bagi peserta didik. Kehadirannya selalu dinatikan di kelas untuk melakukan proses pembelajaran. Pembelajaran yang berorintasi pada peserta didik memang dituntut sikap aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran. Namun guru adalah fasilitator utama di dalam kelas. Kehadirannya tidak bisa digantikan dengan LKS, bahan ajar, media internet dan segala media lainnya. Kondisi siswa di dalam kelas sangat heterogen. Perlu kejelian dan kreatifitas guru untuk membaca hal tersebut. Jika guru bertindak seperti uraian di atas alangkah egoisnya dia. Tidak memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh pesrta didik.
Pernah juga dijumpai seorang guru yang datang ke kelas hanya untuk bercerita hal-hal yang tidak berguna, tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran. Sang guru bercerita tentang keluarga, teman dekat atau kejadian-kejadian yang pernah dialami. Selama di kelas guru hanya menyinggung sedikit sekali pelajaran itupun tidak pernah sampai tuntas. Hal tersebut terjadi bukan hanya di satu kelas saja tetapi di seluruh kelas. Anehnya pihak sekolah melakukan pembiaran terhadap hal tersebut, Sampai sekarang guru tersebut masih bertugas di sekolah yang sama, dan menurut cerita kebiasaannya tetap sama.
Entah apa yang ada di benak guru tersebut. Jika dikatakan tidak menguasai materi dia juga seorang sarjana dan lulusan perguruan tinggi. Pernah beberapa siswa berfikir mungkin guru itupunya gangguan jiwa semacam depresi dan sejenisnya. Namun perilakunya tidak menunjukkan kalau jiwanya terganggu. Sampai sejauh ini belum diketahui tindakan sekolah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Guru itu pun terkenal bukan karena prestasinya, melainkan karena kebiasaan anehnya. Guru seperti itu datang ke sekolah hanya untuk menggugurkan kewajiban. Bagi dia kewajibannya mengajar sebagai pekerjaan, menerima gaji atas pekerjaan itu selebihnya bukan urusan dia. Konsep mengajar yang dimaknai secara sempit yaitu hadir di kelas selesailah tugasnya. Sungguh kebiasaan yang sangat egois tidak memperhatikan kebutuhan siswa bahkan tidak memperhatikan lingkungan sekitar.
Guru tidak boleh bersikap egois karena tugas guru sangat kompleks. Guru harus mengajar, mendidik dengan aturan-aturan untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam tugas guru ada unsur peserta didik yang harus menjadi perhatian utama. Guru harus mengenal dan memahami peserta didik. Apa yang dialami peserta didik, apa yang diinginkan dan apa yang dirasakan. Guru harus mengenal kepribadian dan gaya belajar mereka yang menjadi modal utama bagi guru untuk menentukan metode, strategi dan media pembelajaran sesuai dengan gaya belajar anak-anak.
Menurut Adi untuk mengenal sesorang kita bisa mengenali kepribadiannya. Ada orang yang mudah bersahabat, pendiam, keras, pemarah, pendendam, penyabar, santai, perfeksionis (menuntut kesempurnaan), penggembira, optimis, pesimis, dan masih banyak hal lain yang menggambarkan kepribadian seseorang. Terdapat beberapa teori kepribadian, yaitu 1) kepribadian koleris, 2) kepribadian sanguin, 3) kepribadian phlegmatis, dan 4) kepribadian melankolis. (2005: 47)
Kepribadian koleris memiliki ciri tipe kepribadian ini ditandai dengan orang yang keras, tegas dan sangat menuntut. Selain memiliki energi yang besar untuk melakukan hal-hal yang sulit, mereka juga memiliki dorongan dan keyakinan yang kuat akan kemampuan diri mereka. Dalam setiap kegiatan orang koleris selalu selalu tampil di depan dan menjadi pemimpin kelompok. Itu merupakan dorongan alamiah bagi seorang koleris.
Seorang guru pasti menemukan anak dengan tipe kepribadian seperti ini di sekolah. Namun tidak semua anak memiliki kepribadian seperti ini. Dalam satu kelas akan nampak beberapa anak yang memiliki kepribadian seperti ini. Biasanya mereka aktif disuruh memimpin teman-temannya, misalnya dalam kegiatan diskusi, lomba-lomba, memimpin kelompok, memimpin kelas, memimpin upacara bendera, bahkan sebagai pemimpin organisasi sekolah.
Anak dengan tipe koleris ini menyukai aneka tantangan, guru bisa mendorong untuk selalu mengikuti aneka kegiatan yang ada di sekolah. Misalnya mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Mengikutkan dalam lomba-lomba yang diadakan di dalam maupun di luar sekolah. Siswa seperti itu biasanya memiliki target yang jelas. Tugas guru terhadap anak seperti ini cukup mengarahkan karena mereka cenderung lebih mandiri. Guru harus bisa membimbing supaya tidak sombong, tidak meremehkan orang lain dan karena bertindak sebagai pemimpin harus lebih diarahkan supaya bersikap bijaksana.
Seseorang dengan kepribadian sanguin dikenal ramah dan sangat suka berbicara. Mereka bisa berbicara kepada siapa saja dengan topik yang berbeda. Mereka penuh inspirasi dan sangat aktif. Dengan kemampuan bicara yang prima orang sanguin dapat mempengaruhi orang lain untuk percaya pada apa yang mereka katakan. Mereka bisa menjadi pembicara yang hebat dan sekaligus motivator yang menyenangkan. Skap mereka cenderung optimis.
Di sekolah anak seperti ini banyak dijumpai. Namun jika salah menafsirkan seorang guru akan menganggap kebiasaan mereka yang selalu suka berbicara itu sebagai hal yang negatif. Anak-anak seperti ini mudah sekali bergaul dan selalu memiliki banyak teman. Anak-anak ini juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Guru harus bisa menampakkan penghargaan pada anak seperti ini karena penghargaan menjadi sangat penting bagi dirinya. Yang harus diperhatikan oleh guru terhadap anak seperti ini adalah cenderung lemah dengan pekerjaan rutin dan monoton. Berarti guru harus lebih kreatif dalam melakukan proses pembelajaran agar anak-anak dengan kepribadian sanguin ini tidak merasakan kebosanan dalam belajar.
Satu lagi kelemahan anak sanguin biasanya berperilaku kurang disiplin dan tidak menepati janji. Hal itu berpengaruh juga pada segi penanaman kedisiplinannya di sekolah. Seorang guru harus bertindak ekstra untuk menerapkan perilaku tertib dan disiplin. Jika guru salah menafsirkan perilaku anak seperti ini sering disebut anak yang hanya banyak berbicara tetapi susah diatur. Menuntut kepandaian seorang guru untuk memberi berbagai perilaku dan tindakan supaya menimbulkan kesadaran mereka.
Lain halnya dengan kepribadian koleris dan sanguin, tipe kepribadian selanjutnya adalah kepribadian plegmatis. Tipe ini cenderung merupakan kebalikan dari koleris, orang-orang ini bersikapsangat manis, tidak mendesak, dan tidak suka memerintah. Mereka adalah tipe-tipe kawan yang menyenangkan. Mereka juga bersifat pemalu tidak suka menonjolkan diri. Orang-orang ini tidak suka menghadapi konflik. Kelebihan utamanya sehingga disukaioleh banyak teman adalah karena suka menyimpan rahasia.
Di sekolah anak-anak dengan tipe plegmatis ini mungkin yang paling disukai oleh guru. Karena tidak terlalu banyak bicara cenderung pendiam dan penurut terhadap perintah. Tetapi anak-anak ini tidak begitumenyukai tantangan sehingga cenderung pasif. Misalnya dalam lomba dia tidak mau maju sendiri tetapi lebih suka menjadi pendukung bagi teman-temannya. Siswa seperti ini punya kelemahan hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu tetentu, mereka tidak bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan karena suka menyerah.
Terhadap anak dengan kepribadian seperti ini dengan kelemahannya guru harus bisa menyikapi kelemahannya. Guru juga bisa melibatkan teman-temannya untuk senantiasa memberi dukungan dalam berbagai tugas. Keterlibatan teman-teman dalam satu kelas akan sangat membantu mengatasi anak-anak dengan tipe plegmatis.
Tipe kepribadian yang terakhir adalah tipe kepribadian melankolis. Berbeda dengan ketiga kepribadian yang lainnya, orang memiliki kepribadian melankolis cenderung serius dan tertutup. Namun cerdas dan dan sangat kritis dalam berfikir. Mereka dapat mengerjakan suatu hal jauh lebih tekun dibanding orang dengan pribadi lainnya. Mereka mempunyai pikiran yang kritis dan mempunyai kemampuan menganalisis keadaaan juga sangat berhati-hati, telitidan suka curiga sehingga jarang sekali berbuat kesalahan.
Seorang anak dengan pribadi ini cenderung menyukai data, fakta, angka-angka dan grafik. Peserta didik jenis ini biasa dijuluki sebagai anak yang rajin suka dengan angka-angka. Mereka juga tipe anak yang cenderung patuh terhadap aturan-aturan. Kelemahannya mereka tidak suka menjadi pemimpin dan hanya suka menjadi pendukung saja. Mereka sangat konsisten dan hampir tidak pernah salah karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dalam berfikir dan bertindak. Di kelas anak-anak dengan tipe seperti ini bisa dijadikan tutorial sebaya bagi teman-temannya. Jadi guru harus bisa menempatkan anak ini supaya bisa saling menutupi kekurangan teman-temannya dengan tipe kepribadian yang berbeda sehingga tercipta keterpaduan di dalam kelas.
Dari berbagai tipe kepribadian tadi hendaknya dijadikan pertimbangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Yang harus diperhatikan guru adalah kepentingan peserta didik. Sekali lagi guru tidak boleh berlaku egois mengacuhkan posisi peserta didik dengan karakteristik yang berbeda. Uraian tentang karakteristik tidak terbatas hanya pada perbedaan tipe kepribadian saja. Karakteritik peserta didik adalah keberagaman yang dimiliki oleh peserta didik. Guru harus memperhatikan karakteristik masing-masing peserta didik. Menurut Asrori perbedaan perkembangan karakteristik individual itu nampak dalam aspek-aspek yang ada dalam setiap diri individu sebagai berikut : (2009: 37)
1. Perbedaan Aspek Individual Pada Aspek Fisik
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang cepat lelah dalam pekerjaan fisik, tetapi ada yang tahan lama
b. Ada yang dapat bekerja secara fisik dengan cepat, tetapi ada yang bekerjanya sangat lambat
c. Ada yang tahan lapar, tetapi ada yang tidak tahan lapar
2. Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek Intelek
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek intelek ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang cerdas tetapi ada pula anak yang kurang cerdas atau bahkan sangat kurang cerdas
b. Ada anak yang dapat dengan segera memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan intelektual, tetapi ada yang lambat atau bahkan tidak mampu mengatasi suatu masalah yang mudah sekalipun
c. Ada yang sanggup berfikir abstrak dan kreatif, tetapi ada yang hanya sanggup berfikir jika disodorkan wujud bendanya atau dengan bantuan benda tiruannya.
3. Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek Emosi
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek emosi ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang muda sekali marah, tetapi ada pula yang penyabar
b. Ada anak yang perasa, tetapi ada juga yang tidak mau peduli
c. Ada anak yang pemalu atau penakut, tetapi ada pula yang pemberani
4. Perbedaan karakteristik Individual pada Aspek Sosial
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek sosial ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang mudah bergaul dengan teman, tetapi ada pula yang sulit bergaul
b. Ada anak yang mudah toleransi dengan teman, tetapi ada pula yang egois
c. Ada anak yang mudah memahami perasaan temannya, tetapi ada pula yang maunya menang sendiri
d. Ada anak yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, tetapi ada pula yang tak peduli dengan lingkungan sosialnya
e. Ada anak yang selalu memikirkan kepentingan orang lain, tetapi ada pula yang hanya mementingkan kepentingannyasendiri
5. Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek Bahasa
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang dapat berbicara dengan lancar, tetapi ada juga yang mudah gugup
b. Ada anak yang dapat berbicara secara ringkas dan jelas, tetapi ada pula yang berbelit-belit dan tidak jelas
c. Ada anak yang dapat berbicara dengan intonasi suara menarik, tetapi ada juga yang monoton
6. Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek Bakat
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang sejak kecil dengan mudah belajar memainkan alat-alat musik, tetapi ada juga yang sampai hampir dewasa belum juga dapat memainkan satu jenis pun alat musik
b. Ada anak yang sejak kecil begitu mudah dan kreatif melukis segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, tetapi ada juga yang sangat sulit kalau harus melukis
c. Ada anak yang demikian cepatnya menghafal dan menyanyikan lagu dengan baik, tetapi ada pula yang sudah latihan berkali-kali masih saja sumbang
7. Perbedaan Karakteristik Individual pada Aspek Nilai, Moral, dan Sikap
Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Ada anak yang bersikap taat pada norma, tetapi ada juga yang begitu mudah dan enak melanggar norma
b. Ada anak yang perilakunya bermoral tinggi, tetapi ada anak yang perilakunya tak bermoral dan senonoh
c. Ada anak yang penuh sopan santun, tetapi ada yang perilaku maupun tutur bahasanya seenaknya sendiri
Dari uraian perbedaan karakteristik di atas menunjukkan bahwa setiap anak mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Banyak hal yang mempengaruhi perbedaan karakteristik anak. Namun yang paling utama dengan mengetahui perbedaan karakteristik tersebut dapat digunuakan guru untuk melakukan proses pembelajaran yang sesuai. Perbedaan karakteristik maupun kepribadian anak dapat berpengaruh pada gaya belajar mereka. Dalam hal ini guru juga memiliki kewajiban untuk mengenali gaya belajar anak yang bervariasi.
Umumnya semua guru selalu menginginkan anak didiknya dapat belajar dengan giat agar bisa mencapai hasil yang maksimal. Jika hasil yang dicapai oleh anak tidak sesuai dengan harapan biasanya guru akan menyalahkan anak dan menganggap bahwa mereka tidak serius dan sungguh-sungguh dalam belajar. Tindakan sekolah untuk meningkatkan nilai yang maksimal biasanya diadakan bimbingan belajar Bimbingan belajar atau pelajaran tambahan umumnya akan menyebabkan anak menjadi bosan. Terbukti anak akan merasa senang sekali jika ada pengumuman bahwa hari ini tidak ada bimbingan belajar. Itu suatu bukti luapan kebahagiaan anak dari rutinitas yang membosankan. Kenapa membosankan? Karena saat bimbingan belajar cara yang digunakan tetap itu-itu saja. Anak diajak untuk mengulang-ulang cara belajar yang sama.
Menyikapi hal tersebut Adi mengatakan bahwa faktor dominan yang menentukan keberhasilan proses belajar adalah dengan mengenal dan memahami bahwa setiap individu adalah unik dengan gaya belajar yang berbeda satu dengan lainnya. Gaya belajar yang ideal dapat digunakan adalah 1) Visual (penglihatan), 2) auditori (pendengaran), 3) tactile /kinestetik (perabaan / gerakan), 4) olfactori (penciuman), dan 5) gustatori (pengecapan). (2005: 87).
Untuk membuat proses pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan bagi guru adalah dengan mengetahui gaya belajar peserta didik. Selanjutnya adalah menyesuaikan gaya belajar tersebut dengan materi yang akan disampaikan. Kelima gaya belajar tersebut dapat menjadi gaya belajar yang ideal jika semuanya dapat diterapkan. Namun pada kenyataannya hal itu tentu sulit untuk dilaksanakan. Namun sebaiknya bagi seorang guru bisa menciptakan kombinasi atau perpaduan penggunaan beberapa gaya belajar tersebut.
Dengan mengetahui tipe kepribadian anak didik, macam-macam karakteristik dan gaya belajar yang diminati seorang guru bisa membuktikan kepeduliannya terhadap peserta didik. Artinya seorang guru tidak berlaku egois terhadap mereka. Kejelian guru untuk memahami hal tersebut menjadi modal dalam memberikan perlakuan pada peserta didik di sekolah/di kelas. Selanjutnya guru harus menggunakan hasil temuannya sebagai bahan pertimbangan pengelolaan pembelajaran di kelas. Jadi tidak ada alasan bagi guru untuk bersikap egois. Karena peserta didik sangat membutuhkan perhatian lebih dari seorang guru.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar