Lia
Lia Pagi ini udara terasa memenuhi dada. Sampai-sampai aku tidak merasakan sejuk, tapi sesak adanya. Perlahan tanganku meraba sekitar meja di dekatku untuk mencari kacamata kesayanganku. Yah, setidaknya agar dunia tidak terlalu buram untuk kulihat. Dengan mudahnya, tanganku mampu menggenggam dan memasang kacamata silinder ini. Kebiasaan yang sudah 14 tahun terjadi. Apakah terlalu lama ? Langkah kakiku menuju kaca di atas wastafel untuk menggosok gigi. Aku ingin olahraga hari ini. Sejenak meninggalkan kesibukan di kantor yang melelahkan dan berjanji untuk meliburkan sejenak pikiran dan melepaskan sedikit beban kehidupan. Pasta gigi dengan merk sama, kaca dengan bentuk yang sama, dan waktu yang hampir sama di setiap harinya. Apa kehidupanku terlalu biasa saja ? Aku keluar kamar dan memakai baju yang cocok untuk olahraga. Merah, selalu pakai warna merah. Sampai kadang orang mengira aku tidak pernah memiliki baju lain selain baju yang berwarna merah. Terserah, lagipula semua orang kan bebas memiliki pendapat yang kadang tidak diketahuinya. Memakai jam dan memakai sepatu olahraga. Kemudian mengambil topi hitam yang seminggu sekali aku pakai. Bukan, lebih tepatnya sebulan sekali aku pakai. Hari-hari yang sangat langka jika aku berolahraga. Entah kenapa hari ini aku terasa ingin keluar kamar saja. Tidak ingin terkapar di rumah dan memesan GoFood ketika makan. Aku ingin menghirup udara secukupnya, dan melihat pohon berwarna hijau. Bukan pohon plastik yang biasanya terpampang di pojok kantor itu. Aku kayuh perlahan. Tidak ada satu orang pun yang aku kenali. Aku melihat sekitar. Rasanya aku benar-benar sendiri sekarang. Ada yang bersama isterinya, bersama adiknya, bersama kawannya, atau bersama gebetannya (mungkin). Entahlah, aku pun tidak peduli juga. Ternyata hari sudah terlalu siang untuk berolahraga. Sampai matahari yang terasa sangat terik ini kurasa langsung menyinariku begitu saja. Atau karena setiap jam aku selalu berada di ruangan sehingga terasa begitu terik di pagi ini ? "Dika ?" Aku seperti mendengarkan suara yang tidak asing. Tapi kuenyahkan saja, barangkali itu bukan aku yang dipanggilnya. Akhirnya aku lanjutkan perjalanan bersepeda pagi ini. Karena terlalu terik, akhirnya baru 20 menit saja aku sudah membelokkan kembali sepeda ini ke tempat tinggalku lagi. Memakan bubur ayam yang sudah dibeli di jalan, meminum air putih kemasan, memakan krupuk yang masih renyah untuk dimakan. Sepertinya, hidupku begini-begini saja untuk beberapa bulan belakangan ini. Smartphoneku rasanya menjadi penonton bahan pamer dan ghibah manusia yang ada di dekatku. Dan diriku sendiri semakin tenggelam, larut, dan berarti apapun. Hari-hari yang kosong tidak pernah kuisi selain dengan tidur dan mungkin membaca novel fiksi. Sudah hampir satu lemari khusus buku penuh dengan isi. Mungkin ini salah satunya aku memakai kacamata dengan lensa setebal ini. Aku sendiri, hingga sore hari. Stok bacaku telah habis. Dan sore ini hujan. Sepertinya waktu yang tepat untuk pergi ke toko buku dan membacanya di cafe lantai bawah mall dekat rumah. Aku bergegas memakai jaket dan tentunya membawa kacamata penyelamat hidupku. Untungnya, hujan masih menjadi mula dan belum terlalu lebat untuk menyelinap di dalamnya. "Lia." Seperti petir yang amat besar mendekati badai. Hatiku memanggil sosok wanita yang ada di sela rak buku. Aku tak berani menyapanya. Dan akhirnya aku memutuskan untuk bergegas pergi dari tempat itu. "Kenapa Lia bisa ada di sini. Merubah moodku saja." Batinku menggerutu hingga akhirnya.. "Dika ?" Suaranya tepat ada di belakangku. Wanita ini seperti setan saja, mengikutiku begitu cepat. "Eh Lia. Hm" Aku langsung kikuk berada di depannya. "Berlari mulu dari kehidupanku. Kenapa ?" Lia bertanya padaku. "Enggak. Di luar hujan makanya aku bergegas pulang" Aku menjawabnya dengan gugup. "Tidak usah merasa bersalah. Tidak apa-apa." Dia mengatakan sesuatu yang sudah seribu kali diucapkan. "Tidak. Aku pergi dulu." Langkah kakiku tak kuasa menjadi lambat dan kian cepat meninggalkan legam yang kian pekat. Aku memang salah. Aku bersalah. Tidak akan pernah ada yang dapat menggantikan Lia. Detakku sudah tak lagi normal dan keringat memenuhi pelipisku yang tadinya biasa saja. "Lia. Maaf." Hatiku bergumam. Masih teringat jelas ketika Lia menangis karenaku. Masih teringat jelas betapa bersalahnya aku ketika meninggalkannya begitu saja, disaat dia terkapar bersama sejumlah mesin medis di sampingnya. Masih teringat jelas ketika Lia memohon kepadaku untuk satu hari saja berada bersamanya. Lia, maaf. "Dika, temui aku. Usiaku sudah tidak lagi banyak." Ingatanku masih sempurna tentangnya. Sayang sekali, aku bukan pria yang bisa menerima kenyataan bahwa harus mencintai seorang wanita yang sebentar lagi akan tiada selamanya. Aku menghilang begitu saja. Katakan bahwa aku pria yang jahat Lia. Aku memang seperti itu. Katakan aku bukan manusia yang baik, karena aku sudah tak sanggup melihatmu menderita seperti ini. Dan meninggalkanmu ketika sudah benar-benar membutuhkan Aku. Lia Maaf, bahkan hingga sekarangpun aku masih terjebak dengan segala kebahagiaan kita yang kau pun tak lagi dapat mengulangnya. Andai waktu dapat kuubah. Lia, harusnya aku ada saat kamu membutuhkan kekasihmu. Bukan, aku bukan kekasihmu. Aku hanyalah pria jahat yang jauh dari harapanmu. "Dika, bangun. Jangan lupa hari ini adalah peringatan 1 tahun kepergian Lia." Aku mendengar suara lembut yang membangunkanku. "Dika.." Suara itu kembali muncul. Ya, mama memang berada di kamar ini. Aku terbangun dan bergegas mencari kacamata di meja sampingku dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan bergosok gigi. "Iya ma. Makasih." Aku menjawabnya. Ternyata aku tertidur pulas sepulang dari bersepeda pagi tadi. Hingga saat ini, aku terbangun melihat mama yang sudah menyiapkan banyak barang untuk di bawa ke rumah Almarhumah tunanganku Lia. Lia, terima kasih. Sudah selalu hadir, dalam rasa bersalahku yang tidak pernah mendampingi kala sakitmu. Maaf Lia, jika aku tak dapat menghargai waktu dan terjerumus pada kesibukanku yang sebenarnya adalah untuk membahagiakanmu. Aku sangat menyayangimu, dengan caraku dan melebihi yang engkau tahu. Terima kasih, sudah sesering mungkin datang dalam mimpiku. Tak apa, biarkan aku tetap menyapamu. Selesai.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar