Guru Versus Siswa
Tahun pelajaran baru masih segar terasa di kalangan peserta didik. Hal yang biasanya mengagetkan mereka adalah style mengajar masing - masing guru di sekolah yang baru. Terutama untuk siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA, dimana sebelum menjadi siswa SMP, mereka pada umumnya hanya memiliki satu guru kelas untuk semua mata pelajaran saat SD. Sedangkan di SMA, mereka bingung dihadapkan dengan pola belajar yang melulu berpikir kritis.
Seorang guru sudah pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya. Metode, tehnik, dan media pembelajaran selalu disiapkan untuk menunjang keberhasilan dalam mencapai ketuntasan capaian peserta didiknya, baik dalam ranah pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Semua itu tidak lepas dari usaha untuk mewujudkan pendidikan abad 21, dimana peserta didik harus memiliki tiga komponen penting dalam dirinya, yaitu; karakter, kompetensi, dan literasi. Sebut saja salah satu metode yang sering diterapkan bapak/ ibu guru di sekolah adalah problem based learning. Metode ini dapat merepresentasikan tiga komponen pendidikan abad 21. Mengapa demikian? Karena di dalam proses pembelajarannya, peserta didik belajar untuk bertanggung jawab, toleransi, kerjasama, dan jujur. Peserta didik juga belajar untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, menambah pengetahuan dan pengalaman baru. Pada umumnya, Bapak/Ibu guru menyajikan masalah dalam bentuk pertanyaan yang akan diselesaikan oleh peserta didik baik secara individu maupun berkelompok. Mereka akan mencari informasi – informasi terkait dengan masalah yang ada.
Tugas peserta didik baik tugas di sekolah maupun PR merupakan salah satu hal yang biasa dalam pembelajaran, dimana tugas tersebut dapat dijadikan bahan penilaian kemampuan siswa. Yah walaupun pasti ada pro dan kontra dengan tugas sekolah yang namanya PR. Namun, Saya yakin setiap guru pasti sudah berpikir keras tentang tugas apa yang pantas diberikan untuk peserta didiknya sesuai capaiannya. Tidak ada guru yang memberikan tugas asal - asalan kepada peserta didiknya. Misalnya, tugas membuat rangkuman materi, dengan tugas ini siswa diharapkan membaca dan membuat poin penting dari bacaannya, jika tidak begitu, yakinkah peserta didik bapak/ibu akan membaca dirumah?. Bagaimana dengan menghapal?? Masih adakah bapak/ibu guru yang memberikan tugas itu kepada peserta didiknya?. Sebenarnya sih bagus adanya tugas ini untuk melatih memori peserta didik, namun ada baiknya jika hapalannya di lanjutkan dengan praktik sehari –hari, yah begitu pula dengan tugas – tugas yang lainnya.
Apa yang coba saya paparkan diatas itu dipandang dari sudut seorang guru, bagaimana menurut pandangan peserta didik?. Kadang kita perlu juga tahu apa pendapat mereka tentang learning style yang kita miliki, hal ini sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan learning style mencakup metode, tehnik, dan media yang kita pakai. Kalau oke bisa dilanjutkan, kalau tidak menghasilkan dampak positif yah direvisi.
Jika ditanya soal learning style, tentunya mereka suka dengan guru yang menggunakan media pembelajaran yang kreatif apapun tehnik dan metodenya. Tapi, kalau ditanya tugas, kebanyakan siswa setuju tidak adanya pemberian PR. Mereka merasa dibebankan dengan berbagai macam PR yang diberikan di setiap mata pelajaran. Namun, tidak bisa dipungkiri, seringnya jam mengajar selesai sebelum para peserta didik menyelesaikan tugasnya, maka PR bisa menjadi solusinya. Baiknya, jelaskan kepada siswa, mengerjakan PR ini merupakan bukti rasa tanggung jawab dan disiplin mereka tehadap suatu hal. Biarlah mereka menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya, perkara benar atau salah, nanti didiskusikan bersama di dalam kelas dengan anda,gurunya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar