Lintang
tantangangurusiana
#harike_92
Lintang
Oleh: Nelly Kartina S
Hari ini adalah hari ke tiga Lintang tidak masuk sekolah. Bangku di dekat jendela itu kosong. Entah kemana penghuninya. Bu Aminah sudah mencari informasi pada teman-temannya tapi tidak ada yang tahu Lintang kemana atau apa yang terjadi pada anak yang pendiam tapi cerdas itu.
Bu Aminah merasa ada yang hilang. Suasana kelas terasa hambar. Tidak ada yang dengan sigap mengangkat tangan saat Bu Aminah memberikan pertanyaan. Tidak ada yang dengan sigap membantu saat Bu Aminah atau guru-guru yang lain terlihat kesulitan membawa tas dan buku dari kelas ke ruang guru.
Hari ini Bu Aminah berniat untuk pergi kerumah Lintang. Tiga hari adalah batas waktu maksimal bagi seorang siswa tidak masuk sekolah tanpa memberi kabar.
Sepulang sekolah, Bu Aminah bergegas mengendarai sepeda motor maticnya menyusuri jalan desa menuju ke rumah Lintang. Jalannya masih tanah merah. Jalan ini sengaja di bangun desa sebagai jalan untuk orang- orang turun ke laut. Mereka menyebutnya Jalan Pantai. Di kiri kanan jalan banyak pohon kelapa yang sudah tinggi menjulang. Usia pohon-pohon ini mungkin sudah puluhan tahun.
Rumah Lintang cukup jauh dari rumah- rumah yang lain. Bu Aminah membelokkan motornya ke halaman rumah yang berdinding papan. Rumahnya adalah rumah panggung. Tampak di bawah rumah sabut kelapa yang di tumpuk. Rumah tersebut tampak sepi.
Lintang hanya tinggal berdua dengan Ibunya. Ayahnya sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Perahu kecilnya pecah di gulung ombak. Dan Ayah Lintang baru di temukan setelah tiga hari dilakukan pencarian karena terkendala oleh ombak yang besar. Sehingga tim SAR kesulitan. Jenazahnya ditemukan oleh kapal nelayan pulau sebelah yang mau pulang dari mencari cumi. Ayah Lintang di ketemukan sudah dalam keadaan meninggal dan sudah hanyut jauh dari tempat kejadian.
Sejak itu Lintang kecil hanya hidup berdua dengan Ibunya. Sehari-hari Ibu lintang berjualan makanan di tepi pantai yang menjadi tempat persinggahan sementara nelayan yang mau turun kelaut. Tapi sekarang warung kecil itu tampak tutup.
Bu Aminah menaiki tangga rumah Lintang dan mengetuk pintu.
“ Assalamualaikum....”
Tak ada sahutan dari dalam. Bu Aminah mengulanginya. Mungkin orang di dalam tidak mendengar suaranya. Pikir Bu Aminah.
“ Assalamualaikum, Lintang...”
“ Waalaikumsalam....” terdengar sahutan dari dalam. Suara itu terdengar lemah. Bu Aminah mencoba membuka pintu. Ternyata pintunya memang tidak di kunci.
Sekali lagi Bu Aminah mengucap salam, kemudian Beliau memberanikan diri masuk. Suasana di dalam agak gelap karena tidak ada jendela yang di buka. Di pojok ruangan terlihat tumpukan pukat yang sudah lama tidak digunakan.
“ Assalamualaikum, Bu...”
Bu Aminah berharap Ibu Lintang menjawab salamnya. Jadi dia bisa tahu orangnya ada di mana.
“ Waalaikumsalam...” Terdengar sahutan dari ruang tengah. Tampak seseorang sedang terbaring. Bu Aminah segera mendekatinya. Terlihat Ibunya Lintang terbaring di atas kasur tipis. Disampingnya terlihat ada makanan yang di tutupi dengan mentudong, tutup makanan yang terbuat dari daun lais.
Bu Aminah duduk di sampingnya. Ibu Lintang berusaha untuk bangkit . Tapi segera di cegah Bu Aminah.
“ Sudah Bu, enggak apa-apa Ibu tidur saja. Maaf kedatangan saya mengganggu.” Kata Bu Aminah.
“ Tidak Bu, maaf saya lagi sakit. Sudah berapa hari ini demam. Ibu...Gurunya Lintang?” Ibu Lintang berusaha untuk bangkit dan menyenderkan tubuhnya di dinding di sampingnya.
“ Iya Bu, saya khawatir sudah tiga hari Lintang tidak masuk. Sekarang Lintang di mana ya, Bu?” Bu Aminah melihat kearah belakang mencari keberadaan Lintang.
“ Lintang tadi pagi pamit ke laut, Bu...katanya mau mencari gamat. Mungkin sebentar lagi pulang. Sudah saya larang, Bu, saya sudah memintanya untuk berangkat ke sekolah,maaf kan Lintang, Bu...” tampak ada air mata menggenang di sudut mata wanita itu.
Sebenarnya usia Ibu Lintang masih muda mungkin sekitar 35 tahunan tapi karena tubuhnya kurus dan jarang berdandan maka terlihat seperti sudah agak tua. Mungkin tuntutan hidup membuatnya tidak punya waktu untuk mengurus dirinya.
Bu Aminah hanya terdiam mendengar jawaban Ibu Lintang. Bu Aminah merasa kasihan. Anak seumur Lintang sudah harus bergumul dengan alam demi untuk bertahan hidup. Dapat di bayangkan kalau Ibunya sakit berarti tidak ada penghasilan. Mungkin itulah yang di pikirkan Lintang.
Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki. Kemudian pintu dapur terbuka.
Lintang nampak terkejut melihat kehadiran Bu Aminah di rumahnya. Dia seperti mau kembali keluar. Tapi Bu Aminah menyapanya dengan lembut.
“ Lintang, mau kemana lagi? Sini Nak...” Mendengar itu Lintang menyurutkan langkahnya untuk keluar dan membalikkan badannya menuju ke arah Bu Aminah dan Ibunya.
“ Sini duduk dekat Ibu...” Bu Aminah tersenyum dan menepuk lembut bahu Lintang. Perlahan wajah lintang tertunduk . Mungkin dia merasa bersalah dan takut di marahi Bu Aminah karena tidak masuk sekolah.
“ Lintang dari mana? Kok tidak masuk sekolah...teman-temannya pada kangen sama Lintang.” Bu Aminah menatap Lintang yang terus tertunduk. Tubuh Lintang terlihat hitam terbakar matahari.
“ Maafkan Lintang, Bu...Lintang tidak bisa masuk sekolah. Ibu sakit...” suaranya parau. Dia seperti menahan gejolak perasaannya.
Bu Aminah tahu, Lintang ingin tetap sekolah. Seperti cita-citanya yang ingin menjadi Insinyur biar bisa membuat jembatan yang menghubungkan pulau kecilnya dengan Ibu Kota Indonesia.
“ Iya, enggak apa-apa. Tapi nanti kalau Ibu udah sembuh, Lintang masuk sekolah lagi ya.” Bu Aminah mengusap rambut lintang yang ikal.
“ Oh iya, Ibu sudah di bawa berobat?”
“ Sudah, Bu kemarin Bu bidan sudah ke sini. Ibu sudah di beri obat.” Kata lintang sambil membuka tutup makanan yang ada di depannya.
“ Ibu belum makan? Aku siapin ya , Bu...” tampak dengan cekatan dia mengambil piring dan menyendok kan makanan untuk ibunya.
“ Ibu mau makan, Bu?” Lintang menoleh ke arah Bu Aminah.
“ Tidak Lintang, terima kasih. Ibu sudah makan tadi di sekolah. Ini yang masak Lintang?” tanya Bu Aminah sambil melihat sayur daun kelor dan ikan goreng di depannya.
“ Iya Bu...sayurnya aku petik di samping rumah. Ikannya hasil aku memancing kemarin.” Jawab Lintang.
Bu Aminah semakin salut dengan Lintang. Dia sudah bisa menjadi anak yang bertanggung jawab menjaga ibunya. Di saat anak- anak yang lain mungkin hanya bisa makan dan bermain.
Bu Aminah juga sudah sering mendengar dari orang-orang kampung kalau Lintang sering menerima upah untuk memetik buah kelapa. Nanti upahnya dia di kasih kelapanya. Kemudian kelapa-kelapa itu di kipasnya dan di buat minyak goreng oleh Ibunya.
“ Oh Iya, Lintang...ini ada titipan dari teman-teman dan guru di sekolah. Semoga bisa di gunakan untuk Ibu berobat dan keperluan Lintang. Ibu mohon di terima ya...”
“ Iya, Bu. Terima kasih Bu...kalau Ibu sudah sembuh nanti Lintang pasti masuk sekolah.” Matanya berkaca-kaca. Keinginan untuk tetap sekolah terlihat begitu kuat. Buku-buku sekolahnya tampak di ujung kasur ibunya. Walaupun dia tidak ke sekolah tapi setiap ada kesempatan dia selalu belajar sendiri di rumahnya.
“ Semoga kamu kuat dan bisa mewujudkan cita-citamu, Nak.” Kata Bu Aminah dalam hatinya. Beliau merangkul pundak anak lelaki kecil yang selalu tegar menghadapi sulitnya kehidupan itu.
Belitung, 150420
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Mantap bunda, smg Lintang bs mewujufkam cita2nya
Aamiin...terima kasih bunda
Cerpennya keren Bu. Terharu dg tokoh Lintang yg msh kecil sdh hrs menanggung beban hidup yg berat.
Terima kasih Bu...iye sedih rase e
Keren abs cerpennya bu, penggambaran ceritanya detail
Alhamdulillah...terima kasih Bu
Ah.. Lintang. Jadi ingat Ikal, Mahar dan lainnya.
Satu nama beda cerita...sama -sama dari negeri laskar pelangi
Mantap jiwaaa...cerpennye
Terima kasih ibu rica sayang...
Tulisan yang menginspirasi bu..Tanggung jawab yg diemban seorang anak yg masih kecil terhadap ibunya..
Iya Bu...terima kasih bu
Jadi terharu, semoga ibu Lintang cepat sembuh
Aamiin...terima kasih bu
Potret anak pinggiran ..beberapa siswaku juga begitu.. Ujian kehidupan yang berat harus di jalani..
Iya Bu...masih banyak lintang-lintang yang lain...
Sangat inspratf
Terima kasih Bu