Kritikan (Tantangan Menulis Hari ke 22)
Kritikan ibarat bogem mentah mendarat di wajah. Ibarat makian yang terus terngiang di telinga. Ibarat belati menghujami jantung. Kritikan seperti pembunuhan karakter seseorang. Cukup sampai di sini dan anda terlupakan.
Sakit, sudah jelas. Bukan kritikan namanya jika tidak melukaimu. Semua orang pernah mengalaminya, bahkan junjungan kita Nabi Muhammad SAW penuh kritikan saat memulai dakwahnya. Para sahabat Rasulullah pun dihinakan karena Islam, tetapi mereka bertahan karena keyakinan kuat yang ada di hati.
Saat menemui kritikan balaslah dengan senyuman, setidaknya kita belajar menghargai orang lain. Cukup ambil manisnya dan buang jauh-jauh pahitnya. Dari kritikan itu kita bisa memilah-milah, mana yang perlu diambil dan di buang begitu saja.
Terimalah itu sebagai motivasi diri. Dan setelah diberikan kesempatan, maka perbaikilah. Banyak yang bilang ada bermacam cara manusia memberikan kritikan, ada yang dilemparkan ke wajah, disemat di kantong baju dalam diam, atau diberikan sambil berjabat tangan. Apapun itu yang paling penting bagaimana cara kita menerimanya. Dengan amarah atau kelapangan dada? Pilihanmu akan menentukan kualitas dirimu.
Yang sulit adalah saat kita tidak mau mengakui kesalahan. Ego mendominasi hati dan fikiran. Seribu kebaikan akan hilang, berubah menjadi keburukan yang nyata. Seperti itu lah hati manusia, kebanyakan hanya ingin menerima pujian.
Kehidupan dunia sesungguhnya menipu. Allah sebaik baik prasangka hambaNya. Saat seorang hamba hidup di dunia dengan serba kekurangan, apakah Allah membenci kita? Ataukah Allah memberi segala kebaikan kepada hambaNya, kemudian Allah menyayangi kita? Tidak ada yang tahu, semua tergantung prasangka kita kepadaNya.
Kritikan itu seperti halnya dengan kesempitan harta yang diberikan, bagaimana kita menerimanya? Dengan rasa syukur, bahwa Allah masih peduli, dengan ujian seorang hamba akan lebih khusyuk berdoa. Dan pujian seperti halnya kelapangan hidup yang diberikan, banyak harta, banyak anak, sehat, hidup bahagia, kadang seorang hamba akan lalai dalam menjalankan ibadahnya.
Semua tergantung dari cara kita. Kualitas diri diuji saat kritikan itu datang. Jangan menjadi pribadi yang sombong dengan tidak mau menerima kritikan dari orang lain.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Hadapi dengan senyuman semua kritikan itu.
Iyah bunda.